Muhammad Nazarudin Latief
02 Januari 2018•Update: 02 Januari 2018
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia turun sebanyak 1,19 juta jiwa, dari 27,77 juta jiwa pada Maret 2017 menjadi 26,58 juta jiwa pada September 2017.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dengan demikian angka kemiskinan di Indonesia kini hanya sebesar 10,12 persen dari total penduduk, turun 0,52 persen poin dibanding Maret 2017 sebesar 10,64 persen.
Suhariyanto mengklaim ini sebagai keberhasilan subsidi yang kian tepat sasaran seperti program beras sejahtera dan kebijakan sosial lain seperti Program Keluarga Harapan (PKH).
“Ini penurunan terbesar selama tujuh tahun,” ujar Suhariyanto.
Secara umum, kata Suhariyanto, tingkat kemiskinan Indonesia turun pada periode 1999-September 2017.
Kecuali pada 2006, September 2013, dan Maret 2015 yang naik seiring kenaikan harga barang kebutuhan pokok akibat naiknya harga bahan bakar minyak.
Menurut Suhariyanto, penurunan jumlah penduduk miskin ini tidak terlepas dari rendahnya inflasi pada periode Maret-September yang hanya 1,45 persen. Selain itu, juga terjadi kenaikan upah nominal harian buruh tani dan buruh bangunan.
Faktor lain yang menurunkan tingkat kemiskinan, adalah meningkatnya upah riil buruh tani.
Selain itu, pada periode Maret-September 2017, laju pertumbuhan harga komoditi pangan cukup terkendali.
Sebagian penduduk miskin, kata Suhariyanto, berdomisili di wilayah pedesaan dengan mata pencaharian petani kecil dan buruh tani.
Karena itu, jumlah penduduk miskin di pedesaan juga tercatat turun sebanyak 786,95 ribu, dari 17,10 juta pada Maret 2017 menjadi 16,31 juta pada September 2017.
Komoditi yang memberi sumbangan besar terhadap kemiskinan di pedesaan adalah beras, rokok kretek filter, telor ayam ras, gula pasir, dan daging sapi. Sementara di perkotaan adalah beras, rokok, daging sapi, telor ayam ras, dan daging ayam ras.
“Pesan dari fakta ini adalah agar tidak ada gejolak kemiskinan, maka stabilitas harga pangan harus dijaga,” ujar Suhariyanto.