Nasional

Malaysia-Indonesia harus cari pasar baru untuk produk sawit

Ketegangan antara Malaysia dan India masih berlanjut, larangan impor olahan sawit akan terus berlaku

Muhammad Nazarudın Latıef   | 23.01.2020
Malaysia-Indonesia harus cari pasar baru untuk produk sawit Ilustrasi: Petani kelapa sawit. (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Indonesia dan Malaysia harus mencari pasar baru untuk produk olahan minyak sawit setelah importir terbesarnya yaitu India memberlakukan larangan pembelian.

Segera, larangan ini menjadi ketegangan politik, karena dianggap sebagai boikot atas produk Malaysia sebagai balasan sikap kritis Perdana Menteri Mahathir Mohamad atas kebijakan mereka di Kashmir yang disebut sebagai “aneksasi” dan UU Kewarganegaran yang mendiskriminasi muslim.

Dalam pengumuman tertanggal 8 Januari 2020, Direktorat Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan dan Industri India, mengubah kebijakan ekspor-impor sawit.

Dalam pengumuman itu, produk dengan kode 1511 90 10 dan 1511 90 20 bernama “refined bleached deodorized palm oil” diubah statusnya, dari sebelumnya “free” menjadi “restricted”. Demikian juga dengan barang dengan kode 1511 90 90 dari “free” menjadi “restricted”

India bahkan tidak ingin bertemu dengan Malaysia pada pertemuan tahunan World Economy Forum (WEF) di Davos Swiss, yang dihadiri kedua negara pada minggu ini, meski sebenarnya menteri perdagangan mereka bisa membahas ketegangan sawit itu.

“Ini adalah larangan impor produk sawit olahan dari semua negara, bukan hanya Malaysia,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono saat dihubungi Anadolu Agency.

“Kemungkinan India ingin agar industri rafinasi atau pengolahan minyak sawit berkembang, sehingga membatasi impor produk olahan, sedangkan impor minyak kelapa sawit curah atau Crude Palm Oil (CPO) tidak ada larangan.”

Peran besar sawit dalam perekonomian

Menurut Mukti, kebijakan pelarangan impor produk olahan minyak sawit dapat merugikan ekspor produk olahan minyak sawit Indonesia.

India adalah konsumen minyak nabati terbesar di dunia dengan total impor mencapai 23,6 juta ton tahun lalu. Impor minyak kelapa sawit menjadi yang terbesar dari seluruh minyak nabati itu, mencapai dua pertiga dari total impor. India juga mengimpor minyak kedelai dari Argentina dan Brasil dan minyak bunga matahari dari Ukraina.

Bagi Indonesia dan Malaysia, India sangat penting karena pasar terbesar produk sawit. Tahun lalu, menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Indonesia mengekspor hampir 5 juta ton produk tersebut ke India, bahkan sebelum India menerapkan kebijakan bea masuk yang tinggi, sempat mencapai 7 juta ton.

Total ekspor minyak sawit Indonesia pada 2018 mencapai USD17,89 miliar, berkontribusi 3,8 persen terhadap PDB.

Bagi Malaysia, India tak kalah penting setelah lima tahun ini menjadi pasar minyak kelapa sawit terbesarnya. Tahun lalu realisasi ekspor mencapai 4,4 juta ton per tahun. Industri ini juga menyumbang sekitar 3 persen dari PDB.

Tantangan juga datang dari Uni Eropa

Produk sawit juga mendapat tantangan besar di Uni Eropa sejak mereka mengeluarkan aturan Directive Act dalam Renewable Energy Directive.

Menurut aturan itu, kelapa sawit, masuk dalam kategori komoditas yang memiliki Indirect Land Use Change (ILUC) berisiko tinggi. Akibatnya, biofuel berbahan baku minyak kelapa sawit tidak termasuk dalam target energi terbarukan UE.

Indonesia pada 15 Desember tahun lalu sudah melayangkan gugatan ke WTO menuntut agar UE mengubah kebijakan tersebut. Indonesia menganggap kebijakan tersebut mendiskriminasikan sawit dan hanya upaya melindungi industri lokal UE, yaitu minyak kedelai dan bunga matahari.

Harus cari pasar baru

Peneliti Institute for Development Economic and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan Indonesia dan Malaysia harus mencari pasar baru untuk menjadi alternatif India.

Beberapa pasar alternatif bagi produk ini ialah China, Thailand dan Pakistan.

Indonesia juga bisa memanfaatkan perjanjian ekonomi komprehensif dengan Australia untuk mendorong produk sawit masuk ke negara Kanguru itu.

Industri kelapa sawit Indonesia juga harus lebih optimal melakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai tambah lebih besar.

Minyak sawit bisa diolah menjadi makanan berbahan dasar refined oil. Selain itu bisa juga diolah jadi bahan untuk sejumlah produk, seperti kosmetik, parfum, detergen, cat, dan farmasi dengan nilai tambah yang makin besar.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın