Pizaro Gozali Idrus
04 Januari 2021•Update: 05 Januari 2021
JAKARTA
Pengurus Cabang Muhammadiyah Istimewa (PCIM) Turki bertekad menguatkan jalan diplomasi kemanusiaan untuk membantu korban bencana di Eropa sebagai bentuk dakwah global.
Untuk itu, Muhammadiyah cabang Turki mengadakan kegiatan pendidikan literasi tentang kebencanaan bertajuk “International Disaster Management Class”.
Dalam rilisnya pada Senin, Sekretaris Umum PCIM Muhammadiyah Turki Jelang Ramadhan menyampaikan International Disaster Management Class ini diproyeksikan menjadi jalan masuk bagi multi-track diplomacy yang Muhammadiyah jalankan dengan menggunakan media humanitarian aid.
Menurut Ramadhan, bantuan kemanusiaan adalah jalan yang lebih mendukung bagi masyarakat Eropa.
“Ini juga menjadi jalan masuk dakwah Muhammadiyah di kancah global. Sejalan dengan pemikiran ‘diplomasi tangan di atas’ yang digagas oleh Pak Jusuf Kalla,” kata Ramadhan dalam keterangannya kepada Anadolu Agency.
Ramadhan mengatakan Indonesia, yang saat ini masuk ke dalam negara G-20, harus mampu memberikan sesuatu kepada negara lain.
Untuk itu, kata dia, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjalankan diplomasi kemanusiaan dengan memanfaatkan jaringan ormas Islam tersebut yang tersebar di 24 negara.
“Selain dapat melebarkan jaringan dakwah, juga dapat menyalurkan manfaat melalui bantuan kemanusiaan,” ucap Ramadhan.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari mulai dari tanggal 2-3 Januari 2021 dan dilaksanakan secara daring yang diikuti oleh 477 peserta yang terdaftar.
Kelas daring ini diikuti oleh diaspora Indonesia di luar negeri, terutama pelajar dan warga Muhammadiyah di luar negeri yang terhimpun dalam PCIM di beberapa negara seperti Jerman, Prancis, Belanda, Inggris, Turki, Taiwan, dan Spanyol.
Sebagai pembuka dari materi dalam kegiatan ini adalah sambutan dari Wakil Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) dr. Sudibyo Markus.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) dr Sudibyo Markus menyampaikan salah satu manfaat utama kegiatan ini adalah mendukung adanya global engagement dan dialog peradaban dengan masyarakat Eropa sebagai salah satu upaya globalisasi gerakan Muhammadiyah.
Sudibyo menjelaskan tingginya kualitas pendidikan dan diskursus multikultural terhadap Islam menarik perhatian bagi masyarakat luar Eropa untuk datang ke benua tersebut.
Namun, kata Sudibyo, bukan berarti Eropa tidak kebal terhadap bencana.
Di Eropa sendiri, kata dia, terdapat potensi gempa mega-thrust dan masih adanya gunung berapi yang aktif.
“Maka ketika bencana datang, semua harus turun tangan. Di Eropa, kemanusiaan tampil tanpa embel-embel agama, sehingga bantuan bisa lebih diterima,” ujar Sudibyo.
Duta Besar Indonesia untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal dalam pidatonya menyampaikan apresiasi mendalam atas upaya membangun literasi kebencanaan dari Muhammadiyah yang didukung PPI Turki.
Menurut Lalu Iqbal, bantuan kemanusiaan yang telah dilakukan Muhammadiyah dan PPI Turki merupakan bagian dari second-track diplomacy.
“Kita akan selalu berjumpa dengan disaster, baik man-made atau natural. Posisi kita affected atau bisa memberikan bantuan, humanitarian assistance,” kata dia.
Lalu Iqbal menambahkan setiap manusia harus mengetahui emergency response dan bagaimana melindungi diri dari bencana.
“Pengalaman menunjukkan ketika terjadi bencana atau konflik, korban jiwa jatuh karena ketidak tahuan,” ujar Lalu Iqbal.
November lalu, Muhammadiyah terlibat dalam upaya membantu pendidikan para korban bencana gempa di Izmir, Turki.
Bantuan tersebut berupa 50 tablet android bagi anak-anak terdampak gempa yang tinggal di pengungsian.
“Bantuan ini bukti kepedulian dan kecintaan warga Muhammadiyah kepada Turki yang diterpa musibah, juga demi kemanusiaan dan ikatan persahabatan kedua bangsa,” ujar Ketua Muhammadiyah Aid Wachid Ridwan dalam pernyataannya kepada Anadolu Agency.