Muhammad Nazarudın Latıef
21 Januari 2020•Update: 21 Januari 2020
JAKARTA
Indonesia akan menyelesaikan pembahasan isu-isu perdagangan di World Trade Organization (WTO) di sela-sela pertemuan tahunan World Economy Forum (WEF) ke-50 pada 21-24 Januari 2020, di Davos Swiss.
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan Indonesia bersama anggota WTO yang lain akan membahas persiapan Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-12 di Nur-Sultan, Kazakhstan Juni 2020.
“Indonesia siap mengawal misi penyelesaian isu-isu WTO yang masih tertunda dan menjadi kepentingan nasional,” ungkap Mendag Agus, dalam siarannya, Senin.
Beberapa isu tertunda WTO yang menjadi prioritas utama Indonesia adalah isu pertanian terkait cadangan pangan untuk ketahanan pangan (public stockholding for food security purposes/PSH) dan mekanisme pengamanan khusus (special safeguard mechanism/SSM) dan subsidi perikanan (fisheries subsidies).
Isu lain adalah tata niaga elektronik (e-comerce), fasilitasi investasi, hak kekayaan intelektual (HKI) nonviolation and situation complain, penyelesaian badan banding (appellate bodies) WTO dan isu perlakuan khusus dan berbeda (special and differential treatment).
Indonesia terus mendesak WTO melarang fisheries subsidies pada perusahaan besar yang berkontribusi pada penangkapan ikan berlebihan.
Indonesia juga mengusulkan agar WTO mengatur subsidi dari negara ke perusahaan besar yang menjalankan bisnis perikanan.
Indonesia menilai subsidi kepada perusahaan besar tidak adil pada nelayan kecil perorangan, yang hanya bisa beroperasi di dekat daerah pantai. Nelayan besar bisa menangkap ikan di laut lepas, sementara nelayan independen hanya sejumlah kecil di dekat pantai.
Selama ini negara-negara yang memberikan subsidi kepada perusahaan perikanan besar adalah China, Spanyol dan Jepang. Sementara Indonesia bersama dengan Norwegia, dan beberapa di Afrika, Samudra Pasifik, serta Karibia menentang praktik tersebut.
Cari kerja sama perdagangan
Kehadiran Menteri Agus Suparmanto merupakan salah satu langkah awal meningkatkan kerja sama perdagangan Indonesia dengan dunia usaha global.
“Tidak hanya dengan mitra kerja pemerintah, tetapi juga dengan dunia usaha global," ujar dia.
WEF 2020 mengangkat tema “Stakeholders for a Cohesive and Sustainable World” dan akan menghadirkan 761 pembicara terkemuka di bidang ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup, dan geopolitik.
WEF adalah organisasi nonprofit kerja sama pemerintah dan swasta yang didirikan di Jenewa pada 1971 oleh Klaus M. Schwab, seorang profesor bisnis di Swiss. WEF mengadakan pertemuan tahunan di Davos, Swiss.
Kegiatan ini mempertemukan para pemimpin dunia di berbagai bidang untuk mendiskusikan isu-isu ekonomi, kesehatan, lingkungan, perubahan iklim, energi, dan lain-lain.
WEF dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia baik dari pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, praktisi ekonomi, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).