Pilot militer dan eksekutif industri pertahanan Italia memuji kemampuan teknis Baykar setelah keberhasilan uji terbang gabungan antara pesawat berawak dan pesawat tempur nirawak.
Mereka menilai para insinyur muda perusahaan asal Turkiye itu sangat kompeten, termotivasi, dan mampu mempercepat pengembangan teknologi tempur udara masa depan.
Komandan Giacomo Iannelli, pilot penguji sekaligus instruktur proyek di Divisi Pesawat Leonardo, mengatakan Baykar merupakan perusahaan yang berkembang sangat pesat dengan didukung sumber daya manusia muda yang berkualitas.
"Saya melihat Baykar sebagai perusahaan yang berkembang sangat cepat dan masih sangat muda. Orang-orangnya sangat termotivasi, didominasi anak muda yang justru banyak mengajarkan saya," kata Iannelli.
Umberto Rossi, salah satu pemimpin proyek Future Combat Air di Leonardo, juga memuji pesawat tempur nirawak Kizilelma buatan Baykar.
"Luar biasa bisa bekerja dengan Kizilelma, produk Baykar yang sangat canggih," ujarnya.
Menurut Rossi, kemampuan operasi otonom dan teknologi siluman yang dimiliki pesawat tempur tersebut menjadi keunggulan utama.
"Kami juga menemukan para insinyur yang sangat kompeten. Insinyur Turki sangat berkualitas dan sangat termotivasi," katanya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan Baykar memungkinkan pengembangan proyek berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses yang biasa dijalankan di Eropa.
"Leonardo bekerja dengan proses-proses di Eropa yang biasanya sangat lambat. Namun, bersama rekan-rekan kami dari Turkiye, kami mampu bergerak dengan sangat cepat," ujar Rossi.
Uji terbang gabungan
Kedua perusahaan pada Senin memaparkan proses di balik keberhasilan uji terbang yang mempertemukan pesawat berawak dan pesawat tempur nirawak dalam formasi otonom.
Para insinyur dan pilot mempresentasikan hasil program K-SWARM pada Farnborough International Airshow di Inggris.
Uji terbang langsung tersebut dilakukan pada Mei di pusat uji terbang Baykar di Corlu, Turkiye, untuk memvalidasi kemampuan kerja sama antara pesawat berawak dan nirawak (Crewed-Uncrewed Teaming/CUC-T) dalam operasi tempur udara masa depan.
Dalam uji coba itu, pesawat tempur nirawak Bayraktar Kizilelma melakukan pergerakan di landasan dan lepas landas secara otonom sebelum bergabung di udara dengan jet tempur Leonardo M-346.
Sebuah pesawat lain, T-346A milik Angkatan Udara Italia, bertindak sebagai pesawat pengawal.
Setelah berada di udara, M-346 mengambil alih kendali Kizilelma menggunakan sistem avionik terintegrasi dan sistem komputasi baru yang dikembangkan khusus.
Pilot di dalam M-346 mengirimkan berbagai perintah yang kemudian dijalankan secara otonom oleh Kizilelma, termasuk perubahan posisi dan manuver pemisahan.
Kemitraan Baykar dan Leonardo bermula dari penandatanganan nota kesepahaman di Roma pada Maret 2025, kemudian diperkuat melalui peluncuran perusahaan patungan LBA Systems dalam Paris Air Show pada Juni.
Perusahaan patungan yang berbasis di Italia dan dimiliki secara setara oleh kedua pihak itu berfokus mengembangkan sistem udara nirawak dengan menggabungkan keahlian Baykar di bidang platform nirawak canggih serta kemampuan Leonardo dalam sistem elektronik, muatan misi, dan teknologi kerja sama pesawat berawak dan nirawak.
Kemampuan otonom canggih
Menyoroti kecanggihan teknologi Baykar, Rossi mengatakan pesawat tempur nirawak Kizilelma menunjukkan kemampuan operasi otonom tingkat lanjut selama uji terbang gabungan.
"Kolaborasi ini sangat sukses antara Baykar dari Turkiye dan Leonardo dari Italia, dua perusahaan dengan teknologi sangat maju yang mewakili level tertinggi di bidang ini," katanya.
Menurut Rossi, tujuan kerja sama tersebut adalah mengembangkan, mengintegrasikan, dan memvalidasi teknologi kerja sama pesawat berawak dan nirawak yang memungkinkan sebuah pesawat berawak memimpin formasi beberapa UAV.
"Kami bersama-sama mengembangkan kemampuan tersebut, yang telah berhasil didemonstrasikan dan divalidasi melalui sejumlah uji terbang eksperimental di Turkiye," ujarnya.
Iannelli mengatakan kombinasi pesawat tempur berawak dan drone otonom berpotensi melipatgandakan kemampuan tempur sekaligus mengurangi risiko bagi pilot.
"Dengan begitu, pesawat nirawak dapat menjalankan misi-misi paling berbahaya yang biasanya tidak akan diberikan kepada pilot. Seluruh operasi dapat dikendalikan dari satu pesawat sehingga risiko bagi awak yang menjalankan misi berkurang secara signifikan," katanya.
Berpotensi diminati NATO
Menanggapi peluang adopsi teknologi tersebut oleh pasar global dan negara-negara NATO, Iannelli meyakini teknologi hasil kolaborasi Baykar dan Leonardo akan mendapat perhatian besar.
"Saya rasa sebagian besar negara anggota NATO akan memberikan perhatian yang sangat serius terhadap teknologi ini," ujarnya.
Ia menilai teknologi tersebut termasuk yang paling maju karena telah berhasil memperlihatkan pesawat berawak yang menggunakan sistem avioniknya sendiri untuk mengendalikan pesawat nirawak saat terbang.
Sementara itu, Rossi mengatakan teknologi tersebut masih terus dikembangkan dan memerlukan penyempurnaan sebelum memenuhi standar sertifikasi internasional.
"Kami yakin dalam waktu yang tidak lama lagi kemampuan yang sedang dikembangkan Leonardo dan Baykar ini akan diperkenalkan kepada negara-negara NATO. Kami percaya teknologi ini akan sangat diminati NATO, Eropa, dan pasar internasional," katanya.