Nasional

Studi tunjukkan penutupan sekolah berdampak pada capaian belajar hingga kesejahteraan anak

UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong agar sekolah-sekolah di Indonesia kembali dibuka secara aman untuk belajar tatap muka demi memulihkan dampak tersebut

Nicky Aulia Widadio   | 21.09.2021
Studi tunjukkan penutupan sekolah berdampak pada capaian belajar hingga kesejahteraan anak Bangunan sebuah sekolah terlihat sepi tidak ada kegiatan siswa di Pekanbaru, Riau, Indonesia pada 16 Maret 2020. Pemerintah Indonesia menginstruksikan semua lembaga pendidikan untuk ditutup sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus korona (Covid 19). ( Dedy Sutisna - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Sejumlah studi menunjukkan bahwa penutupan sekolah selama pandemi Covid-19 telah berdampak buruk pada capaian belajar siswa, kesehatan mental, hingga kesejahteraan anak di Indonesia.

UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong agar sekolah-sekolah di Indonesia kembali dibuka secara aman untuk kembali belajar tatap muka demi memulihkan dampak tersebut.

Sebanyak 530 ribu sekolah di Indonesia ditutup pada Maret 2020 yang berdampak pada 60 juta siswa dan 4 juta guru. Namun setelah pemerintah mengizinkan sekolah tatap muka secara terbatas sejak Juli lalu, baru 40 persen sekolah di Indonesia yang kembali dibuka hingga pertengahan September 2021.

“Penutupan sekolah tidak hanya berdampak pada pembelajaran anak, tetapi juga pada kesehatan dan kesejahteraan mereka pada tahap perkembangan kritis dengan dampak jangka panjang,” kata Perwakilan UNICEF di Indonesia, Debora Comini kepada Anadolu Agency, Selasa.

Pada satu sisi, penutupan sekolah merupakan kebijakan yang penting diambil pada situasi pandemi, namun efektivitasnya tidak dapat menggantikan proses pembelajaran tatap muka.

Keterbatasan akses terhadap infrastruktur pembelajaran digital seperti internet dan gawai membuat tidak seluruh siswa di Indonesia dapat menjalankan belajar jarak jauh secara baik.

Menurut studi UNICEF, UNDP, Prospera, dan SMERU pada 2021 menunjukkan 57 persen rumah tangga mengalami gangguan internet dalam proses belajar dari rumah.

Persoalan terkait konektivitas ini juga menjadi tantangan besar bagi anak-anak di wilayah terpencil seperti Papua, di mana hampir 70 persen rumah tangga tidak memiliki akses internet.

“Banyak siswa yang berasal dari keluarga miskin memiliki akses terbatas ke komputer dan perangkat pembelajaran, juga harus berbagi gawai dengan saudara, orang tua atau teman mereka untuk mengerjakan tugas sekolah,” ujar Comini.

Selain itu, studi UNICEF menunjukkan 67 persen guru mengalami kesulitan dalam mengoperasikan gawai dan memanfaatkan ‘platform’ pembelajaran digital.

Interaksi sosial berkurang, kesehatan mental anak terdampak

Penutupan sekolah juga telah menyebabkan interaksi sosial antara siswa dan guru berkurang meski pembelajaran digital diterapkan.

Analisis Unicef terkait situasi pembelajaran digital di Indonesia yang dirilis pada 2021 menunjukkan situasi ini terjadi terutama pada anak-anak yang tinggal di daerah terpencil dan pedesaan.

Kesejahteraan psikososial dan kesehatan mental anak pun terdampak akibat isolasi sosial selama penutupan sekolah serta ketidakpastian ekonomi yang melanda keluarga mereka berdasarkan studi dari UNICEF, UNDP, Prospera, dan SMERU pada 2021.

Survei lainnya terhadap rumah tangga di Indonesia pada kuartal terakhir 2020 menemukan bahwa 45 persen keluarga menghadapi tantangan akibat perubahan pada prilaku anak-anak mereka, 21 persen anak-anak merasa sulit berkonsentrasi, 13 persen menjadi lebih pemarah, dan tujuh persen kesulitan tidur.

Sementara itu, temuan U-report Unicef dari November 2020 menunjukkan lebih dari 70 persen responden merasa tertinggal dalam pembelajaran dan mengkhawatirkan hal ini akan memengaruhi kemampuan mereka mencari pekerjaan.

Untuk memulihkan dampak tersebut, UNICEF menyatakan pemerintah mesti mendukung sekolah dan guru untuk kembali membuka sekolah secara aman dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Menurut UNICEF, sekolah justru dapat menjadi lingkungan yang lebih aman bagi siswa dibandingkan tidak sekolah.

“Kecuali dalam kondisi yang ekstrem, risiko putus sekolah pada anak lebih besar daripada risiko berada di sekolah,” ujar Comini.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın