Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 Maret 2019•Update: 12 Maret 2019
Nilay Kar Onum
ISTANBUL
Tahun 2018 menjadi tahun dengan angka kematian anak-anak tertinggi di Suriah, sementara perang sipil memasuki tahun kesembilan, badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, mengumumkan pada Senin.
"Anak-anak di beberapa bagian negara masih berada dalam bahaya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam sebuah pernyataan.
“Pada 2018 saja, 1.106 anak-anak terbunuh dalam konflik, jumlah terbanyak dalam satu tahun sejak dimulainya perang," ujar Fore.
"Ini hanya angka-angka yang dapat diverifikasi PBB, yang berarti angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi," tambahnya.
Fore mengatakan bahwa 262 serangan dilakukan terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan pada 2018, angka yang dia sebut sebagai rekor tertinggi.
Dia menyatakan keprihatinannya tentang situasi di Idlib, Suriah, di mana intensifikasi kekerasan dilaporkan telah menewaskan 59 anak dalam beberapa minggu terakhir.
“Anak-anak dan keluarga di tanah tak bertuan terus hidup dalam ketidakpastian. Situasi keluarga di Rukban, dekat perbatasan Yordania, terus putus asa, dengan akses terbatas ke makanan, air, tempat tinggal, perawatan kesehatan dan pendidikan,” kata Fore.
Kondisi di kamp Al Hol memburuk
Direktur UNICEF juga khawatir dengan kondisi yang memburuk di kamp Al Hol, provinsi al-Hasakeh, yang sekarang menampung lebih dari 65.000 orang, termasuk sekitar 240 anak-anak yang tidak didampingi atau terpisah.
“Sejak Januari tahun ini, hampir 60 anak-anak dilaporkan meninggal saat menempuh perjalanan sejauh 186 kilometer dari Baghouz ke kamp itu,“ ungkap Fore.
"Nasib anak-anak pejuang asing di Suriah masih belum jelas," tambahnya.
UNICEF juga mendesak negara-negara anggota untuk bertanggung jawab atas anak-anak yang merupakan warga negara mereka atau lahir dari warga negara mereka dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah mereka menjadi anak-anak tanpa kewarganegaraan.
Seruan untuk perlindungan anak-anak
UNICEF menegaskan kembali seruannya kepada semua pihak dalam konflik serta mereka yang memiliki pengaruh di dalamnya untuk memprioritaskan perlindungan semua anak, tidak peduli siapa yang mengendalikan daerah mana dan terlepas dari dugaan afiliasi keluarga anak tersebut.
“Kami juga menegaskan kembali seruan kami untuk akses tanpa syarat dan aman ke keluarga yang membutuhkan dan untuk solusi jangka panjang yang bersifat sukarela dan berkelanjutan bagi mereka yang memilih untuk tidak kembali," ujar Fore.
Menjelang konferensi di Brussel pada 12-14 Maret, Fore mendesak para donor untuk mempertahankan kedermawanan mereka terhadap anak-anak Suriah dan negara-negara tetangga.
Suriah menderita akibat perang sipil sejak awal 2011, ketika rezim Assad menyerang demonstran pro-demokrasi dengan brutal.
Ratusan ribu warga sipil terbunuh atau terlantar akibat konflik, terutama oleh serangan udara rezim yang menargetkan daerah-daerah yang dikuasai oposisi.