Turki, Repertoar

Pijar puisi penyair Turki untuk Muslim sedunia

Puisi Mehmet Akit Ersoy tak hanya menjelajah perbatasan nasional, tapi juga menarik Muslim dari seluruh dunia

Hayatı Nupus   | 28.12.2019
Pijar puisi penyair Turki untuk Muslim sedunia Ilustrasi. (Foto file-Anadolu Agency)

Ankara

Zehra Nur Duz

ANKARA 

Karya penyair sekaligus penulis lagu kebangsaan Turki yang dihormati, Mehmet Akif Ersoy, masih dikenal di seluruh dunia, 83 tahun setelah kematiannya.

Ersoy adalah salah satu tokoh Turki terkenal dalam literatur dunia pada awal 1900-an, ujar Necmettin Turinay, dosen Universitas Ekonomi dan Teknologi TOBB di Ankara, kepada Anadolu Agency.

Turinay, pakar sastra yang saat ini tengah menggarap edisi terbaru karya Ersoy 1911 berjudul “Safahat”, berbicara kepada Anadolu Agency dalam wawancara eksklusif di Museum House of Mehmet Akif Ersoy di Ankara.

Safahat adalah karya Ersoy yang terkenal, yaitu kumpulan 44 puisi, termasuk Phases (1911), Lecturing at Suleymaniye (1912), Voices of God (1913), Lecturing at Fatih (1914), Memoirs (1917), Asim (1924), dan Shadows (1933).

Puisi-puisinya seputar persoalan sosial, filosofis, agama, politik, dan etika.

Rumah Ersoy, di salah satu distrik tua Altindag di Ankara, pernah digunakan sebagai biara darwis. “Selamlik” -bagian rumah yang hanya bisa dimasuki manusia- digunakan Ersoy selama Perang Kemerdekaan Turki.

Pindah dari Istanbul ke Ankara, Ersoy tinggal di biara darwis pada 1920-an, yang kini diubah menjadi museum, selama tahun-tahun pendudukan asing paling menyakitkan di negara itu, kata Turinay.

Pemimpin spiritual perjuangan nasional Turki

Ketika Ersoy tiba di Ankara, rakyat Turki harus mencapai dua hal utama demi memenangkan perang kemerdekaan, ujar Turinay.

Pertama adalah membentuk pasukan baru, setelah tentara Turki dibubarkan akibat perjanjian Perang Dunia I.

Kedua, mengajak orang-orang untuk bergabung dalam perjuangan nasional untuk meraih kemerdekaan, Turinay menekankan.

Dalam pidatonya di berbagai masjid di kota-kota Anatolia Tengah, Ersoy menyuarakan keyakinan dan semangat untuk merebut perjuangan nasional, tambah Turinay.

Pada 1920, Ersoy juga terpilih sebagai wakil Provinsi Burdur dan memasuki parlemen.

‘Bebas sejak awal, untuk selamanya’

Biara darwis juga menjadi tempat Ersoy menulis lirik Lagu Kebangsaan Turki—Pawai Kemerdekaan—kata Turinay.

Pada 12 Maret 1921, Majelis Nasional Besar Turki secara resmi menyatakan puisi Ersoy sebagai lagu kebangsaan.

Lewat lagu, Erson mengabadikan perjuangan bangsanya untuk bertahan hidup, setelah Perang Dunia I, hingga pembebasan nasional pada 1921 selama Perang Kemerdekaan Turki melawan pendudukan asing.

Setelah Perang Dunia I, pasukan Inggris, Prancis, dan sekutu menghancurkan Kekaisaran Ottoman, salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah.

Dengan kondisi itu, kata-kata pertama lagu kebangsaan adalah “Jangan takut!”

Ersoy memulai puisinya dengan seruan yang memberikan harapan ke orang-orang Turki atas pendudukan asing, sehingga mereka dapat merebut kembali kemerdekaan, ujar Turinay.

“Bangsa Turki telah bebas sejak awal sejarah,” kata Turinay, merujuk pada dua ayat lagu kebangsaan.

“Aku sudah bebas sejak awal dan selamanya akan seperti itu.”

Orang gila mana yang akan membuatku terikat! Saya menentang gagasan itu!”

Ungkapan “sejak awal” memiliki makna khusus yang menyatakan bahwa orang-orang Turki selalu hidup dalam kemerdekaan, kata Turinay.

Lewat bait-bait ini, Ersoy memperingatkan orang-orang Turki bahwa kondisi negatif itu bersifat sementara dan mendesak mereka untuk berjuang bersama merebut wilayah jajahan, tambah Turinay.

Karakter universal, lagu kebangsaan mendalam

Turinay menekankan bahwa lagu kebangsaan memberikan dampak signifikan ke dunia Muslim dan Turki, setelah adanya pengakuan resmi dari Parlemen.

“Lagu kebangsaan, ‘simbol bangsa Turki’, memiliki karakter universal yang menarik bagi Turki dan Islam,” kata dia.

Lagu itu diterjemahkan ke berbagai bahasa dari beragam negara, termasuk Pakistan, Suriah dan Irak, meski pada waktu itu mereka hidup di bawah jajahan Prancis dan Inggris.

“Ersoy, yang menggambarkan tahun-tahun paling menyakitkan di Turki selama Perang Dunia I dan Perang Balkan ke dalam karyanya, memperoleh reputasi tinggi di dalam dan luar Kekaisaran Ottoman,” ujar Turinay.

Dia adalah penyair dan penulis terkenal di seantero dunia, yang membentang dari Azerbaijan, Pakistan, India, Mesir, Suriah, Irak, Afrika Utara, Krimea hingga Balkan.

“Pemahaman Mehmet Akif tentang puisi tidak terbatas pada perbatasan nasional, tetapi dia berbicara kepada seluruh dunia Turki dan Muslim,” tegas Turinay.

Sejarah lewat seni, sastra

Turinay menggambarkan Ersoy sebagai “salah satu penyair jenius Turki”, dan berkata: “Jika ada kesadaran di Turki saat ini tentang Perang Dunia I dan Pertempuran Canakkale [Gallipoli], terima kasih pada puisi Ersoy untuk Para Martir Gallipoli”.

“Orang-orang Turki mengingat rasa sakit, kesedihan dan kehancuran tahun-tahun ini melalui puisi ini,” tambah dia.

Ersoy tak hanya menceritakan kepedihan dan ingatan para martir Gallipoli dengan puisi ini, tetapi juga menggambarkan penarikan kekaisaran dari panggung sejarah dan penutupan suatu zaman, tegas Turinay.

Pertempuran Canakkale, yang terjadi di Distrik Gelibolu (Gallipoli) Canakkale pada 1915, menandai perputaran yang menguntungkan Turki terhadap pasukan Sekutu selama Perang Dunia I.

Puluhan ribu warga negara dan tentara Turki tewas, bersama puluhan ribu orang Eropa, sekitar 7.000-8.000 warga Australia dan hampir 3.000 warga Selandia Baru, yang disebut sebagai pasukan Anzac.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın