Pemenang berganda Istanbul Photo Awards, Diego Ibarra Sanchez, mengatakan fotojurnalisme tidak boleh berhenti pada dokumentasi konflik semata, tetapi harus mampu mendorong publik memahami dampak kemanusiaan jangka panjang dari perang.
Fotografer dokumenter asal Spanyol itu menegaskan bahwa pendidikan, martabat manusia, dan harapan tetap menjadi inti dari karya-karyanya di Suriah dan Afghanistan.
Sanchez, fotografer dokumenter, pembuat film, dan pendidik yang bermukim di Lebanon, meraih juara pertama kategori Story Daily Life melalui karya Reimagining Syria, juara pertama kategori Single Daily Life lewat foto Education in Afghanistan, serta juara kedua kategori Single Portrait melalui karya Studying in Afghanistan.
Berdasarkan biografinya, karya-karya visual jangka panjang Sanchez mengeksplorasi dampak kemanusiaan akibat konflik dengan tujuan mengajak publik merenung, bukan memperkuat stereotip.
Sejak 2012, Sanchez menjadi kontributor The New York Times. Karyanya juga pernah dipublikasikan oleh France 24, CNN, Der Spiegel, Revista 5W, NZZ, Diari ARA, UNHCR, dan UNICEF.
Biografinya juga menyebutkan bahwa fotografi Sanchez menggunakan bahasa visual yang artistik untuk melampaui penggambaran penderitaan semata dan mengajak masyarakat mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru mengenai dunia saat ini.
Serial foto Reimagining Syria yang memenangi penghargaan dan dikerjakan untuk The New York Times mendokumentasikan kehidupan sehari-hari di Latakia, Idlib, Aleppo, dan Damaskus. Karya tersebut menggambarkan masyarakat Suriah yang berupaya bangkit dari kediktatoran dan isolasi di tengah masa depan yang masih penuh ketidakpastian.
"Saya merasa ada yang kurang dalam pemberitaan mengenai bagaimana sebuah negara dibangun kembali," kata Sanchez kepada Anadolu.
Alih-alih hanya menyoroti kehancuran, proyek tersebut memperlihatkan warga Suriah kembali beraktivitas di pasar, berkumpul di ruang publik, dan perlahan membangun kembali kehidupan sehari-hari.
"Saya ingin menggambarkan bagaimana masyarakat bergerak maju, membangun jembatan baru, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan memiliki terhadap negaranya," ujarnya.
"Kita juga harus menceritakan kisah tentang harapan. Kita perlu menunjukkan harapan. Kita perlu membangun ingatan."
Proyek jangka panjang Sanchez bertajuk Hijacked Education yang dikembangkan selama lebih dari satu dekade di lebih dari 10 negara mengkaji bagaimana perang terus memengaruhi masa depan anak-anak jauh setelah pertempuran berakhir.
"Ini bukan soal rumah sakit yang hancur. Bukan soal infrastruktur atau jalan. Ini tentang bagaimana perang memengaruhi pendidikan," katanya.
"Perang tidak berakhir dengan peluru terakhir atau ketika seseorang mengibarkan bendera. Dampak psikologisnya akan terus berlangsung dan bergema dalam waktu yang panjang."
Salah satu foto pemenang penghargaan menampilkan anak-anak perempuan yang belajar di sekolah terbuka sederhana di Distrik Chaparhar, Afghanistan, tempat keterbatasan fasilitas dan pembatasan pendidikan bagi perempuan terus menghambat akses belajar.
Foto lainnya memperlihatkan Dunya, anak perempuan berusia delapan tahun yang tinggal di panti asuhan di Kabul setelah ayahnya tewas dibunuh Taliban.
"Saya ingin terus belajar jika Taliban mengizinkan," demikian bunyi keterangan yang menyertai foto tersebut.
Sanchez mengatakan karyanya bertujuan menarik perhatian dunia terhadap anak-anak yang terjebak dalam konflik.
