Nasional

2.313 orang meninggal saat isolasi mandiri di Indonesia

Lapor Covid-19 mendata lebih dari 90 persen di antaranya meninggal saat isolasi mandiri di rumah, sedangkan yang lainnya meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit atau baru sampai di IGD

Nicky Aulia Widadio   | 22.07.2021
2.313 orang meninggal saat isolasi mandiri di Indonesia Petugas pemakaman membawa peti mati pasien Covid-19 di Jakarta, Indonesia pada 10 Juli 2021. Baru-baru ini di Indonesia, banyak pasien Covid-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri, diduga karena tidak ada petugas yang memantau kondisi kesehatan pasien. ( Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Lapor Covid-19, sebuah wadah laporan warga di Indonesia, mencatat sebanyak 2.313 orang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri akibat Covid-19 di rumah maupun meninggal di rumah sakit sejak Juni hingga 21 Juli 2021.

Lapor Covid-19 menghimpun data ini dari sejumlah sumber yakni laporan warga, pemberitaan di media dan informasi di media sosial, riset Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), serta data resmi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Angka kematian tertinggi yang terdata terjadi di Jakarta sebanyak 1.214 kasus, kemudian 249 kasus di Jawa Barat, 141 kasus di Jawa Tengah, dan 134 kasus di Yogyakarta.

Lebih dari 90 persen di antaranya meninggal saat isolasi mandiri, sedangkan yang lainnya meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit atau baru sampai di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Salah satu inisiator Lapor Covid-19 Ahmad Arif mengatakan data yang tercatat seperti puncak gunung es dari angka kematian di luar fasilitas kesehatan yang jauh lebih besar, namun tidak terdata dengan baik.

“Yang meninggal di luar fasilitas kesesehatan jauh lebih tinggi (dari data ini),” kata Arif melalui konferensi pers virtual, Kamis.

Pasalnya, tidak seluruh daerah memiliki data yang transparan terkait angka kematian pasien saat isolasi mandiri.

Lapor Covid-19 juga menemukan kecenderungan banyak kasus kematian di level komunitas yang tidak terdata dengan baik dan tidak masuk ke dalam data kematian yang dilaporkan setiap hari oleh Kementerian Kesehatan.

“Ini bukan berarti angka kematian akibat isolasi mandiri di Jakarta paling tinggi, bisa jadi daerah lain lebih tinggi hanya saja data yang ada di Jakarta sudah mendekati situasi real,” kata Arif.

Menurut temuan Lapor Covid-19, mayoritas kematian akibat isolasi mandiri meninggal karena kondisi medisnya tidak terpantau, terlambat dibawa dan ditangani karena rumah sakit penuh.

Kondisi fasilitas kesehatan yang penuh akibat lonjakan kasus membuat banyak pasien yang mengalami gejala sedang hingga berat terpaksa menjalani isolasi mandiri.

“Ini yang kami lihat kenapa kematian saat isolasi mandiri ini bisa menjadi indikator bahwa fasilitas kesehatan tidak lagi memadai untuk merawat pasien Covid-19,” ujar dia.

Selain itu, sebagian pasien yang meninggal juga menolak ke rumah sakit terutama di kawasan rural.

Sebagian lainnya beranggapan bahwa sakit yang dialaminya hanya merupakan sakit biasa sehingga terlambat diperiksa dan baru dikonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 setelah meninggal.

“Sebagian pasien isoman bahkan ditemukan setelah meninggal dan terlambat dimakamkan menurut laporan teman-teman petugas di garda depan,” kata Arif.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.