Esat Fırat
16 Juli 2026•Update: 16 Juli 2026
Imam Masjid Al-Aqsa Sheikh Ekrima Sabri mengatakan Turkiye berhasil mengalahkan penindasan ketika menggagalkan upaya kudeta yang dilakukan Organisasi Teroris Fetullah (FETO) pada 15 Juli 2016.
Menurutnya, perlawanan rakyat Turkiye tidak hanya menjaga stabilitas negara, tetapi juga memperkuat dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Dalam pernyataan pada peringatan 10 tahun upaya kudeta yang gagal itu, Sabri yang juga mantan Mufti Agung Yerusalem dan Palestina menyebut peringatan tersebut sebagai momentum penting untuk mengingat keberanian rakyat Turkiye dalam membela tanah air mereka.
Ia mengatakan kemenangan tersebut memperkuat stabilitas Turkiye sekaligus memperkokoh dukungannya terhadap perjuangan Palestina.
Rakyat Turkiye tunjukkan perlawanan terhadap penindasan
Sabri menyoroti tekad rakyat Turkiye pada malam upaya kudeta tersebut.
"Melalui perlawanan yang mereka tunjukkan pada malam itu, rakyat Turkiye membuktikan kepada dunia bahwa sebuah bangsa dapat mengalahkan penindasan meskipun didukung kekuatan militer. Seberapa besar pun sumber daya yang dimiliki, penindasan pada akhirnya akan tetap lemah di hadapan kebenaran. Karena itu, Turkiye mengalahkan penindasan pada 15 Juli 2016," katanya.
Sabri juga menyampaikan apresiasi atas sikap konsisten Turkiye dalam mendukung perjuangan sah rakyat Palestina dan menjaga identitas Islam Masjid Al-Aqsa.
"Keberhasilan Turkiye melewati cobaan ini berarti terjaganya kebaikan di dunia. Saya menyampaikan terima kasih kepada kepemimpinan Turkiye yang bijaksana di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan, kepada pemerintahnya, dan kepada rakyat Turkiye yang selalu berdiri bersama Palestina. Rakyat Palestina menyambut dengan penuh sukacita setiap keberhasilan bangsa yang mampu tetap teguh di tanah airnya dan menjaga kedaulatannya," ujarnya.
Palestina ikut bersyukur atas gagalnya kudeta
Sabri mengenang kekhawatiran yang dirasakan rakyat Palestina pada malam terjadinya upaya kudeta.
"Kami sangat mengkhawatirkan perkembangan di Turkiye malam itu. Kami melaksanakan salat tahajud hingga fajar dan memohon kepada Allah agar melindungi Turkiye. Ketika kabar kegagalan upaya kudeta tiba, kegembiraan besar menyelimuti Yerusalem. Orang-orang turun ke jalan dan merayakan kemenangan itu seolah-olah kemenangan mereka sendiri," katanya.
Sabri juga menekankan arti penting Turkiye bagi dunia Islam dan masyarakat yang tertindas.
"Turkiye adalah negara yang merangkul jutaan orang tertindas di seluruh dunia dan selalu mengulurkan tangan di mana pun terjadi ketidakadilan. Rakyat Turkiye tidak pernah meninggalkan jalan-jalan untuk menunjukkan dukungan kepada Palestina. Ikatan sejarah yang kuat antara kedua bangsa kita akan selalu tetap kokoh," ujarnya.
Upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 tersebut direncanakan dan dijalankan oleh FETO. Peristiwa itu menewaskan 253 orang dan melukai 2.734 lainnya.