Dunia

Mantan PM Lebanon sebut Turki harus memulai kebijakan baru di kawasan

Mantan PM Lebanon Fouad Siniora mengatakan Turki sebagai kekuatan regional harus memainkan peran mediasi dengan Iran

Mahmoud Mohamed Barakat   | 08.04.2021
Mantan PM Lebanon sebut Turki harus memulai kebijakan baru di kawasan Mantan Perdana Menteri Libanon Fouad Siniora. (Foto file - Anadolu Agency)

Lebanon

ANKARA

Mantan Perdana Menteri Lebanon Fouad Siniora meminta Turki untuk memulai kebijakan baru di kawasan itu dan mengambil peran mediasi dalam pembicaraan dengan Iran untuk menghentikan kegiatan Iran di dunia Arab.

Siniora, yang menjadi perdana menteri antara 2005 dan 2009, berbicara dalam diskusi panel daring bertema "Mengubah Situasi Timur Tengah dan Prospek Kerja Sama dan Perdamaian", yang diselenggarakan pada Selasa oleh Pusat Penelitian Timur Tengah (ORSAM) yang berbasis di Ankara dan dimoderatori oleh direkturnya, Prof. Ahmet Uysal.

Menyatakan dunia sedang menyaksikan "krisis kepercayaan," Siniora menyinggung masalah yang meningkat di dunia, dengan mengatakan bahwa "resolusi internasional diabaikan dan kerja sama antar negara masih lebih tidak pasti dari sebelumnya."

Mengungkapkan multilateralisme sedang "diserang", mantan perdana menteri Lebanon itu menekankan dunia membutuhkan "komitmen pada tatanan berbasis aturan".

Ketidakstabilan di kawasan mendorong beberapa "kekuatan regional dan beberapa global untuk menggunakan negara-negara Arab sebagai medan perang" daripada terlibat dalam kerja sama, yang memberikan "kekuatan regional, termasuk dan terutama Iran dan Israel, peran yang tumbuh dalam memajukan destabilisasi kawasan oleh agresi langsung atau memicu konflik internal,” kata Siniora.

Siniora menggarisbawahi bahwa Iran saat ini melakukan perang proxy dan campur tangan langsung di empat negara Arab, yaitu Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman.

Mediasi Turki

Di sisi lain, Siniora mengatakan Turki dan dunia Arab terikat oleh kepentingan bersama, budaya, dan akar sejarah yang sama.

"Kawasan Arab mengharapkan peran positif dan konstruktif yang akan dimainkan oleh Turki, khususnya di Suriah dan Libya, atas dasar saling menghormati," tutur dia.

"Turki harus melakukan upaya yang sangat serius untuk benar-benar memulai kebijakan baru di kawasan itu."

Siniora mengatakan bahwa kebijakan baru Turki harus dimulai pertama dengan memperbaiki hubungan dengan dunia Arab dan kedua dengan mencoba mediasi dengan Iran.

Dia memperingatkan bahwa kebijakan Iran saat ini "tidak mengarah ke mana-mana" tetapi "akan berakhir dengan saling menghancurkan."

Siniora mendesak kekuatan regional untuk bekerja sama dan memanfaatkan sumber daya mereka untuk kebaikan mereka sendiri karena "semakin banyak tekanan akan dilakukan oleh negara adidaya dan mereka mencari medan perang untuk menggunakan senjata dan pengaruh baru dan kami akan menjadi bahan bakar untuk itu dan tidak lebih dan setelah mereka menghancurkan wilayah tersebut, mereka akan meminjamkan kami uang untuk menjalankan jenis kolonialisme abad ke-21 mereka."

Politisi Lebanon itu menekankan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dapat memainkan peran mediasi di wilayah tersebut.

"Saya menyarankan bahwa ini adalah upaya [mediasi] yang harus dilakukan oleh Presiden Erdogan, dan saya sangat mengagumi kepemimpinan, kebijakan, dan niat baiknya, dan saya pikir dia harus melakukan upaya ini dan saya pikir dia akan memahkotai kepemimpinannya dengan tugas ini jika berhasil," tutur dia.

Krisis Lebanon

Mengenai situasi di Lebanon, Siniora mengatakan "kami sedang melewati masa-masa yang sangat sulit, kami memiliki dominasi praktis di Iran”, mengacu pada kehadiran kelompok Syiah Lebanon, Hizbullah, yang menurutnya didirikan pada tahun 1992 dengan tujuan untuk "mengusir orang Israel dari Lebanon."

Namun, dia menyatakan bahwa setelah penarikan mundur Israel dari negara itu pada tahun 2000, misi kelompok itu berubah menjadi "melayani keinginan Iran."

Dia menekankan bahwa kelompok itu mengambil kendali Lebanon pada 2008, dan menggunakannya sebagai "platform untuk intervensi di dunia Arab."

Intervensi Hizbullah tumbuh setelah 2011 ketika kelompok itu memperluas pengaruhnya dengan intervensi militer di Suriah, Irak dan Libya dan tidak hanya itu, bahkan di Kuwait dan di banyak negara lain, kata Siniora.

Siniora mencatat bahwa masalah Lebanon dapat diselesaikan melalui persatuan dan mencari kepentingan negara, alih-alih kelompok politik, serta memungkinkan negarawan untuk melakukan pekerjaan mereka demi kebaikan negara.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın