Politik, Dunia

India tuding Pakistan di balik serangan bom mematikan di Kashmir

Pakistan menyangkal tuduhan, jam malam diberlakukan di sebagian wilayah Jammu dan Kashmir

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 15.02.2019
India tuding Pakistan di balik serangan bom mematikan di Kashmir Perdana Menteri India Narendra Modi memimpin pertemuan keamanan nasional pada 15 Februari 2019 untuk mendiskusikan situasi yang menegang setelah serangan militan Kashmir pada 14 Februari. (Foto file - Anadolu Agency)

Delhi

Ahmad Adil, Zahid Rafiq dan Aamir Latif

CHANDIGARH, India / ISLAMABAD, Pakistan

Perdana Menteri India Narendra Modi pada Jumat mengutuk keras bom mobil mematikan yang menewaskan puluhan tentara paramiliter di Jammu dan Kashmir, di mana pemerintahannya menuding Pakistan berada di balik serangan itu.

Polisi mengatakan 44 tentara tewas pada Kamis ketika sebuah kendaraan bermuatan bahan peledak menabrak bus paramiliter di sepanjang jalan raya Jammu-Kashmir.

Militan Jaish-e-Muhammad mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Ini adalah serangan paling mematikan bagi pasukan India dalam tiga decade pemberontakan bersenjata di Kashmir.

Dalam sebuah pertemuan dengan penasihat keamanannya yang disiarkan di NDTV, Modi mengatakan bahwa kekuatan di balik aksi terorisme ini dan mereka yang bertanggung jawab di atasnya pasti akan dihukum.

"Jika tetangga kita, yang benar-benar terisolasi di dunia dan berpikir negara itu dapat mengguncang India melalui taktik dan konspirasi, maka mereka membuat kesalahan besar," katanya, merujuk pada Pakistan, musuh bebuyutannya yang memiliki senjata nuklir.

India juga menghapus hak istimewa perdagangan negara yang paling disukai (MFN) ke Pakistan.

Menteri luar negeri India memanggil duta besar Pakistan dan menyampaikan protes yang sangat kuat sehubungan dengan serangan teroris tersebut, lansir harian Hindustan Times.

Pakistan menyangkal tuduhan yang mengutuk serangan itu, Jumat.

"Serangan di di distrik Pulwama, Kashmir, yang diduduki India adalah masalah yang memprihatinkan. Kami selalu mengutuk tindakan kekerasan di mana pun di dunia," kata Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan.

"Kami sangat menolak sindiran oleh unsur-unsur di media dan pemerintah India yang berusaha menghubungkan serangan itu dengan Pakistan tanpa penyelidikan," ujar kementerian itu.

Kashmir masih tegang

Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh akan tiba di Jammu dan Kashmir untuk memantau situasi dan bertemu para pejabat senior.

Satu regu khusus beranggotakan 12 orang dari Badan Investigasi Nasional India (NIA) juga tiba di Kashmir untuk menyelidiki serangan bom itu.

Jam malam diberlakukan di beberapa bagian wilayah Jammu untuk mencegah gerombolan Hindu sayap kanan menyerang Kashmir.

Serangan besar terakhir di Kashmir terjadi pada 2016, ketika gerilyawan memasuki sebuah kamp tentara India di Uri dan menewaskan 20 tentara.

Jammu dan Kashmir, sebuah wilayah di Himalaya yang mayoritas penduduknya Muslim, dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sebagian kecil Kashmir juga dikuasai oleh China.

Sejak mereka berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

Begitupun di gletser Siachen di Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan telah bertempur beberapa kali sejak 1984. Gencatan senjata mulai berlaku pada 2003 lalu.

Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir berperang melawan pasukan India untuk memperjuangkan kemerdekaan, atau untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut sejumlah organisasi hak asasi manusia, ribuan orang tewas akibat konflik di wilayah itu sejak 1989.

* Riaz ul Haq berkontribusi pada berita ini dari Ankara 

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın