Politik, Berita analisis, Nasional

WAWANCARA: ‘Konflik Afghanistan dan Palestina serupa melibatkan banyak negara tapi damai belum tercapai’

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kunci perdamaian di Afghanistan – seperti juga di mana pun – adalah power sharing dan bagaimana mengubah konflik bersenjata dengan upaya politik

Devina Halim, Muhammad Nazarudin Latief, Dandy Koswaraputra   | 10.08.2021
WAWANCARA: ‘Konflik Afghanistan dan Palestina serupa melibatkan banyak negara tapi damai belum tercapai’ Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

​​​​​​​

JAKARTA

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa dirinya masih intens berkomunikasi dengan tokoh-tokoh kunci di Afghanistan termasuk Presiden Ashraf Ghani dan pemimpin Taliban untuk membahas solusi damai di negeri itu.

JK, panggilan Jusuf Kalla, yang merupakan tokoh sentral perdamaian beberapa konflik di Indonesia, membagikan pengalamannya menjadi juru damai pada konflik Aceh, Poso dan Ambon, kepada para pemimpin Afghanistan.

Upaya mencari solusi perdamaian ini terus dilakukan berbagai pihak, termasuk Indonesia, menyusul kasus mutakhir berupa bentrokan antara pasukan Taliban dan Afghanistan telah meningkat seiring penarikan pasukan asing dari negara tersebut hingga 11 September.

Taliban telah merebut 80 persen wilayah Afganistan, termasuk Taluqan, ibu kota provinsi Takhar utara, dan menyerbu ibu kota provinsi Sar-e-Pul, Takhar, serta Kunduz.

Menurut PBB, lebih dari 1.000 orang tewas selama sebulan terakhir ketika Taliban berusaha merebut kota-kota besar yang dikuasai pemerintah.

JK menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan Anadolu Agency pada Senin di kediamannya di Jakarta. Berikut petikannya:

Anadolu Agency (AA): Perkembangan di Afghanistan sekarang sangat dinamis. Dulu ketika 2019, Bapak pernah menerima delegasi Taliban ke sini untuk berbicara mengenai kemungkinan Indonesia terlibat dalam upaya perdamaian di sana. Apa tindak lanjutnya?

Jusuf Kalla (JK): Ya sebenarnya itu dimulai dari kunjungan Presiden Ashraf Ghani di Jakarta tahun 2018, kalau tidak salah.

Pada kunjungan itu, dia mengundang saya untuk makan pagi dua kali untuk mencari pengalaman bagaimana Indonesia mengatasi konflik-konflik di Indonesia, caranya bagaimana.

Saya jelaskanlah bagaimana kita mengatasi Aceh dengan power sharing, dan juga dengan solusi politik. Mereka diberi kesempatan mengubah dari sisi konflik bersenjata menjadi upaya politik.

Setelah itu, saya undang delegasi dari pemerintah Ashraf Ghani ke sini. Kemudian, setelah itu saya mengundang juga Taliban pada tahun 2019. Itu jadi supaya equal.

Perdamaian itu harus kita berada di tengah. apabila kita ingin menjalankan atau membantu rekonsiliasi, maka sebagai moderator atau mediator itu harus berada betul-betul di tengah.

Karena itu saya undang pemerintah Afghanistan. Maksudnya pemerintah yang mengundang. Kemudian pemerintah mengundang Taliban ke sini. Tapi semuanya ketemu saya.

Dalam pembicaraan itu memang apa yang kita sampaikan ialah ini penyelesaian ini haruslah penyelesaian win win, power sharing baru bisa.

Dua-duanya harus sedikit mundur, kemudian dua-duanya maju sehingga ketemu dalam perdamaian, dan didahului dengan cease fire.

Mereka mendengarkan dan mereka apresiasi. Kemudian saya ke Kabul lagi, diterima presiden, wakil presiden, menlu dan sebagainya.

Setelah ketemu di Kabul, saya terbang ke Doha, ketemu Taliban di Doha. Mereka memang lengkap, ada 12 orang barangkali, kita bicara sampai malam.

Mereka pada dasarnya setuju, pada prinsipnya, untuk perdamaian dengan power sharing. Namun di lain pihak, Taliban berunding dengan Amerika yang kita tahu hasilnya Amerika menarik diri, meninggalkan Afghanistan sejak Agustus ini mulai, dan berakhir nanti awal September.

Nah di situ perkembangannya. Namun dengan perkembangan Amerika ternyata ini lebih cepat pulang karena perang sudah 20 tahun.

Taliban kelihatannya dalam posisi yang lebih agresif sehingga merebut beberapa kota lagi. Tapi pemerintah Afghanistan di bawah Presiden Ashraf Ghani tetap ingin mengusahakan atau meminta cease fire dan pembicaraan perdamaian.

Nah itu dalam kondisi hari ini, seperti dikatakan tadi, tadi pagi saya masih bicara Dubes Afghanistan, apa yang dapat dilakukan.

