Rania Abushamala
23 Juli 2026•Update: 23 Juli 2026
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania.
Menurut media pemerintah Iran, serangan itu disebut menyasar berbagai fasilitas militer, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur pendukung operasi militer AS.
Mengutip penyiar pemerintah Iran, IRIB, IRGC dalam pernyataannya mengatakan serangan tersebut menghancurkan gudang besar peralatan militer, sistem pertahanan udara Patriot milik AS, serta hanggar yang digunakan untuk menyimpan drone MQ-9 di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait.
IRGC juga mengklaim telah menyerang akomodasi personel militer AS serta dua hanggar helikopter di Kamp Udairi.
Kelompok itu menyatakan serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah personel militer AS, meski tidak merinci jumlah korbannya, serta menyebabkan kerusakan besar pada sejumlah helikopter dan drone.
IRGC mengatakan pihaknya juga menargetkan sebuah menara telekomunikasi sebagai balasan atas serangan AS terhadap infrastruktur komunikasi di Iran.
Kepada masyarakat Kuwait, IRGC menegaskan bahwa serangan tersebut hanya menyasar lokasi yang digunakan militer AS dan tidak dimaksudkan sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan maupun keutuhan wilayah Kuwait.
Kelompok itu juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania dan menghancurkan radar sistem pertahanan rudal THAAD, sistem Patriot, serta radar C-RAM.
Selain itu, IRGC menyebut serangan tersebut memicu kebakaran pada tangki bahan bakar, gudang peralatan helikopter, dan hanggar perawatan helikopter.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan ofensif gabungan terhadap Iran pada Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan bulan lalu untuk mengakhiri konflik dan mencapai kesepakatan damai jangka panjang. Namun, ketegangan kembali meningkat pekan lalu terkait Selat Hormuz ketika kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.