Muhammet Emin Avundukluoğlu
30 Juni 2021•Update: 30 Juni 2021
ANKARA
Seorang anggota parlemen Turki pada Selasa mendesak Mesir untuk membatalkan hukuman mati yang dijatuhkan kepada anggota Ikhwanul Muslimin.
“Pelaksanaan hukuman mati ini akan memberikan pukulan besar bagi reputasi Mesir yang rusak di arena internasional,” Mustafa Yeneroglu, seorang anggota parlemen dari Istanbul dari Partai Demokrasi dan Kemajuan (DEVA) Istanbul, mengatakan kepada wartawan.
“Ini akan memberikan pukulan besar lainnya bagi perdamaian sosial. Langkah ini akan menyebabkan luka yang tidak dapat diubah dan tidak dapat diperbaiki dalam hati nurani publik. Keputusan yang salah ini harus dibatalkan sesegera mungkin,” ujar Yeneroglu.
Dia menambahkan bahwa para pemimpin dan anggota Ikhwanul Muslimin dihukum dalam persidangan yang direkayasa.
Turki dan Mesir harus membuka babak baru dalam hubungan bilateral, seru dia.
Turki harus bekerja melawan hukuman mati bersama dengan Dewan Eropa, Uni Eropa, dan PBB, urai Yeneroglu.
Pada 14 Juni, pengadilan sipil tertinggi Mesir menguatkan hukuman mati terhadap 12 anggota Ikhwanul Muslimin, termasuk pemimpin senior Mohamed al-Beltagy, Safwat Hegazy, Abdel-Rahman el-Bar, Osama Yassin (mantan menteri Mesir), dan Ahmed Aref.
Pada Agustus 2013, tentara dan polisi membubarkan protes di Kairo yang digelar para pendukung Presiden Mohamed Morsi, yang digulingkan pada Juli.
Menurut Dewan Nasional Hak Asasi Manusia Mesir, 632 orang tewas, termasuk delapan petugas polisi, ketika pasukan keamanan membubarkan protes pro-Morsi di Rabaa al-Adawiya dan alun-alun al-Nahda Giza.
Namun, kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan jumlah kematian yang sebenarnya jauh lebih besar.