"Kita harus memperhatikan bahwa generasi ini berada di tengah baku tembak. Mereka bukan petempur. Mereka tidak memegang senjata," katanya. "Kita perlu mengajukan pertanyaan agar penonton keluar dari zona nyaman dan mulai memikirkan bagaimana perang memengaruhi warga sipil."
Sanchez mengatakan fotografi dokumenter yang bermakna dimulai jauh sebelum tombol kamera ditekan.
"Sebuah proyek tidak dimulai ketika Anda menekan tombol kamera. Proyek dimulai jauh sebelumnya, ketika Anda mulai berpikir dan menggali sebuah gagasan," ujarnya.
"Kita harus melakukan riset. Kita harus melakukan wawancara. Kita harus belajar sebelum mulai mengerjakan sebuah cerita."
Meski banyak orang menyebut masyarakat yang hidup di tengah konflik sebagai sosok yang tangguh, Sanchez mengaku berhati-hati menggunakan istilah tersebut.
"Sering kali saya tidak nyaman ketika mendengar kata 'ketangguhan'. Warga sipil yang terjebak dalam konflik dipaksa untuk terus bertahan. Tidak ada hal yang romantis dalam situasi seperti itu," katanya.
Ia mengatakan tujuan utamanya adalah menghasilkan foto yang tetap membekas dalam ingatan publik.
"Saya berusaha melukis dengan cahaya, terkadang momen-momen yang menyakitkan, untuk membangun ingatan, menarik perhatian penonton, dan menyampaikan pesan," ujarnya.
Sebagai seorang guru sekaligus ayah, Sanchez mengatakan komitmennya mendokumentasikan dunia pendidikan bermula setelah menyaksikan anak-anak belajar di sekolah yang rusak akibat bom di Lembah Swat, Pakistan, setelah kekalahan Taliban. Pengalaman itu semakin menguat setelah aktivis pendidikan Malala Yousafzai ditembak seorang anggota Taliban bertopeng.
Berbicara mengenai tanggung jawab fotografer dokumenter, Sanchez mengatakan penghormatan terhadap orang-orang yang difoto merupakan prinsip paling mendasar.
"Kami menceritakan kisah tentang kemiskinan dan penderitaan. Kami harus menghormati tokoh utama dalam cerita kami," katanya.
Ia menggambarkan fotografer sebagai "jembatan" yang menghubungkan masyarakat terdampak konflik dengan publik dunia melalui wajah-wajah manusia di balik angka-angka statistik.
Mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI), Sanchez mengakui teknologi telah mengubah profesi fotografer, tetapi menegaskan bahwa kredibilitas tetap menjadi hal yang paling penting.
"Pada akhirnya, yang harus tetap dipertahankan adalah komitmen untuk menyampaikan kebenaran," katanya.
Menurutnya, meski AI dapat mempermudah sebagian alur kerja, "mesin atau AI tidak akan pernah mampu mengambil jiwa seorang pencerita."
Sanchez juga memuji Istanbul Photo Awards karena memberikan panggung internasional bagi para fotografer di tengah semakin menyusutnya peluang di industri tersebut.
"Istanbul Photo Awards merupakan kesempatan yang unik bagi para fotografer dari seluruh dunia untuk menampilkan karya mereka dan membagikan sudut pandang pribadi kepada publik," katanya.
"Saya sangat bersyukur karya saya mendapat penghargaan dari Istanbul Photo Awards. Membangun jembatan di antara berbagai budaya selalu menjadi kesempatan yang luar biasa."
Istanbul Photo Awards yang diselenggarakan Anadolu telah menjadi salah satu ajang fotojurnalistik bergengsi di dunia yang merayakan seni penceritaan visual sekaligus mengangkat berbagai isu penting di tingkat global.
Informasi lebih lanjut mengenai karya-karya pemenang dan anggota dewan juri pada penyelenggaraan tahun ini, yang didukung Turkcell sebagai sponsor komunikasi, tersedia di situs istanbulphotoawards.com.
news_share_descriptionsubscription_contact
