Dunia, Regional

Dilema jurnalis India di tengah ganasnya gelombang kedua wabah Covid-19

Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia, kami melihat bagaimana para jurnalis terkena trauma psikologis di saat meliput berita mereka dan keluarga mereka juga dihantui oleh kejamnya Covid-19

Syed Iftikhar   | 04.05.2021
Dilema jurnalis India di tengah ganasnya gelombang kedua wabah Covid-19 Korban meninggal akibat infeksi Covid-19 di India (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

​​​​​​ANKARA 

Seorang jurnalis televisi terkemuka India Barkha Dutt sibuk merekam penderitaan orang-orang di rumah sakit dan tempat kremasi selama gelombang kedua virus korona saat dia menerima berita kematian ayahnya yang berusia 80 tahun.

“Saya sendiri menjadi sebuah topik berita dan mengalami sendiri semua yang saya laporkan tentang penderitaan orang-orang. Seolah-olah saya sekarang berada di sisi lain kamera jurnalis,” kata Dutt.

Seperti semua orang, dia juga harus berjuang untuk mendapatkan ambulans, tabung oksigen, meminta tempat tidur di rumah sakit, terlepas dari semua pekerjaannya, dan akhirnya dia mendapatkan tempat untuk mengkremasi ayahnya.

“Tiga keluarga lain berdesak-desakan di tempat itu untuk memberikan penghormatan terakhir kepada orang-orang yang telah meninggal. Saya melaporkan hari ini. Duka nasional menjadi duka pribadi,” ujar dia.

Demikian pula, ketika Suhasini Raj, seorang jurnalis yang bekerja untuk harian The New York Times di New Delhi, saat sedang menulis sebuah laporan, dia mendapat panggilan telepon bahwa keluarganya jatuh sakit dan tingkat oksigen ayah mertuanya menurun.

“Saat melacak dan menulis berita, saya harus berpindah-pindah antara menanyakan tentang kesehatan dan mempersiapkan tempat tidur rumah sakit dan oksigen untuk anggota keluarga,” kata Raj pada pertemuan online yang diselenggarakan oleh Klub Koresponden Asing Asia Selatan (FCCSA).

Ada banyak cerita yang menunjukkan keputusasaan di antara jurnalis India, mencoba menggabungkan liputan gelombang mematikan kedua dari pandemi dan memperhatikan diri mereka sendiri serta anggota keluarga.

Cerita jurnalis yang tertular infeksi saat melakukan profesi mereka datang dari seluruh India. Menurut angka sementara yang dikeluarkan oleh Institute of Perception Studies (IPS) yang berpusat di Delhi, 77 jurnalis meninggal pada bulan April.

Artinya, rata-rata dua jurnalis meninggal setiap hari dalam sebulan terakhir. Selama setahun terakhir, 128 wartawan meninggal setelah tertular virus korona.

Membebani jurnalis

Media telah bekerja tanpa henti sejak awal pandemi di India, mencoba menyusun dan memverifikasi jumlah kematian yang sebenarnya.

“Para jurnalis tidak hanya memberitakan tentang krisis kesehatan nasional tetapi juga menghadapinya setiap hari, yang telah merugikan mereka,” kata Kota Neelima, penulis dan pendiri IPS.

Kalyan Barooah, kepala biro Assam Tribune, dan istrinya jurnalis, Nilakshi, meninggal beberapa hari lalu dalam waktu 24 jam di sebuah rumah sakit di Delhi setelah tertular Covid-19.

Pasangan itu meninggalkan seorang putri remaja. Pada hari yang sama Anirban Bora dari The Economic Times juga kalah perang melawan virus tersebut.

Sehari sebelumnya, jurnalis televisi Rohit Sardana, 41, yang dinyatakan positif virus korona, meninggal dunia. Kakoli Bhattacharya, bekerja untuk harian Inggris The Guardian di New Delhi, juga meninggal.

