Nasional

Survei: 87,2 persen responden puas dengan pelaksanaan vaksinasi di Indonesia

Dari jumlah responden yang telah divaksin, sebanyak 87,2 persen menyatakan puas dengan pelaksanaan vaksinasi dan 12,8 tidak puas

Nicky Aulia Widadio   | 22.09.2021
Survei: 87,2 persen responden puas dengan pelaksanaan vaksinasi di Indonesia ILUSTRASI: Vaksinasi di Indonesia. (Kiki Cahyadi - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa 87,2 persen orang Indonesia yang telah divaksin merasa puas dengan pelaksanaan program vaksinasi Covid-19.

Survei tersebut dilakukan oleh Change.org bersama Kawal Covid-19 dan Katadata Insight Center (KIC) terhadap 8.299 responden di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.468 orang di antaranya telah divaksin.

Head of Katadata Insight Center Adek Roza mengatakan dari jumlah responden yang telah divaksin, sebanyak 87,2 persen menyatakan puas dengan pelaksanaan vaksinasi dan 12,8 tidak puas.

“Responden yang tidak puas ini lebih terkait pada bagaimana pelaksanaannya seperti antrean terlalu panjang, ramai, lalu protokol kesehatan tidak ketat,” kata Adek melalui konferensi pers virtual, Rabu.

Dia melanjutkan, alasan ketidakpuasan tersebut tidak instrumental sehingga pemerintah seharusnya bisa segera membenahinya.

Survei juga menemukan bahwa terdapat 2,5 persen responden yang sudah divaksin telah mendapatkan penyuntikan dosis ketiga (booster), mayoritas di antaranya merupakan tenaga kesehatan.

Meski demikian, Adek menuturkan terdapat 0,2 persen atau 16 orang di antaranya yang bukan tenaga kesehatan. Padahal, aturan Pemerintah Indonesia menyatakan baru tenaga kesehatan yang boleh mendapatkan vaksin dosis ketiga sejauh ini.

Dosis ketiga tersebut mereka dapatkan dengan berbagai cara seperti memiliki kenalan di tempat vaksinasi, ditawari oleh pejabat setempat, hingga membayar untuk dosis ketiga.

“Ada juga tempat vaksinasi yang memberikan dosis ketiga karena vaksin yang ada hampir kadaluarsa, orang yang seharusnya divaksin tidak datang, sehingga akhirnya diberikan untuk siapa saja termasuk yang sudah mendapatkan dosis pertama dan kedua,” papar Adek.

Penasihat Senior Direktur Jenderal WHO Urusan Gender dan Pemuda, Diah Saminarsih mengatakan temuan terkait penyuntikan dosis ketiga terhadap orang yang bukan tenaga kesehatan ini menjadi tantangan pada prinsip keadilan vaksin.

Menurut dia, penyuntikan vaksinasi dosis ketiga untuk masyarakat umum di luar tenaga kesehatan seharusnya baru dilakukan apabila seluruh sasaran telah mendapatkan dosis pertama dan kedua. Apalagi, cakupan vaksinasi pada kelompok rentan di Indonesia seperti lansia masih rendah.

“Dari yang sedikit ini ternyata ada yang sudah disuntik booster, prinsip equity ini menjadi perlu dipertanyakan untuk percepatan vaksinasi yang berkeadilan,” ujar dia.

Responden enggan melanjutkan vaksinasi

Survei ini juga mencari tahu keinginan responden untuk melanjutkan vaksinasi mereka. Sebanyak 5,1 persen di antaranya menyatakan tidak yakin untuk melanjutkan penyuntikan dosis kedua dan 1 persen menyatakan tidak ingin.

Responden yang ragu mengatakan mereka meragukan efektivitas vaksin, efek samping yang terlalu berat, serta takut dengan keramaian karena mengikuti program vaksinasi massal.

Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur Mese Ataupah mengatakan ketakutan terhadap efek samping vaksin itu juga terjadi pada sebagian kecil tenaga kesehatan yang seharusnya mendapatkan dosis ketiga.

“Penyuntikan ‘booster’ itu sendiri sedikit ditolak karena ketakutan akan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI). Tenaga kesehatan yang sangat mengetahui vaksin saja terjadi sedikit penolakan, apalagi masyarakat umum,” ujar Mese melalui konferensi pers virtual.

“Perlu edukasi bagi semua pihak untuk tidak menakut-nakuti dengan efek samping,” lanjut dia.

Co-founder KawalCovid-19 Elina Ciptadi mengatakan temuan 5 persen responden yang enggan melanjutkan vaksinasi ini mesti menjadi catatan untuk perbaikan ke depan.

Meski jumlahnya kecil, Elina menilai idealnya setiap orang yang sudah mendapatkan dosis pertama mau melanjutkan ke penyuntikan dosis kedua.

“Apakah mereka mengalami setelah divaksin mereka masih terkena Covid-19, berarti perlu ada edukasi bahwa meskipun sudah divaksin pun bukan berarti menjadi 100 persen kebal Covid-19,” ujar Elina.

Sementara itu, Diah Saminarsih mengatakan keengganan untuk melanjutkan vaksin bisa jadi terkait dengan terbatasnya suplai vaksin yang ada di daerah tersebut.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın