Michael Hernandez
13 Desember 2017•Update: 14 Desember 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghina seorang senator Demokrat pada Selasa dengan menyindir bahwa Kirsten Gilligrand akan "melakukan apapun" untuk uang.
"Senator pemula Kirsten Gillibrand, jongosnya Chuck Schumer adalah seseorang yang pernah ke kantor saya 'mengemis' untuk kontribusi terhadap kampanyenya (dan dia siap melakukan apapun untuk itu). Dia sekarang masuk ke ring untuk bertarung dengan Trump," cuit presiden AS itu di Twitter.
Ia juga mengatakan senator asal New York itu "tidak setia".
Gillibrand membalas mengatakan tulisan di media sosial itu adalah "penodaan seksis" yang bertujuan membungkam dirinya di tengah meningkatnya tekanan dari perempuan-perempuan yang menuduh Trump melakukan pelecehan seksual.
"Saya tidak akan tinggal diam mengenai isu ini, sama dengan perempuan-perempuan yang berani menghadapi presiden," kata dia kepada pers.
Elizabeth Warren, anggota senat dari Partai Demokrat, juga menuliskan di Twitter: "Apakah Anda mencoba menindas, mengintimidasi dan mempermalukan @SenGillibrand? Apakah Anda tahu sedang menghadapi siapa?
Gedung Putih membela cuitan Trump itu dan mengatakan dia mengkritik sistem kontribusi kampanye Washington yang didominasi oleh transaksi politik.
"Ini sama sekali tidak seksis, dia hanya merujuk pada sistem yang memang bobrok, dimana mereka dengan kepentingan pribadi yang mengendalikan pemerintahan," kata juru bicara Sarah Huckabee Sanders kepada media. "Hanya bila pikiran Anda kotor Anda akan mengira ini lelucon jorok."
Trump memang dikenal sering menyerang perempuan secara verbal dan cenderung seksis.
Dia pernah mengkritik jurnalis Megyn Kelly, mengatakan Kelly "selalu berdarah-darah dari mana-mana" ketika Kelly melemparkan pertanyaan kepada Trump dalam acara debat calon presiden. Trump juga pernah mengkritik penampilan calon presiden Carly Fiorina yang menurut dia tidak akan mendapatkan suara rakyat karena mukanya jelek.
Pada Senin, tiga perempuan maju mengungkapkan klaim bahwa Trump pernah melakukan pelecehan seksual di tengah gerakan #MeToo dimana perempuan didukung untuk menceritakan pengalamannya.
Dalam kasus terbaru, anggota Partai Demokrat Al Franken dan John Conyers terpaksa mundur karena diserang tuduhan pelecehan seksual
Franken mengatakan siap mundur namun merasa "ironis karena pria yang membangga-banggakan fakta pernah melakukan pelecehan seksual masih duduk di Gedung Putih".