Astudestra Ajengrastrı
29 Agustus 2018•Update: 30 Agustus 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden AS Donald Trump memperingatkan para pemuka kaum evangelis dalam pertemuan khusus akan adanya ancaman "kekerasan" dari kelompok sayap kiri bila Partai Republik kalah dalam pemilihan umum tengah masa jabatan di November ini, menurut laporan yang diterbitkan pada Selasa.
"Tingkat kebencian, tingkat kemarahan ini sangat tinggi," ujar Trump dalam pertemuan tertutup di Senin malam yang diadakan di Gedung Putih, menurut NBC News, yang berhasil mendapatkan rekaman pertemuan tersebut.
"Sebagian di antaranya karena beberapa hal yang telah saya lakukan untuk Anda dan untuk saya dan untuk keluarga saya, namun saya telah melakukannya... Pemilihan umum 6 November ini adalah sebuah referendum, bukan hanya terhadap saya, tapi juga referendum terhadap agama Anda, ini adalah referendum terhadap kebebasan berbicara dan Amandemen Pertama," imbuh dia.
Bila Partai Republik kalah dalam pemilu tengah masa jabatan di November ini, kata Trump, "mereka akan membalikkan semua yang sudah kita lakukan dan mereka akan melakukannya dengan cepat dan dengan kekerasan, dengan kekerasan. Akan ada kekerasan. Jika Anda melihat Antifa dan beberapa kelompok semacamnya -- ini adalah orang-orang yang kasar."
Trump merujuk pada kelompok sayap kiri-jauh yang selalu berpakaian hitam-hitam dan menamakan diri Antifa, yang melakukan demonstrasi di seluruh AS, di mana beberapa di antaranya berakhir dengan kerusuhan.
Presiden lebih lanjut mengatakan telah menghapuskan undang-undang yang dikenal dengan nama Amandemen Johnson yang melarang organisasi nonprofit, termasuk organisasi keagamaan dan amal, untuk mendukung atau menentang kandidat politik.
"Sekarang Anda sudah tidak dibungkam lagi. Hukum itu sudah tidak ada dan tidak ada penalti lagi dan jika Anda ingin seseorang atau Anda tidak suka seseorang maka Anda bisa keluar dan berkata, 'Orang ini akan membawa kebaikan bagi evangelis, atau untuk Kristen atau untuk agama lain. Dia adalah seseorang yang saya sukai dan saya akan membicarakannya pada hari Minggu'," ujar dia.
Namun undang-undang ini masih berlaku, meskipun Trump sudah berusaha keras untuk menghapuskannya, seiring dengan penolakan selama berpuluh tahun dari kaum evangelis.
Trump menandatangani perintah eksekutif di awal masa jabatannya sebagai presiden untuk menghapuskan Amandemen Johnson, namun usaha ini belum membuahkan hasil, tak seperti klaimnya. Pembatalan sebuah undang-undang hanya bisa dilakukan oleh Kongres atau Mahkamah Agung, setelah kedua lembaga memutuskan peraturan terkait inkonstitusionil, yang dalam hal ini tidak terjadi.
Kaum evangelis adalah kantong suara yang besar bagi Trump, dan acara yang diadakan pada Senin malam di Ruang Makan Kepresidenan adalah usaha untuk tetap mendapatkan dukungan mereka.