Sebanyak 30 jurnalis meninggal karena penyakit menular itu di provinsi terbesar di India, Uttar Pradesh, diikuti oleh Telangana yang melaporkan 19 kematian, termasuk wartawan veteran yang berbasis di Hyderabad, K. Amaranath, seorang pengurus Indian Journalists Union (IJU).

Raj mengatakan bahwa tidak ada yang siap menghadapi bencana seperti itu di India, di mana sesuai angka resmi, jumlah kasus harian virus korona melampaui rekor 400.000 dan 3.500 kematian pada Sabtu lalu.

Dia mengatakan bahwa dirinya memusatkan perhatian pada peliputan dan kemudian tidak memikirkan keluarga mereka.

Seorang jurnalis mendapat kabar istrinya meninggal saat berada di lapangan melaporkan tentang kekurangan suplai oksigen di rumah sakit.

Fase tersulit

Vikas Pandey, editor platform digital BBC di India, menggambarkan meliput pandemi sebagai fase tersulit dalam sejarah jurnalisme di India.

Saat sedang meliput berita, dia mendapat telepon dari teman dan anggota keluarga untuk mencari tempat tidur, persediaan oksigen, dan obat-obatan. Hal itu membuat para jurnalis menderita secara psikologis.

“Kami telah melaporkan fase sulit di masa lalu, ledakan bom, serangan teror. Tapi ini adalah sesuatu di atas semuanya, fase yang sangat sulit,” kata Pandey, yang kehilangan sepupunya karena Covid-19.

Mahes Langa, yang melaporkan untuk harian nasional The Hindu, dari negara bagian Gujarat di India barat, mengatakan sangat tertekan karena mendapat telepon dari orang-orang yang meminta bantuan untuk mendapatkan akses untuk ventilator.

Dia mengatakan bahwa hanya dalam satu minggu, empat jurnalis senior tewas di negara bagian itu.

Langa mengeluhkan kebenaran data yang menjadi isu besar pada gelombang kedua. Dia mengatakan selama gelombang pertama yang melanda negara itu tahun lalu, pejabat dan otoritas rumah sakit datang dengan data dan rincian lainnya.

“Keterbukaan data sekarang menjadi masalah besar. Data resmi tidak mencerminkan situasi lapangan. Para pejabat juga tidak bisa dihubungi,” sebut dia.

Namun dia mengatakan bahwa media sosial telah datang untuk menyelamatkan jurnalis seperti dia.

“Dengan tidak adanya media sosial, kami akan berada dalam kegelapan. Kami mendapat arahan dari media sosial dan kemudian memverifikasinya sebelum mengubahnya menjadi berita,” kata Langa.

Tantangan unik dan serius

Selama setahun terakhir, Kashmir Life, mingguan populer terkemuka yang berbasis di Srinagar, harus menutup ruang berita tiga kali karena infeksi Covid-19. Saat ini, semua staf, termasuk Pemimpin Redaksi Masood Hussain, berada di karantina karena tertular virus itu saat meliput gelombang kedua.

Hussain mengatakan selama gelombang pertama tahun lalu, timnya berhasil mewawancarai Dr. Adul Gani Ahanger, direktur Institut Ilmu Kedokteran di Srinagar.

“Kami melihat para pembantunya di kanan dan kiri kami batuk. Dua hari kemudian, keduanya dinyatakan positif. Seminggu kemudian, dokter senior yang menjadi fasilitator wawancara juga positif mengidap Covid-19,” tutur dia.

Dalam insiden lain, seorang reporter muda, Khalid Bashir Gura, datang ke kantor dengan penuh semangat karena dia berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan seorang mahasiswa Kashmir yang pulang dari Italia, menghindari pemeriksaan di bandara Srinagar. Reporter itu berjabat tangan tanpa menyadari konsekuensinya.

Manish Gupta, presiden FCCSA percaya bahwa ini adalah masa-masa yang melelahkan bagi jurnalis.

“Gelombang kedua Covid-19 telah memberikan tantangan yang unik dan serius bagi media yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Jurnalis juga manusia, terkena trauma psikologis, fisik, dan emosional yang menghantui dan mempengaruhi keluarganya,” tegas Gupta.



Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın