Regional

Tuntutan genosida picu reaksi beragam di Myanmar

Banyak yang berharap Aung San Suu Kyi mencari kebenaran, bukan membantah tuduhan genosida di pengadilan internasional

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 06.12.2019
Tuntutan genosida picu reaksi beragam di Myanmar Ketua Penasehatan Negara Myanmar Aung San Suu Kyi. (Anton Raharjo - Anadolu Agency)

Yangon

Kyaw Ye Lynn

YANGON, Myanmar 

Sebuah papan reklame yang menampilkan Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi berbagi tawa dengan dua jenderal militer muncul di pusat Kota Hpa-An, ibu kota Negara Bagian Karen, selama beberapa hari pada November, untuk menunjukkan dukungan kepada aktivis demokrasi itu melawan tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

Reklame itu diganti menjadi foto Aung San Suu Kyi berpakaian tradisional Karen pada 29 November, menyusul meningkatnya kritik di media sosial.

Saw Kyaw Thu, anggota partai berkuasa Liga Nasional untuk Demokrasi, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sebuah rapat umum akan digelar pada 11 Desember sebagai penghargaan atas keputusan Suu Kyi mengemban tanggung jawab.

"Dengan mengganti fotonya, kami ingin mengirim pesan kepada militer bahwa dia tidak akan pernah menikammu dari belakang, jadi tolong bekerja sama dengannya dalam memajukan negara kita," ujar Kyaw Thu melalui sambungan telepon, Senin.

Dia mengatakan reklame pertama dihapus setelah para kritikus memperingatkan bahwa gambar itu akan membuat masyarakat internasional salah paham dan mengira bahwa Suu Kyi akan melindungi jenderal militer yang dituduh melakukan kekejaman terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Politisi itu mengatakan komunitas etnis Karen, seperti kelompok etnis minoritas lainnya termasuk Muslim Rohingya, telah menderita penganiayaan militer selama beberapa dekade.

"Jangan salah sangka. Kita mendukungnya, karena kita percaya dia adalah pemimpin yang paling kita percayai," tambah dia. 

Myanmar menghadapi tuntutan hukum di ICJ atas kekejaman terhadap Muslim Rohingya, yang diajukan oleh Gambia sebagai dukungan terhadap Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Aung San Suu Kyi mengatakan dalam sebuah pernyataan bulan lalu bahwa dia, sebagai menteri luar negeri, akan melawan gugatan tersebut untuk membela kepentingan negara.

Sementara Myanmar bersiap untuk melawan tuduhan genosida di Belanda, Suu Kyi mendapatkan dukungan yang luar biasa di dalam negeri.

Menjelang kunjungan Suu Kyi ke Den Haag untuk sidang audiensi pertama di ICJ pada 10 Desember, para pendukung setianya telah mengorganisir serangkaian rapat umum di Kota Yangon dan sejumlah kota besar lainnya untuk menunjukkan dukungan mereka kepada aktivis pro-demokrasi itu.

Beberapa organisasi lokal merilis pernyataan yang mendukung Suu Kyi dalam perjuangan melawan tuduhan itu.

Sao Khun Sai, wakil ketua Partai Progresif Negara Bagian Shan, mengatakan kepada Anadolu Agency bulan lalu bahwa pertarungan di Istana Damai jelas merupakan cara yang paling baik untuk mencari kebenaran.

"Ini adalah cara yang paling cerdas untuk mengungkap kebenaran sedemikian rupa karena ini adalah masalah yang sangat kompleks," ujar dia.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine telah beberapa kali mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh tentara Myanmar sejak 1960-an.

Aung San Suu Kyi membenarkan tindakan keras tersebut sebagai kontra-pemberontakan terhadap Tentara Keselamatan Arakan Rohingya (ARSA), yang diduga terlibat dalam serangan mematikan terhadap pos-pos polisi di negara bagian Rakhine.

Langkah pertama mencari keadilan

Bagi sejumlah kelompok pemberontak etnis, gugatan tersebut dipandang sebagai langkah pertama dalam mencari keadilan bagi mereka yang menderita penganiayaan militer selama beberapa dekade.

Aliansi Utara - koalisi pemberontak Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA), Tentara Arakan, dan Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar - termasuk di antara mereka yang menyambut baik gugatan hukum terhadap Myanmar.

Kelompok-kelompok itu mengatakan mereka siap bekerja sama dan mengumpulkan bukti kejahatan perang oleh militer di Negara Bagian Shan dan Negara Bagian Rakhine pada 2009-2019 dan mendukung penuh organisasi internasional yang telah menangani masalah ini dengan Mahkamah Pidana Internasional dan ICJ.

Mai Aik Kyaw, juru bicara TNLA, mengatakan bahwa mereka khawatir Suu Kyi akan membuat “selimut” untuk menutup kasus ini, seperti yang dia lakukan sebelumnya.

"Jika dia hanya mengandalkan fakta yang diberikan oleh militer, dia tidak akan bisa menyelamatkan reputasinya," tutur Mai Aik Kyaw kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon, Rabu.

"Jadi kami ingin menyarankan dia untuk tidak membela para penjahat perang," tambah dia.

Sementara para pelaku akan menghadapi tuntutan hukum internasional atas kekejaman mereka, kardinal pertama Myanmar Charles Bo pekan ini mengimbau masyarakat internasional untuk mempertimbangkan situasi rakyat Myanmar.

"Saya mendesak masyarakat internasional untuk tidak secara tidak sengaja menghukum mereka yang tidak bertanggung jawab, dan tidak menghukum rakyat Myanmar secara keseluruhan," ungkap dia dalam siaran pers, Minggu.

Mai Aik Kyaw tidak berkomentar lebih lanjut tentang gugatan yang dihadapi Myanmar, tetapi mendesak rakyat Myanmar untuk menerima kebenaran.

"Agar perdamaian dapat diatasi, rekonsiliasi dan pengakuan kebenaran diperlukan," tambah dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.