Wakil Presiden Turkiye Cevdet Yilmaz menegaskan bahwa industri pertahanan dalam negeri yang kuat merupakan syarat utama bagi suatu negara untuk menjalankan kebijakan luar negeri secara independen.
Menurut dia, negara yang bergantung pada kemampuan militer pihak lain tidak akan mampu mengambil keputusan strategis secara sepenuhnya berdaulat.
"Jika ingin menjalankan kebijakan luar negeri yang independen, Anda harus memiliki industri pertahanan. Jika keamanan Anda bergantung pada instrumen yang disediakan pihak lain, Anda tidak dapat menjalankan kebijakan luar negeri yang independen," kata Yilmaz dalam wawancara langsung di stasiun televisi 24 TV, Minggu.
Menyinggung perkembangan global, Yilmaz mengatakan dunia sedang memasuki masa transisi yang ditandai dengan perubahan keseimbangan kekuatan, melemahnya lembaga-lembaga internasional, meningkatnya konflik, dan bertambahnya ketidakpastian.
Menurut dia, NATO juga terdampak oleh perubahan tersebut. Ia mengingatkan bahwa aliansi itu sebelumnya sempat disebut mengalami "mati otak".
"Namun, KTT NATO terakhir menunjukkan bahwa anggapan itu tidak benar. NATO, dalam arti tertentu, menunjukkan bahwa mereka kembali memperoleh momentum melalui KTT Ankara," ujarnya.
Yilmaz menambahkan bahwa negara-negara Eropa kini semakin memprioritaskan sektor pertahanan. Ia menyinggung program SAFE Uni Eropa senilai 800 miliar euro serta meningkatnya belanja pertahanan di berbagai negara Eropa.
Yilmaz menilai KTT NATO di Ankara berlangsung sukses karena seluruh pemimpin negara anggota hadir, yang menunjukkan kemampuan aliansi tersebut untuk tetap bersatu.
Ia mengatakan pertemuan itu mencerminkan keseimbangan baru antara Eropa dan Amerika Serikat di dalam NATO, dengan peran Eropa diperkirakan akan terus menguat.
"Kini sudah jelas bahwa pilar Eropa akan terus semakin kuat. Eropa bergerak menuju pembagian hampir separuh beban pertahanan, meski belum mencapai tingkat Amerika Serikat," katanya.
Menurut Yilmaz, KTT NATO juga menunjukkan semakin besarnya peran industri pertahanan, ditandai dengan dimasukkannya Forum Industri Pertahanan secara resmi ke dalam agenda KTT untuk pertama kalinya.
Ia mengatakan Turkiye memperoleh keuntungan karena lebih awal berinvestasi di sektor tersebut di bawah kepemimpinan politik Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Yilmaz menyebut lebih dari 80 persen peralatan yang digunakan Angkatan Bersenjata Turkiye diproduksi di dalam negeri. Selain itu, Turkiye kini menjadi eksportir produk pertahanan terbesar ke-11 di dunia dan diperkirakan segera masuk dalam 10 besar.
Ia mengatakan ekspor industri pertahanan Turkiye melampaui 10 miliar dolar AS tahun lalu dan telah menembus lebih dari 11 miliar dolar AS dalam periode 12 bulan terakhir.
Yilmaz juga menyoroti besarnya kontribusi tenaga kerja muda di sektor tersebut.
"Kami mempekerjakan sekitar 100.000 orang dan rata-rata usia pekerja kami 34 tahun. Di negara-negara Barat, rata-rata usianya di atas 50 tahun. Karena itu, masa depan ada di tangan kami. Masa depan ada di tangan Turkiye," ujarnya.
Yilmaz mengatakan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte secara langsung memuji penyelenggaraan KTT NATO di Ankara.
"Izinkan saya menyampaikan apa yang dikatakan Sekjen Rutte kepada saya secara langsung, 'Negara tuan rumah berikutnya menghadapi tugas yang sangat berat. Anda telah menetapkan standar yang sangat tinggi'," katanya.
Menurut Yilmaz, penyelenggaraan KTT tersebut meningkatkan visibilitas internasional Turkiye sekaligus memperkuat reputasinya di tingkat global berkat koordinasi berbagai lembaga dan pejabat pemerintah.
Ia juga menyebut tahun 2026 sebagai "tahun konferensi tingkat tinggi" bagi Turkiye dengan mengacu pada Antalya Diplomacy Forum, KTT Pemimpin Organisasi Negara-Negara Turkik yang akan datang, serta Konferensi Perubahan Iklim COP31.
Menurut dia, menjadi tuan rumah berbagai forum internasional di bidang keamanan, diplomasi, dan lingkungan semakin memperkuat posisi Turkiye sebagai aktor penting di tingkat global.
Menanggapi pertanyaan mengenai senjata api buatan Turkiye yang diberikan sebagai cendera mata kepada para pemimpin peserta KTT, Yilmaz mengatakan beberapa negara tidak dapat membawa pulang hadiah tersebut karena aturan hukum di negara masing-masing.
"Sepengetahuan saya, beberapa negara tidak dapat membawanya karena ketentuan hukum domestik mereka. Ini adalah KTT keamanan sehingga hadiah yang diberikan juga sesuai dengan tema tersebut," katanya.
Ia juga memuji Kompleks Kepresidenan di Ankara yang dinilai memiliki fasilitas memadai untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT dan mendapat apresiasi dari delegasi asing.
Yilmaz mengatakan KTT berlangsung sukses tanpa kendala berarti dan mendapat tanggapan positif dari para pemimpin, jurnalis, maupun petugas pendukung.
"Ini adalah KTT yang sangat sukses tanpa satu pun insiden," ujarnya.
Menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai sanksi terhadap Turkiye dan kemungkinan pengiriman jet tempur F-35, Yilmaz kembali menegaskan penolakan Ankara terhadap pemberlakuan sanksi di antara sesama anggota NATO.
"Tidak boleh ada sanksi di antara sekutu, begitu pula pembatasan perdagangan. Sayangnya, Turkiye telah menghadapi berbagai sanksi dan hambatan, baik yang terbuka maupun terselubung," katanya.
Menurut dia, pembatasan tersebut justru memperkuat kemampuan industri pertahanan dalam negeri Turkiye.
"Kami kini berada pada tahap mengekspor produk ke negara-negara yang dulu pernah membatasi kami. Produk yang dahulu tidak bisa kami beli meski siap membayar, kini justru kami jual kepada negara lain," ujarnya.
Mengacu pada pernyataan Trump, Yilmaz mengatakan Presiden AS itu telah menyampaikan secara tegas bahwa "kami tidak bisa menjatuhkan sanksi kepada sahabat kami."
Ia juga menyoroti hubungan Trump dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
"Saya percaya hubungan yang dibangun dengan presiden kami sangat penting. Ia menunjukkan pendekatan yang sangat selaras. Ia sangat menghormati presiden kami dan telah berulang kali menyampaikan hal itu."
"Ia juga telah menunjukkan kemauan politiknya secara jelas. Tahap berikutnya akan kita ikuti bersama. Kini bola berada di tangan pemerintahan AS. Mereka tentu akan melakukan apa yang diperlukan. Ketika para jurnalis bertanya kepada presiden kami mengenai hal ini, beliau mengatakan, 'Terus ikuti perkembangan kami.' Karena itu, saya yakin akan ada kemajuan," kata Yilmaz.
Yilmaz mengatakan meningkatnya risiko global telah mendorong kenaikan belanja pertahanan di berbagai negara.
"Mengapa belanja pertahanan meningkat begitu besar di seluruh dunia? Karena risiko terus bertambah, baik di tingkat regional maupun global. Ini bukan masa ketika Anda bisa mengandalkan niat baik pihak lain atau lembaga internasional. Anda harus memperkuat kemampuan sendiri," katanya.
Ia menambahkan bahwa investasi Turkiye di sektor pertahanan berkaitan langsung dengan upaya menjalankan kebijakan luar negeri yang independen.
"Ketika saya berbicara tentang kemandirian, yang saya maksud bukanlah isolasi. Yang saya maksud adalah kemampuan mengambil keputusan sendiri dan berpartisipasi dalam proses internasional berdasarkan kepentingan sendiri. Syukurlah, Turkiye telah mencapai tahap itu," ujarnya.
Yilmaz juga menegaskan bahwa investasi di industri pertahanan turut mendorong terbentuknya ekonomi berbasis pengetahuan dengan nilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menjawab pertanyaan mengenai makna simbolis penyambutan peserta KTT dengan penampilan Mehter, Yilmaz mengatakan pertunjukan tersebut mencerminkan warisan sejarah dan identitas nasional Turkiye.
"Hal itu menunjukkan betapa kuat akar sejarah negara kami, betapa panjang sejarah angkatan bersenjata kami, dan bahwa negara kami mewakili sebuah peradaban besar. Itu merupakan momen yang bermakna untuk menunjukkan kepercayaan diri dan identitas kami," katanya.
Ia menambahkan bahwa pengakuan terhadap warisan sejarah akan meningkatkan penghormatan dunia internasional terhadap suatu negara.
"Negara yang mengingkari masa lalunya atau tidak memiliki akar sejarah tidak akan banyak memperoleh penghormatan. Sebaliknya, jika Anda memiliki sejarah panjang dan peradaban yang kuat, Anda akan lebih dihormati. Syukurlah kami memiliki sejarah dan peradaban itu, dan kami memiliki kesempatan untuk menunjukkannya," kata Yilmaz.
news_share_descriptionsubscription_contact