Di sana, seperti kita tahu, sebenarnya begitu banyak negara terlibat. Afghanistan sama dengan Palestina adalah dua kasus konflik yang begitu banyak negara terlibat tapi belum dicapai perdamaian.

AA: Kalau dari pengalaman bapak menangani beberapa isu perdamaian di Indonesia, seperti Ambon, Aceh, Poso, dan lain-lain, apakah ada dari pengalaman ini yang bisa diterapkan di dalam proses perdamaian di Afghanistan? Mengingat kompleksitasnya dan skalanya berbeda.

JK: Tetap saja sama sebenarnya, bahwa apabila kita ingin menyelesaikan satu konflik apa pun klasifikasinya konflik itu, mau kecil, mau besar, dalam negeri, atau luar negeri, pada ujungnya bagaimana merundingkan perdamaian dengan power sharing, dengan beralih dari konflik bersenjata menjadi pembicaraan politik.

Artinya seperti di Aceh, contoh yang paling dekat memang di Aceh, yaitu bikin partai politik, power sharing, pemilu. Menang pemilu itu memerintah, di Aceh kan GAM yang menang, tidak apa-apa.

Kita bicarakan juga begitu, saya bicarakan dengan Presiden Ghani. Saya sudah 4 kali bicara dengan Presiden Ghani, dua kali di sini, dua kali di Kabul, 3 kali malah di Kabul.

Mereka setuju, tapi yang sulit ini Taliban. Apalagi dia sudah mencapai perjanjian dengan Amerika bahwa Amerika akan menarik diri. Walaupun juga ada perjanjian mereka bahwa akan diselesaikan secara damai ini persoalan.

Nah ini yang tidak dicapai, tidak dilakukan, dicapai tetapi tidak dilakukan. Jadi Taliban tetap ingin konservatif.

Permasalahannya ialah rakyat Afghanistan juga sebenarnya sudah lelah. Jangan lupa dulu itu sangat maju negeri itu, sangat indah negeri itu sehingga ilmu pengetahuan maju di sana.

Nah karena itu maka mereka berbeda pandangan tentang pemerintahan, tentang perlakuan kepada pendidikan, kepada perempuan, sistem pemerintahan, itu banyak berbeda kan.

Itu yang belum dicapai persetujuannya sehingga perdamaian dengan power sharing itu sekarang masih begitu-begitu saja, tidak dicapai suatu solusi.

AA: Kenapa itu masalahnya?

JK: Karena pihak Taliban tetap berpikir bahwa bagi dia kemenangan makin dekat. Dia berharap posisi yang kuat karena begitu Amerika tinggalkan, itu kan menjadi kekuatan bersenjata masing-masing pihak menjadi berbeda.

Bisa-bisa Taliban lebih kuat jadinya. Tidak berarti tidak kuat pemerintah, tetapi Taliban dengan pulangnya Amerika dia posisi lebih kuat di daerah-daerah. Ya susah dicapai ini.

AA: Kenyataannya memang sekarang ini Taliban 70 persen lebih sudah menguasai wilayah Afghanistan. Apakah menurut Anda proses perdamaian ini masih relevan untuk dibicarakan? Sementara kalau bicara power sharing berarti harus ada berkorban, seperti menyerahkan sebagian daerah kekuasaannya kepada pihak Afghanistan.

JK: Saya kira tidak begitu, power sharing itu tidak berarti pembagian wilayah. Power sharing itu katakanlah bikin kabinet, siapa presidennya, siapa perdana menterinya, siapa menterinya.

Itu kan menjadi suatu pemerintah nasional yang didukung kedua belah pihak, sehingga di daerah-daerah juga begitu. Jadi pemerintahan yang didukung bersama, tapi ini yang tidak dicapai, ini yang sulit dicapai.

AA: Sulit dicapai karena ada keterlibatan negara-negara kuat seperti China, Rusia?

JK: Kalau kita lihat sejarahnya Afghanistan, ini kan aneh juga. Khususnya katakanlah 30 tahun terakhir. Dia kemudian diduduki oleh komunis, pemerintahan komunis. Kemudian masuklah Rusia, Uni Soviet.

Uni Soviet dilawan oleh Mujahidin dengan dibantu Amerika. Amerika kasih senjata. Rusia pulang karena merasa tidak bisa mengatasi masalah. Mundur kan. Memerintah lah Mujahidin. Kemudian ada Taliban mengalahkan Mujahidin.

Taliban memerintah sejak 1996 hingga 2001, karena Amerika datang. Amerika, kemudian mujahidin menurunkan Taliban, tapi kemudian dia berunding.

Walaupun pernah melawan Rusia, Taliban kemudian berunding dengan Rusia, dengan Amerika, kemudian juga dengan Iran, kemudian dengan Indonesia.

Kemudian terakhir berunding dengan China. Semua itu dilakukan karena ada suatu sebenarnya bahwa Taliban ingin mencari legalitas bahwa negara-negara itu.

