Regional

PBB: Kekerasan di Rakhine, Chin kian memburuk

Pertempuran antara militer dan Tentara Arakan terus berlangsung, sementara pemerintah memutus akses internet di sejumlah wilayah

Hayati Nupus   | 19.02.2020
PBB: Kekerasan di Rakhine, Chin kian memburuk Ilustrasi: Anak-anak Rohingya di posko pengungsian. (Foto file-Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Kekerasan terhadap warga sipil kian memburuk di negara bagian Rakhine dan Chin, seiring terjadinya pertempuran antara militer dan Tentara Arakan, ujar PBB.

Kekerasan yang terjadi itu berupa pembunuhan dan pengusiran paksa, sekaligus pemutusan akses internet yang menyebabkan kesulitan komunikasi.

“Warga sipil, termasuk anak-anak, terus menanggung beban dari konflik yang semakin meningkat ini,” ujar empat pelapor khusus yang ditunjuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia, kutip the Myanmar Times hari ini.

Dengan adanya internet, warga sipil dapat melacak keberadaan kelompok bersenjata dan menghindari potensi bentrokan.

Oleh karena itu, lanjut PBB, larangan internet memiliki konsekuensi serius terhadap perlindungan warga sipil dan hak untuk hidup.

“Pemutusan internet tidak dapat dibenarkan dan harus segera diakhiri,” ujar dia.

Sejak 3 Februari lalu, Kementerian Komunikasi Myanmar meminta agar operator telekomunikasi menangguhkan layanan internet di lima kota di Rakhine dan Chin selama tiga bulan.

Alasan kementerian, demi menjaga keamanan dan kepentingan umum.

Sementara akses internet di empat kota lainnya di utara Rakhine sudah ditutup sejak Juni 2019.

Langkah ini memperoleh kecaman dari kelompok HAM dan bisnis.

Akhir Desember lalu, para aktivis berunjuk rasa meminta pengembalian akses internet di Taman Mahabandoola Yangon.

Lembaga masyarakat sipil juga berulang kali memperingatkan bahwa pemutusan akses internet membahayakan kehidupan dan keselamatan masyarakat, sekaligus memperburuk krisis kemanusiaan.

Pertempuran dengan menggunakan senjata berat itu terjadi di Rakhie dan desa-desa Muslim di Kyauktaw, Paletwa, Rathedaung dan Buthidaung.

Catatan PBB, pertempuran itu mengakibatkan 1.100 mengungsi dalam 10 hari terakhir.

Selain itu, setidaknya tujuh warga sipil tewas, termasuk tiga Muslim Rakhine utara di Buthidaung.

Sementara itu 50 orang terluka, termasuk anak-anak Khami yang diserang di sekolah dasar di Desa Kha Mawe Cahung, Buthidaung, 13 Februari lalu.

Sejauh ini, belum ada respon pemerintah Myanmar atas pernyataan PBB itu.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın