Regional

Indonesia imbau warganya di Myanmar pulang ke tanah air

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah mengatakan WNI diimbau untuk pulang dengan memanfaatkan penerbangan komersial yang saat ini masih tersedia

Erric Permana   | 05.03.2021
Indonesia imbau warganya di Myanmar pulang ke tanah air Demonstran berhadapan dengan polisi anti huru hara selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar pada 4 Maret 2021. (Stringer - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Kedutaan Besar Indonesia di Yangon mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) beserta keluarganya yang berada di Myanmar dan tidak memiliki keperluan untuk kembali ke tanah air.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah mengatakan WNI diimbau untuk pulang dengan memanfaatkan penerbangan komersial yang saat ini masih tersedia.

Sementara untuk WNI yang masih berada di Myanmar untuk tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing, menghindari bepergian termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan mendesak.

"Kemlu dan KBRI Yangon terus memantau perkembangan situasi di Myanmar. Saat ini dipandang belum mendesak untuk melakukan evakuasi WNI," ujar Faizasyah kepada Anadolu Agency melalui pesan singkat pada Jumat.

Faizasyah menyatakan memperhatikan situasi terakhir saat ini KBRI Yangon menetapkan status siaga II.

Sebelumnya, NGO pengawas tahanan politik di Myanmar menyampaikan lebih dari 50 tewas dan hampir 1.500 orang telah ditangkap sehubungan dengan kudeta militer sejak 1 Februari hingga 1 Maret 2021.

Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) melansir sampai dengan 3 Maret, total 1.498 orang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman sehubungan dengan kudeta militer.

“Hingga saat ini, lebih dari 50 orang tewas terbunuh karena kekerasan dan penumpasan sewenang-wenang,” ujar AAPP dalam pernyataannya di Myanmar pada Kamis.

AAPP juga mengatakan sebanyak 1.192 orang masih dipenjara atau menghadapi tuntutan, termasuk 4 orang yang telah divonis.

“AAPP memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang mengorbankan nyawa dan kebebasannya untuk memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia,” ujar AAPP.

AAPP mengungkapkan meskipun junta Myanmar melancarkan aksi “terorisme” terhadap pengunjuk rasa, para demonstran terus melanjutkan protes damai mereka terhadap kudeta militer di seluruh negeri.

AAPP mengatakan militer melancarkan serangan kepara pengunjuk rasa damai di Yangon, Mandalay, Pyin Oo Lwin, Myingyan, Monywa, Mawlamyine, Loikaw, Yay, Myitkyina, Hpakant, Pyay, Pathein, Taung Twin Gyi, Shwebo, Myan Aung dan Salin.

“Selama penumpasan, warga berhadapan dengan granat kejut, bom asap, gas air mata, peluru karet, dan peluru tajam,” terang AAPP.

Utusan PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener mencatat 38 orang tewas pada Rabu menyusul protes massa antikudeta di Myanmar.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.