Nasional

Greenpeace Indonesia: Pengenaan cukai bisa tekan konsumsi plastik

Greenpeace mengusulkan agar cukai dikenakan terhadap berbagai kemasan plastik seperti kemasan makanan, minuman, serta produk kebutuhan sehari-hari lainnya

Nicky Aulia Widadio   | 21.02.2020
Greenpeace Indonesia: Pengenaan cukai bisa tekan konsumsi plastik Ilustrasi: Sampah plastik. ( Juancho Torres - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Greenpeace Indonesia menilai rencana pemerintah mengenakan cukai pada produk plastik sebagai “titik cerah” untuk mengendalikan konsumsi plastik.

Usulan Kementerian Keuangan untuk mengenakan cukai pada plastik telah disetujui oleh Komisi XI DPR RI pada Rabu, meski perlu pembahasan lebih lanjut terkait jenis produk plastik, tarif, dan waktu implementasinya.

Juru kampanye urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi mengatakan keputusan semacam ini telah mereka nantikan sejak lama.

Menurut Greenpeace, konsumsi plastik sekali pakai sudah tidak terkontrol dan tidak bisa didaur ulang sehingga berdampak buruk pada lingkungan, kehidupan satwa dan manusia.

“Lewat cukai, konsumsi plastik sekali pakai bisa ditekan,” kata Atha dalam keterangan tertulis, Jumat.

Greenpeace mengusulkan agar cukai dikenakan terhadap berbagai kemasan plastik seperti kemasan makanan, minuman, serta produk kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain itu, Greenpeace meminta pemerintah justru melarang produk plastik sekali pakai seperti kantong dan sedotan plastik karena pemakaiannya masih bisa dihindari.

Menurut Atha, kebijakan cukai ini semestinya mendorong perusahaan menerapkan ekonomi sirkuler yang mengutamakan penggunaan kembali (reuse) dan isi ulang (refill).

Pasalnya, isu sampah plastik dianggap telah mencapai titik kritis, dimana daya tampung tempat pembuangan sampah sudah melampaui kapasitas.

Sampah plastik juga mencemari lingkungan dan pemerintah menargetkan untuk mengurangi sampah plastik sebesar 70 persen pada 2025.

Indonesia, sebagai negara dengan garis pantai sepanjang 99.093 kilometer dengan populasi 255,46 juta orang, merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat ada 0,27 juta hingga 0,9 juta ton sampah yang masuk ke laut per tahun lewat aliran sungai.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.