Harun Kutbe, Seyit Kurt
14 Juli 2026•Update: 14 Juli 2026
Turkiye telah memperkuat lembaga negara dan kapasitas keamanannya secara signifikan dalam satu dekade sejak upaya kudeta 15 Juli 2016 berhasil digagalkan.
Wakil Presiden Turkiye Cevdet Yilmaz mengatakan reformasi yang dilakukan selama 10 tahun terakhir membuat negara lebih siap menghadapi ancaman baru sekaligus memperkuat kemampuan dalam mengelola krisis.
Yilmaz menyampaikan hal itu dalam simposium bertajuk "15 Juli pada Tahun ke-10" yang diselenggarakan Yayasan Penelitian Politik, Ekonomi, dan Sosial (SETA) di Ankara.
Pada 15 Juli 2016, anggota Organisasi Teroris Fetullah (FETO) berupaya menggulingkan pemerintahan Turkiye melalui kudeta militer yang berpusat di Ankara dan Istanbul.
Para pelaku kudeta melepaskan tembakan ke arah warga sipil, berbalik melawan komandan mereka, serta membombardir Majelis Agung Nasional Turkiye dan Kompleks Kepresidenan. Serangan tersebut menewaskan 253 orang dan melukai ribuan lainnya.
Reformasi perkuat kapasitas negara
Yilmaz mengatakan satu dekade terakhir menjadi periode restrukturisasi dan evaluasi menyeluruh bagi Turkiye.
"Seluruh lembaga negara kami mengambil pelajaran yang diperlukan dari pengalaman berat tersebut dan memperoleh kapasitas yang lebih kuat untuk merespons perubahan lingkungan keamanan serta ancaman baru," katanya.
Ia menyebut upaya kudeta FETO sebagai salah satu serangan paling besar terhadap tatanan demokrasi Turkiye yang bertujuan menggantikan kehendak rakyat dengan hierarki organisasi tersebut.
Menurut Yilmaz, pengeboman gedung parlemen, serangan terhadap Kompleks Kepresidenan dan lembaga keamanan, serta upaya menyasar Presiden Recep Tayyip Erdogan menunjukkan bahwa sasaran utama para pelaku kudeta adalah bangsa Turkiye dan kehendak demokrasinya.
Ia mengatakan perlawanan masyarakat di bawah kepemimpinan Erdogan berhasil menggagalkan upaya tersebut sekaligus menegaskan kembali bahwa satu-satunya sumber legitimasi negara adalah kehendak rakyat.
Yilmaz menambahkan reformasi yang diterapkan setelah upaya kudeta berhasil meningkatkan koordinasi antarlembaga, mempercepat proses pengambilan keputusan, dan memperkuat kemampuan negara dalam menghadapi krisis.
Menurut dia, Turkiye kini tidak lagi sekadar bereaksi ketika ancaman muncul, tetapi telah memiliki struktur kelembagaan yang mampu mengidentifikasi risiko lebih awal, mengambil langkah tepat waktu, dan mengelola krisis secara efektif.
Serukan kewaspadaan terhadap struktur serupa FETO
Yilmaz juga menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif masyarakat. Menurutnya, peristiwa besar hanya dapat menjadi bagian dari kesadaran sosial apabila dipahami dan disampaikan secara benar.
"FETO telah tiada, tetapi kita harus sangat berhati-hati terhadap struktur serupa," kata Yilmaz seraya menyerukan kewaspadaan terhadap kelompok-kelompok yang beroperasi dengan nama berbeda.
Ia mengatakan Turkiye juga memiliki tanggung jawab internasional untuk terus memerangi FETO dan membagikan pengalamannya kepada negara-negara sahabat serta mitra guna membantu menjaga stabilitas mereka.
Yilmaz menambahkan bahwa penghapusan terorisme secara permanen, termasuk melalui proses "Turkiye Tanpa Teror" yang sedang berlangsung, akan memperkuat demokrasi, pembangunan, dan keamanan kawasan.