Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia menargetkan peningkatan transaksi perdagangan sebanyak 11 persen dengan negara-negara Afrika tahun ini.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan negara-negara Afrika merupakan pasar nontradisional yang tengah berkembang.
Tahun lalu, nilai perdagangan Indonesia-Afrika mencapai USD 8,84 miliar atau meningkat sebesar 15,25 persen dibandingkan 2016.
“Ada potensi yang besar di Afrika,” ujar Menteri Enggar dalam siaran persnya, Rabu.
Menurut Menteri Enggar, salah satu hambatan perdagangan dengan Afrika adalah soal tarif. Ini karena belum ada perjanjian dagang yang mengikat.
Selain itu, kesepakatan dengan negara-negara di Afrika belum dapat dilakukan secara bilateral, karena adanya kesepakatan regional yang mengikat negara-negara tersebut.
“Tantangan lainnya adalah dinamika politik internal di Afrika yang membuat kawasan sering tidak stabil,” ujar Menteri Enggar.
Menteri Enggar melakukan pertemuan dengan delegasi Maroko, Somalia dan Nigeria di sela-sela kegiatan Indonesia-Afrika Forum di Bali.
Saat melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Moroko Mounia Boucetta, Menteri Enggar mengusulkan tentang kesepakatan tarif preferensial (PTA).
Mounia mendukung usulan tersebut dan akan memulai pembahasan dengan pertemuan para ahli sebelum Juni 2018.
Indonesia-Maroko juga akan membahas peningkatan kerja sama dan kapasitas kedua negara. Menteri Enggar juga menyiapkan misi dagang ke Maroko pada 27-28 Juni 2018.
Maroko merupakan salah satu pasar ekspor nontradisional yang menjadi penghubung ke pasar Afrika. Total perdagangan Indonesia-Maroko pada 2017 mencapai USD 154,8 juta.
Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia ke Maroko sebesar USD 86 juta, dan impor Indonesia dari Maroko sebesar USD 68,8 juta.
Menteri Enggar juga bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Somalia, Mukhtar Mahat Daud.
Somalia merupakan pasar potensial bagi Indonesia karena situasinya yang mulai pulih dari perang. Namun, ekspor Indonesia belum bisa dilakukan secara langsung karena faktor keamanan.
Ekspor Indonesia ke Somalia masih melalui pihak ketiga, yaitu Kenya. Total perdagangan kedua negara memberikan surplus bagi Indonesia sebesar USD 75,5 juta.
“Surplus ini dicapai dikarenakan tidak adanya produk Somalia yang diekspor ke Indonesia. Sebaliknya, produk ekspor Indonesia yang cukup dikenal di Somalia yaitu sarung, mi instan, dan kosmetika,” jelas Menteri Enggar.
Menteri Enggar juga bertemu dengan Permanent Secretary of Federal Ministry of Mining and Steel Nigeria Abdulkadir Muazu.
Dalam pertemuan tersebut Indonesia meminta konfirmasi terkait PTA Indonesia-Nigeria dan PTA Indonesia-The Economic Community of West African States (ECOWAS) dan meminta dukungan dari Permanent Secretary untuk menyampaikan kepada pemerintahnya agar negosiasi PTA secara bilateral dimulai.
Total perdagangan Indonesia-Nigeria pada 2017 mencapai USD1,63 miliar. Nilai ini diperoleh dari ekspor Indonesia sebesar USD343,8 juta dan impor USD1,29 miliar. Indonesia masih mengalami defisit sebesar USD945,3 juta dari impor minyak mentah.
Salah satu nilai plus dari Indonesia dalam upaya meningkatkan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Afrika adalah adanya ikatan historis emosional di masa lampau.
“Ikatan historis emosional ini yang membuat hubungan antara Indonesia dan Afrika menjadi istimewa,” ujar Menteri Enggar.
Dalam pidato sambutannya, Menteri Enggar mengatakan, Indonesia-Afrika mempunyai hubungan yang panjang, dimulai pada 1652 saat serombongan orang dari Jawa berlayar ke Tanjung Harapan.
Kemudian diikuti dengan kedatangan Syech Yusuf dari Makasar pada 1694 yang menjalani hukumannya di Cape Town.
Kemudian pada abad ke-21, keturunan Jawa dan Bugis dikenal di Afrika Selatan sebagai Cape Malayan, dengan populasi mencapai 116 ribu di Cape Town dan 10 ribu di Johannesburg.
“Orang-orang Cape Malayan ini menyebar ke seluruh Afrika. Mungkin bermigrasi Mozambik, Nigeria, Kenya, Tanzania dan negara-negara Afrika lainnya. Jika Anda bertemu sampaikan ‘Salam Sejahtera’,” ujar Menteri Enggar.
news_share_descriptionsubscription_contact
