Muhammad Nazarudin Latief
14 Desember 2017•Update: 14 Desember 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah mengungkapkan investasi hulu migas di Indonesia tahun ini berkisar USD11 miliar, masih dibawah target investasi sebesar USD13,8 miliar.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen di antaranya adalah investasi di bidang eksplorasi, Sementara investasi paling besar di bidang eksploitasi.
“Industri memang menunda realisasi investasi,” ungkap Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher, Rabu.
Secara umum, kata dia, investasi hulu migas tidak berkembang menggembirakan karena turunnya harga komiditas minyak di pasaran dunia sehingga mengurangi minat.
"Selain itu, ada kontraktor yang mengalami kesulitan pendanaan," kata Wisnu.
Kenaikan harga minyak dunia belakangan ini, menurut Wisnu, belum memengaruhi realiasi investasi. Karena biasanya, rencana investasi dilakukan pada awal tahun, sedangkan kenaikan harga minyak baru terjadi sekitar dua bulan terakhir.
"Mudah-mudahan dengan harganya naik, targetnya tahun depan investasinya juga naik,” ujar Wisnu.
Demikian juga investasi pada bidang eksplorasi untuk menemukan wilayah kerja baru juga naik hingga 15 persen.
Tahun depan, SKK Migas akan melakukan penyesuaian harga acuan minyak bumi hingga USD 58-59 per barel, tahun ini menggunakan acuan USD48. Namun, SKK Migas tetap berhati-hati dan bertindak konservatis untuk menentukan harga minyak ini.
“Kita syukuri harga minyak yang cukup tinggi ini. Jadi ada bahan dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) untuk meningkatkan produksi,” ujar dia.