Nasional

Amnesty Internasional: Sejumlah anggota TNI diduga bunuh seorang remaja Papua

Data Amnesty Internasional juga menunjukkan dalam dua bulan terakhir, ada 5 kasus pembunuhan di luar hukum di Papua yang dilakukan oleh aparat

Erric Permana   | 29.07.2020
Amnesty Internasional: Sejumlah anggota TNI diduga bunuh seorang remaja Papua Ilustrasi: Massa yang tergabung dalam kelompok mahasiswa Papua anti rasisme, kapitalisme, kolonialisme dan militerisme menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka Jakarta, Indonesia pada Kamis 22 Agustus 2019. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Amnesty Internasional Indonesia menyebut sejumlah anggota TNI diduga melakukan pembunuhan terhadap seorang remaja Papua berumur 18 tahun bernama Oktavianus K Betera di Desa Asiki, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid menilai negara tidak serius dalam mencegah maupun menindak tindakan represif aparat yang melanggar hukum di Papua.

Usman menilai ada kecenderungan TNI berusaha menutup-nutupi kasus tersebut dari keluarga korban.

"Keluarga korban pada awalnya tidak bisa melihat jenazah korban. Jika benar demikian, maka ini menunjukkan sikap yang tidak profesional dari institusi militer di Asiki," kata Usman Hamid, melalui keterangan resminya, pada Rabu.

Berdasarkan informasi yang diterima oleh Amnesty International Indonesia, kasus tersebut bermula pada 24 Juli 2020 karena adanya adu mulut antara Oktavianus K Betera dengan seorang pemilik kios di Asiki, Papua.

Oktavianus diduga mencuri sesuatu dari kios tersebut, namun belum ada konfirmasi dan bukti mengenai apa yang dicurinya.

"Sang pemilik kios saat itu juga langsung menghubungi TNI Kostrad, Satgas Yonif Raider 516/Cakara Yudha, tentang kejadian tersebut," kata Usman Hamid.

Aparat pun mendatangi kios tersebut dan diduga mengeroyok Oktovianus hingga meninggal dunia.

Keluarga akhirnya bisa melihat jenazah korban di dalam peti jenazah setelah ada desakan dari pemuka agama setempat.

"Proses pemakaman pun dilaporkan dilaksanakan dengan pengawalan ketat oleh aparat TNI. Sumber yang sama juga mengatakan kepada Amnesty bahwa Danrem 174/ATW Brigjen TNI Bangun Nawoko telah meminta maaf kepada pihak keluarga melalui Kasrem," jelas dia.

Sumber Amnesty dari Mabes TNI telah mengonfirmasi adanya insiden tersebut dan menyatakan bahwa pihak TNI telah memulai penyelidikan terhadap pelaku.

Data Amnesty menunjukkan dalam dua bulan terakhir, ada lma kasus pembunuhan di luar hukum di Papua yang dilakukan oleh aparat.

Selain kasus Oktavianus Betera, pada pertengahan Juli lalu, ayah-anak bernama Elias Karunggu dan Selu Karunggu juga menjadi korban dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat TNI.

"Data yang sama juga menunjuukan bahwa hampir tiap bulan di tahun 2020 ini pembunuhan di luar hukum terjadi di Papua," kata Usman.

Pembunuhan di luar hukum oleh aparat merupakan pelanggaran hak untuk hidup, hak fundamental yang jelas dilindungi oleh hukum HAM internasional dan Konstitusi Indonesia.

Dia meminta pelaku tindak pelanggaran kriminal terkait HAM harus ditangani melalui sistem peradilan pidana dan bukan dengan penanganan internal atau ditangani sebagai suatu tindak pelanggaran disiplin.

“Kami mendesak negara untuk memastikan tersedianya reparasi bagi keluarga korban dan memfasilitasi proses pemulihan secara fisik, moral, material dan maupun mental,” pungkas dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.