Regional

NGO: 780 orang tewas sejak junta militer di Myanmar

Seorang tentara berpangkat Mayor yang membelot dari militer Myanmar mulai melatih anggota baru untuk melawan rezim kudeta

Devina Halim   | 10.05.2021
NGO: 780 orang tewas sejak junta militer di Myanmar Seorang pengunjuk rasa menunjukkan peluru yang ditembakkan pasukan keamanan dalam protes terhadap kudeta militer di Mandalay, Myanmar pada 27 Maret 2021. (Stringer - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) mencatat, 780 orang tewas oleh pasukan junta sejak kudeta militer terjadi pada 1 Februari 2021 hingga 9 Mei 2021.

Dalam laporannya pada Minggu malam, AAPP mengumumkan korban tewas bertambah empat orang.

Sebanyak dua orang dari Shwebo dan Myinmu di Sagaing tewas pada 9 Mei, sementara dua korban lainnya asal Kotapraja Kani, Sagaing, tewas pada Sabtu dan didokumentasikan pada Minggu.

AAPP juga melaporkan sebanyak 3.826 orang sedang ditahan dan 84 orang di antaranya dijatuhi hukuman.

“Tidak ada aturan hukum sejak kudeta, ada keadaan panik karena nyawa warga sipil dan properti pribadi dapat dihancurkan dan dijarah kapan saja oleh preman bersenjata,” ungkap AAPP dalam keterangannya.

Menurut AAPP, pelanggaran hukum yang dilakukan pasukan junta semakin parah karena komunitas internasional tidak mengambil langkah yang efektif.

Pada Sabtu malam, penyair Khat Thi alias U Zaw Tun ditangkap bersama istrinya yang ikut dalam Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM), dan anggota rumah lain di Kota Shwebo, Sagaing.

Khat Thi kemudian tewas di rumah sakit setelah disiksa di pusat interogasi.

Selain itu, AAPP melaporkan, konflik juga terus terjadi di Negara Bagian Kachin.

Seorang perempuan tewas ditembak di bagian kepala saat bentrok antara pasukan junta dengan Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) di sekitar Desa War Shawng, Wine Maw, Kachin.

“Proses perdamaian telah dirusak oleh pasukan junta yang kejam, kelompok etnis sekali lagi merasakan beban perang saudara,” ungkap AAPP.


—Latihan untuk melawan rezim kudeta

Seorang tentara yang membelot dari militer Myanmar mulai melatih anggota baru untuk melawan rezim kudeta pada Sabtu, sebagaimana dilaporkan media lokal Myanmar Now.

Tentara bernama Mayor Hein Thaw Oo membelot dari Light Infantry Division 99 di pusat kota Meiktila pada akhir Maret setelah mengabdi di militer selama lebih dari 20 tahun.

Peserta latihan tersebut berusia 20-35 tahun yang baru-baru ini melarikan diri dari berbagai kota di Myanmar di tengah kampanye pembunuhan massal dan teror oleh militer terhadap mereka yang melawan pemerintahan junta.

Para peserta dilatih untuk bertarung serta memberikan pertolongan pertama di medan perang, pelajaran bahasa Inggris, kursus komputer dan kejuruan.

Adapun jumlah anggota serta lokasi latihan tidak dapat diungkapkan karena alasan keamanan.

“Kami tidak akan menerima pembunuhan yang terang-terangan dan tidak perlu terhadap warga sipil tak bersalah,” kata Mayor Hein ketika memulai latihan.

“Orang-orang juga tidak akan menerimanya. Mereka yang berada dalam pasukan jahat akan mati pada waktunya,” lanjut dia.

Hein menuturkan, dia siap untuk bergabung dengan organisasi mana pun yang berjuang demi negara tanpa kediktatoran.

Menurut Hein, aliansi dengan sejumlah organisasi telah dibentuk.

Sebelumnya, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) pro-demokrasi Myanmar telah bernegosiasi dengan kelompok etnis bersenjata dengan tujuan membentuk tentara federal untuk melawan rezim kudeta.

Kemudian, pada 5 Mei, mereka mengumumkan pembentukan Angkatan Pertahanan Rakyat.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın