Repertoar, Nasional

Banjir Jakarta, ‘kado tahun baru’ yang sebabkan puluhan ribu orang mengungsi

Banjir masih menggenangi sejumlah area di Jakarta hingga Kamis siang, membuat warga masih harus mengungsi dan membutuhkan bantuan kebutuhan dasar

Nıcky Aulıa Wıdadıo   | 02.01.2020
Banjir Jakarta, ‘kado tahun baru’ yang sebabkan puluhan ribu orang mengungsi Seorang warga tengah mengevakuasi diri dari banjir yang merendam rumahnya, di Jakarta Timur, Kamis, 2 Januari 2020. (Pizaro Idrus-Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Sumarti, 64, terpaksa menjalani hari-hari pertamanya di tahun 2020 sebagai pengungsi akibat terdampak banjir di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Sudah satu malam Sumarti bersama puluhan orang tetangganya menetap di posko itu. Rumah mereka terendam banjir hampir setinggi dua meter selepas malam pergantian tahun pada Rabu.

Mereka merupakan sebagian kecil pengungsi dari total sekitar 62 ribu orang yang mengungsi akibat banjir di ratusan area.

Berdasarkan pantauan Anadolu pada Kamis siang, gang kecil menuju rumah Sumarti itu masih tergenang banjir setinggi sekitar 30-50 cm. Beberapa warga menunggu air sepenuhnya surut untuk bisa membersihkan rumah mereka.

Hujan deras pada malam pergantian tahun telah memicu luapan Kali Pesanggrahan yang berada di dekat pemukiman ini.

Pada Rabu pagi, Sumarti tengah tidur nyenyak di rumahnya usai merayakan malam pergantian tahun bersama keluarga. Dia terbangun karena tubuhnya mulai basah akibat air yang masuk ke dalam rumah.

“Saya lagi tidur di kasur yang posisinya di bawah, tiba-tiba badan saya basah, ternyata air sudah masuk ke rumah,” kata Sumarti kepada Anadolu Agency, Kamis.

Sumarti mulanya berupaya menyelamatkan sejumlah barang-barang berharga, namun air naik begitu cepat. Dia kemudian menyaksikan perabotan rumah seperti kasur dan kulkas mengambang terangkat oleh air.

Sumarti akhirnya meninggalkan rumah itu dan menyelamatkan diri bersama suami dan dua orang anaknya.

Menurut dia, air sudah setinggi dadanya atau sekitar 120 cm ketika mereka meninggalkan rumah.

“Enggak ada satu pun barang yang dibawa, benar-benar baju yang melekat di badan saja,” ujar dia.

Banjir tidak pernah melanda pemukiman Sumarti selama tujuh tahun terakhir. Dia pernah merasakan beberapa kali banjir, yakni pada 2002, 2007, lalu 2013.

Namun menurut Sumarti, banjir kali ini merupakan salah satu yang terparah. Puluhan rumah di kawasan itu terendam hingga dua meter.

Banjir yang ternyata masih berulang membuat Sumarti jengah. Dia mengatakan, pemerintah semestinya bisa mencari cara agar banjir tidak sampai terjadi.

Warga meminta agar pemerintah setidaknya membangunkan tanggul untuk mencegah luapan sungai ke pemukiman mereka.

“Di seberang sungai ada apartemen yang punya tanggul pembatas, tapi kami di sini enggak ada tanggul pembatas,” keluh Sumarti.

“Kami ingin enggak ada banjir lagi, rasanya seperti dapat kado tahun baru terburuk,” lanjut dia.

Banjir juga membuat Rio Asari, 54, bekerja lebih keras dari biasanya. Rio merupakan pekerja di salah satu komplek perumahan mewah dan apartemen di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Sejak banjir merendam perumahan tersebut, Rio menjadi penarik kapal karet untuk mengevakuasi warga.

Ketika ditemui pada Kamis, Rio mengaku telah puluhan kali berkeliling komplek untuk menjemput warga yang masih berada di rumah.

“Mungkin totalnya sudah ratusan yang saya bantu evakuasi, karena udah 24 jam tapi belum surut,” ujar Rio.

Di Kembangan Selatan, Jakarta Barat banjir yang belum surut sepenuhnya membuat warga mengungsi ke musala-musala sekitar. Wilayah ini terendam banjir hingga setinggi 2 meter yang menyebabkan ribuan warga terdampak.

Ana, 45, mengatakan warga saat ini membutuhkan bantuan makanan, obat-obatan serta kebutuhan dasar lainnya. Dapur umum yang dijanjikan oleh Pemprov DKI masih belum berdiri hingga Kamis siang.

Saat ditemui, Ana mengaku kelaparan dan belum makan sejak pagi. Sementara ibunya yang menderita stroke diungsikan ke musala di sekitar rumah mereka.

Sedangkan anak Ana, yang berusia 8 tahun menderita muntaber akibat banjir dan diungsikan ke rumah salah satu kerabat mereka.

“Daritadi saya nunggu, berharap siapa tahu ada bantuan makanan datang,” tutur Ana.

Banjir juga merendam beberapa area yang sebelumnya tidak pernah dilanda banjir. Salah satu warga Duri Kosambi, Jakarta Barat, Akmal Fauzi, 30, mengatakan ini kali pertama banjir masuk ke rumah yang telah dia tinggali sejak lahir.

Dia tidak menyangka rumahnya akan terendam banjir hingga setinggi 70 cm akibat luapan sungai yang berjarak sekitar 500 meter.

“Biasanya kalau hujan terus-terusan cuma ada genangan saja di jalan setinggi 5 cm, tapi ini sampai masuk ke rumah dengan ketinggian 70 cm,” kata Akmal kepada Anadolu.

“29 Tahun tinggal di sini baru kali ini banjir dan merasakan harus mengungsi,” ujar dia.

Menurut dia, warga membangun sendiri posko pengungsian di musala-musala sekitar. Mereka juga mendirikan dapur umum.

“Dapur umum ini swadaya masyarakat, belum ada bantuan dari pemerintah,” tutur Akmal.

Akmal dan para tetangganya kini dalam kondisi siaga jika sewaktu-waktu banjir susulan datang. Apalagi, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan deras masih ada hingga sepekan ke depan.

“Barang-barang dan dokumen penting sudah dibawa, sisanya ditinggal. Warga sudah pada siap-siap soal potensi banjir susulan,” kata dia.

Saat ini dia mendesak pemerintah untuk sigap menyalurkan bantuan kepada para pengungsi yang membutuhkan makanan, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya.

Dia juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membenahi infrastruktur pencegahan banjir.

“Sungai-sungai itu seharusnya dibenahi lagi, hujan sedikit saja sekarang sudah meluap,” kata Akmal.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan air telah perlahan surut hingga Kamis sore. Jumlah pengungsi yang sebelumnya mencapai 31 ribu orang, kini diperkirakan tinggal sekitar 5 ribu orang.

“Begitu rumahnya bisa dimasuki, air sudah surut, hampir semua warga sudah kembali dan mulai bersih-bersih rumahnya,” kata Anies di Jakarta, Kamis.

Pemerintah menyiagakan 478 unit pompa di 178 lokasi untuk menyedot air agar cepat surut.

Banjir telah menjadi persoalan berulang di Jakarta. Selain mendapat kiriman debit air dari sungai-sungai yang berhulu di kawasan Bogor, sungai di Jakarta juga banyak yang tidak mampu menampung debit air hingga akhirnya meluap ke pemukiman warga.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.