İqbal Musyaffa
23 Januari 2018•Update: 24 Januari 2018
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menyebut penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan terjadi di ratusan daerah di Indonesia pada tahun ini tidak akan memengaruhi stabilitas sistem keuangan dan makroekonomi.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo pada Selasa, stabilitas sistem keuangan terpisah dari dinamika politik.
“Kita harus lihat sejarah, dalam empat tahun terakhir selalu ada Pilkada dan Pilpres,” ujar dia, Selasa.
Pemerintah, menurut dia, sudah memiliki instrumen berupa Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan menghadapi berbagai tantangan global dan domestik.
Meskipun tahun ini adalah tahun politik, pemerintah dan bank sentral terus berupaya melakukan pengendalian inflasi di kisaran 3,5 plus minus 1 persen pada tahun ini.
Menurut Agus, defisit transaksi berjalan berpotensi meningkat namun tetap di kisaran aman yakni 2-2,5 persen dari GDP.
“Rating investasi Indonesia juga mulai meningkat dan akan membuat dana masuk ke Indonesia tetap baik untuk mendukung perekonomian,” urai Agus.
BI, menurut dia, juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak menimbulkan volatilitas tinggi yang menyebabkan kepanikan di masyarakat.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berkisar di angka 5,1-5,5 persen dan pertumbuhan kredit sebesar 10-12 persen.
“Apabila fundamental kita kuat, maka tidak perlu ada penyesuaian policy rate dan nilai tukar meskipun The Fed nanti akan kembali menaikkan suku bunganya,” jelas Agus.