Regional

Jepang beri bantuan tambahan USD17 juta untuk Rohingya di Bangladesh

Dana tambahan akan digunakan dalam pengelolaan kamp-kamp pengungsi Rohingya dan pemberdayaan masyarakat tuan rumah

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 26.02.2020
Jepang beri bantuan tambahan USD17 juta untuk Rohingya di Bangladesh Ilustrasi. (Foto file-Anadolu Agency)

Dhaka

SM Najmus Sakib

DHAKA, Bangladesh 

Jepang mengumumkan bantuan tambahan sebesar USD17 juta untuk minoritas Rohingya Myanmar yang mengungsi di Bangladesh.

Kedutaan Jepang di Dhaka pada Selasa mengatakan bahwa dana tambahan juga akan digunakan untuk pemberdayaan komunitas tuan rumah di kota Cox's Bazar.

"Bantuan tersebut mencakup pengelolaan lokasi kamp-kamp pengungsi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan tempat tinggal, perlindungan anak, fasilitas air, sanitasi dan kebersihan (WASH), layanan dan pelatihan medis, rehabilitasi lingkungan, keterampilan hidup dan peningkatan mata pencaharian dan peningkatan gizi," kata pernyataan itu.

Menurut kedutaan, pemerintah Jepang mengambil keputusan tersebut pada 30 Januari tahun ini.

Sejak gelombang besar warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh pada Agustus 2017, Jepang telah memberikan dana sekitar USD95 juta kepada organisasi internasional dan organisasi non-pemerintah, menjadikan total saat ini sebesar USD112 juta.

Pemerintah Jepang akan memberikan bantuan di Cox's Bazar melalui badan-badan PBB seperti UNHCR, IOM, FAO, UNICEF dan berbagai organisasi lainnya.


- Komunitas yang teraniaya

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.