Muhammad Nazarudin Latief
22 Juli 2018•Update: 23 Juli 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia mengirimkan misi dagang ke Amerika Serikat untuk membahas peningkatan kerja sama ekonomi dan perdagangan, Minggu, dipimpin oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.
Menteri Enggar mengatakan, AS merupakan mitra dagang utama, sehingga upaya untuk lebih mempererat kerja sama menjadi penting. Kunjungan ini menjadi lebih penting di tengah situasi perang dagang dan ancaman pencabutan kebijakan Generalized System of Preference (GSP) yaitu perlakuan khusus impor pada Indonesia.
“Sebagai dua negara demokrasi besar dengan pasar yang berkembang, kami optimistis kunjungan kali ini akan membuahkan hasil nyata dalam mendorong kemitraan ekonomi yang lebih luas,” ujar Menteri Enggar melalui siarannya.
Jika Presiden Donald Trump mencabut GSP, maka Indonesia harus membayar bea masuk impor sekitar USD1,7-1,8 miliar atau sekitar Rp25 triliun tiap tahun.
Menurut Menteri Enggar, pihaknya akan berbicara secara resmi dengan Menteri Perdagangan AS dan Duta Besar United States Trade Representative (USTR) untuk membahas masalah ini. Selain itu, juga akan dibicarakan kebijakan kenaikan bea masuk produk baja dan aluminium ke AS, serta beberapa isu akses pasar AS di Indonesia.
Menteri Enggar juga akan menghadiri forum bisnis dan one-on-one business matching antara pelaku usaha Indonesia dan AS. Para pelaku usaha tersebut akan menjajaki berbagai peluang kerja sama di Washington DC Selasa mendatang.
Delegasi bisnis dari Indonesia terdiri atas Kadin Indonesia, Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI), Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), produsen ban mobil, minyak kelapa sawit, boga bahari, baja, aluminium, serta makanan dan minuman (mamin).
“Pertemuan dengan AS sangat penting untuk memperdalam kemitraan strategis Indonesia dan AS yang telah dicanangkan kedua negara. Kemitraan tersebut harus dikelola, dijaga dan di tindaklanjuti agar senantiasa saling menguntungkan,” ujar Menteri Enggar.
Menurut dia, para pelaku usaha Indonesia yang memiliki mitra dagang di AS siap meningkatkan transaksi dagang b-to-b dengan para pelaku usaha AS. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan total perdagangan Indonesia dan AS pada 2017 sebesar USD 25,91 miliar.
Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD17,79 miliar dan impor Indonesia sebesar USD8,12 miliar. Indonesia surplus terhadap AS sebesar USD9,67 miliar.
Ekspor utama Indonesia ke AS antara lain udang, karet alam, alas kaki, ban kendaraan, dan garmen. Sementara impor utama Indonesia dari AS antara lain kedelai, kapas, tepung gandum, tepung maizena, serta pakan ternak.