Mohammed Sameai, Sahin Demir
22 Juli 2026•Update: 22 Juli 2026
Kelompok Houthi di Yaman mengklaim enam kapal berbalik arah dalam 24 jam terakhir setelah mereka memberlakukan larangan pelayaran menuju Arab Saudi.
Di sisi lain, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mendesak komunitas internasional mengambil langkah lebih tegas terhadap kelompok tersebut di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Seorang sumber militer Houthi yang dikutip kantor berita Saba milik kelompok itu mengatakan enam kapal mengubah haluan setelah menerima peringatan dari pasukan Houthi menyusul pengumuman blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Senin.
Namun, sumber tersebut tidak mengungkap identitas kapal-kapal tersebut maupun lokasi tempat mereka berbalik arah.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree pada Senin mengumumkan larangan pelayaran menuju Arab Saudi yang berlaku segera. Menurutnya, langkah itu diambil sebagai respons atas apa yang disebut kelompok tersebut sebagai blokade yang dilakukan Arab Saudi.
Pengumuman tersebut menuai kecaman dari Arab Saudi dan sejumlah negara Arab, mendorong langkah-langkah dari pemerintah Yaman, serta memicu peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut.
Pemerintah Yaman minta dukungan internasional
Secara terpisah, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi meminta komunitas internasional memandang Houthi sebagai "bagian dari jaringan ancaman regional yang saling terhubung."
Dalam pertemuan dengan Duta Besar India untuk Yaman, Suhel Ajaz Khan, Al-Alimi menuduh Houthi berupaya menyeret Yaman ke dalam konflik regional yang lebih luas "demi melayani agenda rezim Iran," menurut kantor berita Saba yang dikelola pemerintah.
Ia mengatakan dampak tindakan Houthi tidak hanya mengancam Yaman, tetapi juga keamanan Laut Merah dan negara-negara Asia yang bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut.
Al-Alimi juga menuduh Houthi berkoordinasi dengan organisasi teroris dan kelompok bersenjata di Tanduk Afrika, menyelundupkan senjata serta teknologi militer, mendukung aksi perompakan dan kejahatan lintas negara, serta mengancam pelayaran internasional dan rantai pasok global.
Arab Saudi kecam Houthi
Arab Saudi turut mengecam apa yang disebutnya sebagai "klaim palsu" Houthi dan menuduh kelompok tersebut memperparah penderitaan rakyat Yaman sekaligus mengancam keamanan serta stabilitas kawasan.
Dalam pernyataan setelah rapat kabinet yang dipimpin Raja Salman bin Abdulaziz, pemerintah Arab Saudi kembali menegaskan dukungannya kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Kerajaan juga berjanji mengambil "langkah-langkah tegas" untuk melindungi keamanan nasional dan kapal-kapalnya sesuai hukum internasional serta Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982.
Ketegangan meningkat
Situasi di Yaman kembali memanas pekan lalu setelah pasukan pemerintah melancarkan serangan udara ke Bandara Sanaa yang dikuasai Houthi untuk mencegah pesawat Iran mendarat.
Houthi menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut dan kemudian meluncurkan rudal ke wilayah Arab Saudi, mengakhiri ketenangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.