Muhammad Abdullah Azzam
18 Oktober 2019•Update: 18 Oktober 2019
Mohamad Misto, Adham Kako
TALL ABYAD
Menteri Pertahanan dan Kepala Militer Pemerintah Sementara Suriah Salim Idris mengungkapkan bahwa tujuan Operasi Mata Air Perdamaian adalah untuk menyelamatkan masyarakat di kawasan itu dari organisasi teroris separatis.
"Perang kami bukan untuk melawan rakyat Kurdi yang bermartabat. Masyarakat Kurdi sangat menderita akibat geng-geng ini (YPG/PKK)," tutur dia.
Saat diwawancarai oleh Anadolu Agency, Idris mengatakan Operasi Mata Air Perdamaian yang digelar Turki dan didukung Tentara Nasional Suriah (SNA) berjalan sesuai rencana.
"Geng-geng ini melancarkan serangan terhadap warga sipil. Perang kami tidak melawan warga Kurdi yang terhormat. Masyarakat Kurdi telah banyak menderita akibat geng-geng ini," tutur Idris.
Idris membantah dengan tegas tudingan bahwa warga sipil menjadi sasaran pihaknya selama operasi tersebut.
"Sama sekali tak benar kami menyerang saudara sipil kami. Tentu saja kami tidak bisa menerima klaim ini. Kami berjuang untuk menyelamatkan masyarakat kami dari geng separatis PYD dan PKK.”
“Kami sebagai Tentara Nasional Suriah melihat warga Arab, Kurdi, Turkmen serta Muslim dan Kristen sebagai rakyat Suriah yang bersaudara. Mereka adalah rakyat kami," jelas Idris.
Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada Rabu untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.
Menurut Turki, kelompok teroris PKK dan cabangnya YPG/PYD merupakan ancaman terbesar bagi masa depan Suriah, yang membahayakan integritas teritorial dan struktur kesatuan negara.
Ankara juga menekankan bahwa mendukung teroris dengan dalih memerangi Daesh/ISIS tidak dapat diterima.
Turki berbagi perbatasan sepanjang 911 kilometer dengan Suriah dan telah lama mengecam ancaman dari teroris di timur Sungai Eufrat dan pembentukan koridor teroris di sana.
Turki berencana untuk memukimkan kembali 2 juta warga Suriah di zona aman selebar 30 kilometer yang akan didirikan di Suriah, membentang dari Sungai Eufrat ke perbatasan Irak, termasuk Manbij.
Namun, kehadiran kelompok teroris seperti PKK, PYD dan YPG mengancam keamanan zona tersebut.
Sejak 2016, Turki telah melakukan dua operasi militer besar di Suriah barat laut - Operas Perisai Eufrat dan Ranting Zaitun - untuk membersihkan wilayah dari kelompok teroris Daesh dan YPG.