Hayatı Nupus
07 Februari 2020•Update: 07 Februari 2020
JAKARTA
Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) menggandeng masyarakat adat Bali untuk mengatasi virus flu babi, setelah ribuan ekor hewan tersebut mati secara mendadak.
Ketua GUPBI Ketua Bali I Ketut Hari Suyasa mengatakan kampanye ini dilakukan di sembilan wilayah di Bali, meski dampak flu babi terjadi di empat wilayah.
“Penyakit ini dapat dikendalikan lebih cepat bila semua komponen masyarakat memahami dampak bahaya virus itu,” ujar Hari, kepada Anadolu Agency, Jumat.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mencatat 1.191 ekor babi mati sejak Desember 2019.
Sejauh ini, ujar Hari, belum diketahui penyebab utama meninggalnya ribuan babi tersebut.
Pemerintah, lanjut Hari, tengah melakukan uji laboratorium dan perlu beberapa waktu untuk memperoleh hasilnya.
Meski begitu, Hari memperkirakan kasus ini terjadi karena wabah demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).
“Tidak menutup kemungkinan karena demam babi Afrika, kasusnya mirip dengan yang terjadi di Sumatera Utara beberapa waktu lalu,” ujar Hari.
Saat itu, Kementerian Pertanian mencatat ada 27 ribu ekor babi mati di Sumatera Utara karena wabah demam babi Afrika.
Hari menekankan pentingnya babi bagi masyarakat Bali.
Hewan ini tak hanya berharga dari sisi ekonomis, melainkan juga bagian dari kearifan lokal Bali yang tak tergantikan.
Ada sederet upacara dan upakara di Bali yang melibatkan Babi, ujar Hari.
Salah satunya adalah tradisi ngusaba guling, di mana warga Bali mempersembahkan ribuan babi untuk masyarakat tidak mampu.
“Babi menjadi salah satu garda terdepan untuk menjaga budaya yang ada di Bali,” kata Hari.