ISTANBUL
Para menteri luar negeri negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) pada Rabu (12/11), menyuarakan keprihatinan atas peningkatan kekuatan militer dan pertumbuhan pesat persenjataan nuklir China.
Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan dua hari di Niagara-on-the-Lake, Ontario, Kanada, para menlu dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa mendesak Beijing untuk “menunjukkan komitmen terhadap stabilitas melalui transparansi yang lebih baik.”
“Kami menegaskan kembali pentingnya Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum,” bunyi pernyataan itu. Para menteri juga menyatakan “penentangan keras terhadap upaya sepihak untuk mengubah status quo, khususnya dengan kekuatan atau paksaan, termasuk di Laut China Timur dan Laut China Selatan.”
G7 turut menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta menolak segala bentuk tindakan sepihak yang dapat mengubah status quo. Mereka menyerukan agar isu lintas Selat diselesaikan secara damai melalui dialog konstruktif.
Selain itu, G7 juga mendukung “partisipasi bermakna Taiwan dalam organisasi internasional yang relevan.”
Dalam isu keamanan regional lainnya, para menteri “mengutuk keras” program nuklir dan rudal balistik Korea Utara serta menegaskan kembali komitmen terhadap “denuklirisasi sepenuhnya” Semenanjung Korea. G7 juga menyampaikan “keprihatinan mendalam” atas pencurian mata uang kripto oleh Pyongyang dan mendesak penyelesaian cepat terhadap kasus penculikan warga asing oleh rezim Korea Utara.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dalam pernyataannya menyoroti “keprihatinan serius” atas kebijakan kontrol ekspor China terhadap logam tanah jarang, dan menegaskan kembali pentingnya mewujudkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum serta komitmen Jepang untuk tetap berpihak pada Ukraina.
Motegi juga menekankan perlunya memastikan pasokan stabil mineral strategis seperti logam tanah jarang melalui kerja sama antara G7 dan negara-negara mitra sehaluan, baik dari sisi permintaan maupun pasokan.
Pertemuan para menteri luar negeri G7 dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa tersebut berlangsung pada Selasa dan Rabu.
