Hayati Nupus
06 Agustus 2019•Update: 07 Agustus 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Thailand tengah mempersiapkan aturan agar rumah sakit dapat meresepkan ganja untuk pasien.
Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan langkah ini diambil agar ganja menjadi obat alternatif yang tersedia untuk umum.
“Pekan ini saya akan menandatangani perintah untuk mengizinkan rumah sakit yang dikelola kementerian agar dapat meresepkan ekstrak minyak [mariyuana],” ujar dia, lansir Bangkok Post.
Anutin mengatakan ganja memiliki manfaat medis, merujuk pada penelitian yang kian marak soal penggunaan tanaman untuk obat.
Tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD) dalam ganja adalah senyawa aktif yang dapat memberikan terapi.
THC merupakan pelemas otot dengan sifat anti-emetik, meski dalam dosis tinggi dapat menimbulkan kantuk dan keracunan.
Sedang CBD bersifat psikoaktif yang bermanfaat untuk mengobati epilepsi.
Lampu hijau penggunaan medis ganja di rumah sakit datang setelah Organisasi Farmasi Pemerintah (GPO) pada Sabtu lalu mengumumkan bahwa mereka akan menyerahkan 6.500 botol ekstrak minyak ganja kepada menteri.
Berupa 4.500 botol berisikan konsentrat THC, 500 botol CBD dan 1.500 lainnya kombinasi CBD dan THC dengan rasio 1:1.
Minyak buatan GPO itu dikirimkan ke Departemen Layanan Medis untuk didistribusikan ke pasien.
Kepala Departemen Somsak Akkslip mengatakan pasien kanker stadium akhir akan menjadi penerima pertama formula CBD-THC pada akhir bulan ini, sebagai bagian dari penelitian National Cancer Institute.