Muhammad Latief
JAKARTA
Masuknya Ma’ruf Amin dalam kontestasi pemilihan presiden sebagai pendamping Joko Widodo langsung mengubah peta dukungan kelompok pemilih Islam, menurut sebuah survei, Jumat.
Menurut lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, hasil penelitian yang digelar 12-19 Agustus lalu, Jokowi-Ma’ruf mendapat dukungan lebih banyak dari pemilih muslim dibanding lawannya yaitu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno – yang sejak Pilpres 2014 lalu berusaha mengidentifikasi diri sebagai representasi kelompok Islam.
Rully Akbar, Peneliti LSI Denny JA, mengatakan bahwa berdasarkan wawancara dengan 1.200 responden, umat Islam merasa lebih terwakili dengan pasangan Jokowi yang memilih calon wakil presidennya dari kalangan ulama. Sementara, kata dia, Sandiaga yang dipilih Prabowo bukan dikenal sebagai tokoh pergerakan Islam.
Pemilih muslim juga menganggap karakter Jokowi lebih unggul dibanding Prabowo. Mantan wali kota Solo ini unggul pada lima karakter yaitu jujur, nasionalis, religius, peduli rakyat dan mampu mengambil keputusan tegas. Sementara Prabowo hanya unggul pada karakter pintar dan berwibawa sebagai pemimpin.
Selain Jokowi, keterpilihan pasangan ini juga disumbang oleh Ma’ruf Amin yang unggul pada empat karakter yaitu jujur, nasionalis, religius dan perhatian pada rakyat. Sedangkan Sandiaga unggul sebagai sosok yang pintar, berwibawa sebagai pemimpin dan mampu mengambil keputusan dengan tegas.
“Di atas semua itu, umat Islam puas dengan kinerja Jokowi. Mencapai angka 75 persen, yang tidak puas minor, hanya 21,5 persen,” ujar Rully saat menyampaikan hasil survei “Pemilih Muslim vs Pemilih Muslim, Jokowi atau Prabowo.
Pemilih muslim, menurut Rully menyukai program yang menguatkan ekonomi umat yang dipelopori oleh Ma’ruf Amin saat memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Jokowi-Makruf, menurut Rully unggul pada pemilih terafiliasi dengan ormas-ormas besar, yaitu di Nahdlatul Ulama (NU), unggul sebanyak 54,7 persen dibanding 27 persen. Pada segmen Muhamadiyah, Jokowi juga unggul 50 persen, namun Prabowo mendapat dukungan sedikit lebih banyak yaitu 35,7 persen.
Jokowi hanya kalah pada kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai PA 212, yaitu kelompok yang sebelumnya mengorganisir aksi demonstrasi menuntut hukuman bagi Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang melakukan penistaan agama. Pada kelompok ini, Prabowo-Sandi mendapat dukungan 61,1 persen sedangkan Jokowi-Ma’ruf hanya 27,8 persen.
Selain pada ormas, Jokowi mendapat dukungan dari pemilih Islam yang lebih taat beribadah. LSI Denny JA mengidentifikasi kelompok pemilih muslim yang lebih taat pada yaitu frekuensi salat, jika lebih dari sekali dalam satu hari maka dianggap lebih taat. Kemudian jika membaca alquran setidaknya sebulan sekali, juga dianggap lebih taat.
Pada kelompok muslim yang salat setidaknya sehari sekali, mayoritas mendukung Jokowi-Ma’ruf sebesar 57,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandi mendapat dukungan 27,4 persen. Pasangan Prabowo-Sandi unggul tipis dari segmen yang melaksanakan salat hanya pada moment tertentu seperti hari raya yaitu 43,5 persen, sedangkan Jokowi mendapat dukungan 41,2 persen.
Pada segmen yang membaca Quran setidaknya sebulan sekali, Jokowi unggul 61 persen sedangkan Prabowo mendapatkan dukungan hanya 30 persen. Pada kelompok yang membaca Quran hanya pada momen tertentu, Jokowi juga unggul 42,9 persen dibanding 41,5 persen.
Jokowi-Ma’ruf juga unggul pada segmen pengikut ulama. Dari delapan ulama Jokowi unggul pada pengikut Yusuf Mansur, Ma’ruf Amin, Said Aqil Sirodj, Din Syamsudin dan TGB Zainul Majdi. Sedangkan Prabowo unggul pada pengikut Abdul Somad, Rizieq Shihab dan Amin Rais.
“Kelompok ini kan mendengarkan himbauan dari ulama. Paling berpengaruh itu Ustad Abdul Somad dan Yusuf Mansyur,” ujar dia.
Jokowi juga unggul pada kelompok yang menyatakan bahwa agama harus bersatu dengan politik yaitu 54,3 persen dibanding 32,4 persen. Sedangkan pada kelompok sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan politik Jokowi juga unggul dengan perolehan 60,5 persen dibanding 28,7 persen.
“Jokowi juga menang pada kelompok Islam pendukung demokrasi Pancasila,” ujar dia.
“Sebelumnya dikotomi pemilih Prabowo-Jokowi kuat. Namun Jokowi mulai merehabilitasi namanya agar tidak terasosiasi dengan Ahok. Dia memulihkan nama baiknya di kalangan pemilih muslim dan akhirnya memilih Ma’ruf Amin yang makin menguatkannya pada pemilih Islam.”
Menurut Rully, komposisi dukungan ini bisa saja berubah setelah masa kampanye. Terutama jika pasangan Prabowo-Sandiaga mendapat dukungan dari ulama-ulama selain ormas, seperti Abdulah Gymnastiar, Arifin Ilham dan Rizieq Shibab.
Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan tokoh ulama non ormas belum menentukan dukungannya pada salah satu pasangan selain itu juga belum memasuki masa kampanye.
Menurut dia, ada tiga hal yang akan mengubah dukungan yaitu kampanye, penampilan pada debat kandidat dan attacking isue atau serangan pada isu-isu tertentu.
Pasangan Jokowi menurut Adjie harus mewaspadai isu teknis seperti lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi yang bisa di-kapitalisasi dengan isu simbolik seperti nasionalisme atau hilangnya kekayaan negara.
“Politik identitas bukan lagi yang utama. Sekarang ini serangannya dibawa ke rezim dalam narasi ekonomi dikaitkan dengan identitas,” ujar dia.
Sementara itu, pasangan Prabowo-Sandi juga harus lebih intensif menggarap potensi pemilih muslim. Menurut Adjie, ada tiga hal penting yang bisa dilakukan Prabowo yaitu rebranding menjadi “new Prabowo”. Selain itu memperluas jangkauan elektoral dengan dukungan dari ulama pada kelompok milenial dan perempuan.
“Jadi penting untuk melakukan gebrakan isu untuk kantong-kantong penting. Seperti di kalangan muslim, wong cilik, perempuan dan lain-lain,” ujar dia.
Wakil Direktur Program Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf, Willy Aditya mengatakan pada dasarnya Jokowi sudah mempraktikkan kesalehan muslim. “Lihat saja laku personalnya, dia secara moral dengan empati besar dan di mana pun selalu menjalankan praktik keagamaan,” ujar dia.
Keunggulan Jokowi pada segmen muslim, menurutnya akan dipertahankan dengan melakukan kampanye Islam rahmatan lilalamin dan menjaga persatuan di atas proses politik.
“Tapi terlalu underestimate jika Jokowi diterima kalangan Islam karena faktor Pak Ma’ruf Amin semata. Jokowi diterima kaum muslim karena sudah dekat dengan kalangan Islam,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
