Ekonomi

La Nina diperkirakan dorong kenaikan harga minyak kelapa sawit

La Nina yang menyebabkan curah hujan tinggi akan mempengaruhi panen tandan buah segar (TBS) di perkebunan

Muhammad Nazarudin Latief   | 28.09.2020
La Nina diperkirakan dorong kenaikan harga minyak kelapa sawit ILUSTRASI: (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Fenomena cuaca La Nina yang diperkirakan membuat curah hujan lebih lebih tinggi akan mendorong kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil).

Para ahli memperkirakan kemungkinan besar La Nina akan terjadi pada Oktober hingga Desember di wilayah perkebunan kelapa sawit Asia Tenggara.

Sementara itu, harga CPO baru-baru ini naik pada level RM3.000 per ton atau sekitar Rp10 juta dari harga terendah RM2.000 per ton (Rp7 juta) pada Mei, seperti dikutip The Star.

Menurut konsultan industri MR Chandran, tingginya harga CPO pada dasarnya disebabkan oleh lonjakan harga kedelai dan antisipasi penurunan produksi CPO dari produsen utama Malaysia dan Indonesia tahun ini.

“Harga kedelai ini naik 13 persen dalam sebulan karena cuaca buruk dan peningkatan penggunaan minyak kedelai untuk konversi menjadi biodiesel di AS."

"Namun, tidak diragukan lagi bahwa dampak langsung dari La Nina dapat mendukung harga CPO karena curah hujan yang tinggi akan mempengaruhi panen tandan buah segar (TBS) di perkebunan, yang mengakibatkan penundaan evakuasi tanaman,” jelas Chandran.

Menurut dia beberapa perkebunan kelapa sawit juga dapat mengalami penurunan produksi sekitar 5 hingga 10 persen akibat banjir di ladang yang sudah tua.

Namun, banjir biasanya hanya memberi efek jangka pendek, tambah dia.

Direktur Pelaksana Kim Loong Resources Bhd Gooi Seong Heen berpendapat bahwa “cuaca akan memainkan peran penting dalam menentukan produksi komoditas pertanian."

“La Nina diperkirakan terjadi dalam tiga bulan ke depan, yang dapat mempengaruhi produksi kedelai sehingga dapat menjaga harga komoditas ini tetap tinggi.

“Sampai sejauh mana, tidak ada yang tahu. Jadi, sebaiknya tetap kurangi stok CPO saat ini selama periode ini sebanyak mungkin, ”kata Gooi.

Dia mencatat, harga CPO ditentukan oleh harga minyak nabati yang bersaing, terutama minyak kedelai.

Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh harga minyak mentah karena produksi biodiesel juga mengkonsumsi CPO “jika harganya tepat”.

“Namun, harga minyak mentah diperkirakan masih rendah dalam beberapa waktu ke depan. Meskipun inflasi akan membantu menaikkan harga CPO, hal ini tidak mungkin terjadi dengan pandemi Covid-19, ”ujarnya.

Dengan kemungkinan produksi CPO yang tidak akan meningkat secara signifikan untuk sisa tahun ini, Gooi berharap harga CPO dapat dipertahankan pada level saat ini hingga kuartal pertama tahun depan.

Dia juga mengatakan bahwa jika vaksin Covid-19 dapat ditemukan dan kegiatan ekonomi kembali ke level sebelum pandemi 19, maka permintaan CPO kemungkinan akan meningkat secara substansial dan meningkatkan harga lebih lanjut.

Harga CPO rata-rata untuk 2020 tampaknya menuju menuju RM2.600 per ton (Rp9,2 juta), kata Gooi.

“Mudah-mudahan harga CPO rata-rata untuk 2021 akan menjadi sekitar RM2.700 per ton (Rp9,6 juta) mengingat stok minyak sawit harus dipertahankan di bawah angka dua juta ton pada akhir 2020.”

CEO Asosiasi Kelapa Sawit Malaysia Datuk Nageeb Wahab menilai fenomena La Nina yang diprediksi tahun ini akan berefek moderat.

“Cuaca buruk apa pun akan mempengaruhi produksi buah sawit, terutama ketika perusahaan perkebunan saat ini menghadapi kekurangan pekerja yang parah di perkebunan mereka secara nasional,” tambah dia.

Diperkirakan kekurangan tenaga kerja di sektor perkebunan akan berlipat ganda atau meningkat menjadi 62.000 pada akhir tahun ini dari kekurangan sekitar 36.000 sebelum wabah Covid 19.

Untuk 2020, produksi CPO diperkirakan turun menjadi sekitar 19,3 juta-19,4 juta ton, jauh lebih rendah dari 19,8 juta ton yang tercatat pada 2019.

Public Investment Bank Bhd (PIB) merevisi perkiraan harga CPO 2020 menjadi RM2.600 per ton (Rp9,6 juta) dari sebelumnya RM2.500 per ton (Rp9,5 juta).

Akibatnya, pialang juga menaikkan perkiraan pendapatannya sebesar 5 -10 persen di seluruh perusahaan perkebunan.

Ini juga meningkatkan penghasilan harga berlipat ganda satu kali untuk mencerminkan prospek harga CPO yang positif dalam waktu dekat.

Namun, PIB mempertahankan sikap "netral" di sektor tersebut, mengutip prediksi harga CPO sebesar RM2.500 per ton (Rp8,9) untuk 2021.

“Kami menyarankan investor untuk melihat ke perusahaan perkebunan kecil-menengah, yang memberikan keuntungan lebih menarik, "kata di.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın