Dunia

Uni Eropa: AS dan Iran 'mungkin' lakukan pembicaraan kesepakatan nuklir

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa memimpin pembicaraan 'intensif' untuk membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan, kata jubir Komisi Uni Eropa

Muhammad Abdullah Azzam   | 22.02.2021
Uni Eropa: AS dan Iran 'mungkin' lakukan pembicaraan kesepakatan nuklir Ilustrasi: Bendera Uni Eropa. (Foto file - Anadolu Agency)

Brussels Hoofdstedelijk Gewest

Agnes Szucs

BRUSSELS

Pertemuan antara Amerika Serikat (AS), Iran dan pihak lain dari kesepakatan nuklir Iran "memungkinkan," kata seorang pejabat Uni Eropa.

"Tapi belum ada tanggalnya," kata Peter Stano, kepala juru bicara Komisi Eropa untuk urusan luar negeri, pada konferensi pers harian pada Jumat.

Stano mengatakan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell "bekerja sangat keras untuk mengembalikan JCPOA ke jalur yang sesuai untuk membawa Iran kembali ke kepatuhan penuh dan melihat bagaimana kita dapat membawa AS ke meja perundingan."

Jubir Komisi Eropa itu juga meyakinkan bahwa Uni Eropa "siap untuk mengadakan pembicaraan informal" antara pihak-pihak dalam kesepakatan nuklir.

“Diskusi yang intens sedang berlangsung dengan semua peserta, termasuk AS,” tambah dia, menyambut sinyal baik dari pemerintahan Presiden Joe Biden yang “menciptakan ruang untuk maju dengan semua pihak dalam upaya diplomatik ini.”

“Sekarang waktunya untuk diplomasi, kita lakukan secara intensif,” kata Stano.

Pada Kamis, Ned Price, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, mengatakan Washington terbuka untuk undangan dari Uni Eropa terkait pertemuan dengan negara kekuatan dunia dan Iran untuk membahas kembali ke perjanjian nuklir 2015.

Perjanjian nuklir - secara resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) - ditandatangani pada 2015 oleh Iran, AS, China, Rusia, Prancis, Inggris, Jerman, dan Uni Eropa.

Berdasarkan kesepakatan itu, Teheran diizinkan untuk memperkaya uranium hingga konsentrasi 3,67 persen dan sebagai imbalannya kekuatan dunia setuju untuk mencabut sanksi ekonomi mereka terhadap Iran.

Namun, AS, di bawah mantan Presiden Donald Trump, secara sepihak menarik AS dari perjanjian pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, mendorong Teheran untuk berhenti mematuhi kesepakatan nuklir.

Pada Januari, Iran mengumumkan rencana baru untuk lebih meningkatkan pengayaan uranium sebagai tindakan balasan terhadap sanksi yang diperkenalkan oleh pemerintahan Trump.

Terlepas dari langkah penarikan AS itu, Jerman, Prancis, dan Inggris berulang kali menggarisbawahi komitmen mereka terhadap kesepakatan tersebut dan mendesak Teheran untuk kembali mematuhi perjanjian secara sepenuhnya.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.