Taliban diakui sebagai entitas pemerintahan, ini maksudnya. Dan kalau pun Indonesia terlibat, kita bukan ingin ikut campur ke negeri itu, tapi ingin mendukung perdamaian.

AA: Ketokohan Anda ini sudah tidak diragukan secara global bahwa Anda adalah salah satu tokoh juru damai. Tapi kalau kita mewakili Indonesia seharusnya ada dukungan dari pemerintah. Apakah langkah Anda didukung pemerintah?

JK: Saya sekarang ini melaksanakannya sebagai personal, sebagai pribadi, dan saya diundang sebagai pribadi.

Presiden Ashraf Ghani mengundang saya sebagai pribadi, dan juga Taliban sebagai pribadi. Saya tidak mengatasnamakan pemerintah. Walaupun saya laporkan ke Pak Presiden Jokowi, saya laporkan ke Pak Wakil Presiden persoalan ini.

Tapi pemerintah sebenarnya awalnya ingin minta saya special envoy untuk perdamaian, tapi mereka tetap memercayai saya walaupun tidak mengatasnamakan pemerintah.

AA: Waktu Anda lapor ke Pak Presiden dan Wapres, apa tanggapan beliau-beliau?

JK: Tentu memberikan apresiasi dan juga tentu memberikan jalan bahwa itu yang menentukan negara masing-masing kan.

AA: Artinya dulu Taliban sendiri selain ketemu bapak sebagai wapres, juga ketemu dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia di mana waktu itu Pak Ma’ruf Amin yang sekarang Wakil Presiden adalah pemimpinya. Artinya ada peluang ditindaklanjuti oleh wakil presiden sekarang. Apakah ada jalan ke arah itu?

JK: Itu juga masalah perdamaian ada seni tersendiri. Tidak bisa diselesaikan hanya karena jabatan. Tapi soal juga trust mereka dan juga kita take care.

Jadi seperti saya katakan, walaupun saya tidak di pemerintahan tapi para dubes itu selalu datang minta pandangan saya dan mengundang.

Kita juga secara internasional banyak berhubungan berbagai lembaga dan saling kita kerja sama. Mestinya awal bulan ini saya ke London untuk berbicara di kalangan beberapa organisasi perdamaian di dunia, tapi karena keadaan begini ditunda.

Jadi juga saling tukar pandangan untuk membantu mereka. Karena pada dasarnya dunia ini selalu mengharapkan perdamaian. Bukan hanya karena itu saja, geopolitiknya juga penting. Kalau damai, Afgahistan kan negara kaya, mineral, dan lain-lain.

Katakanlah kalau Taliban suatu waktu bisa menang, misalnya, tentu dia butuh hubungan-hubungan perdagangan, investasi dengan yang lain. Jadi negeri-negeri itu juga pada berdatangan walaupun Afghanistan itu negara yang tidak ada lautnya.

AA: Tadi bapak mengatakan soal power sharing, lalu bagaimana mentransformasikan konflik bersenjata menjadi persaingan politik. Kira-kira apa ruang yang akan bisa dilakukan oleh Afghanistan agar dari konflik bersenjata ini menjadi hanya persoalan persaingan politik?

JK: Tentu masing-masing mempunyai perhitungan, dan juga saya kira masing-masing ingin agar negerinya sendiri maju. Kalau perang terus pasti tidak maju. Karena itu kita mengharap kalau pemerintah Presiden Ghani.

Jadi sekarang Taliban bagaimana dia memberikan pemahaman bahwa ini win win, power sharing itu win win. Bagaimana mereka dua-duanya mempunyai kesempatan untuk memimpin secara bersama untuk kemajuan.

Memang yang timbul sekarang ini, Taliban itu – kita tahu semua Islam konservatif – mau kembali ke Islam yang secara awal pada zaman Rasulullah. Tapi tentu dalam keadaan sekarang itu kan tidak mudah lagi 100 persen begitu.

Apakah mau kembali, katakanlah pendidikan tidak boleh melibatkan perempuan. Perempuan harus begini, pendidikan harus bagaimana, pemerintahan ini hukumannya begini, itu juga suatu fundamental masalah.

Jadi tujuannya sama ingin memajukan negeri dengan beda, yang satu dengan cara konservatif, yang satunya satu secara moderat. Nah ini yang tidak bisa ketemu, kalau ini tidak bisa ketemu maka akhirnya kuat-kuatan.

AA: Kalau bapak sendiri melihat dalam konstelasi politik di Afghanistan, peran Turki bagaimana?

JK: Turki kan berperanan di mana saja terjadi di negara-negara Islam itu, ada soal di Suriah dia masuk ke Suriah, ada masalah di Libya, dia masuk, Somalia, bagus dia bantu. Saya teman baik dengan Presiden Erdogan.

Setiap ke sini mesti cari saya. Kami makan-makan berdua. Waktu di Turki saya ketemu beliau, di New York juga saya sama-sama.

Jadi saya memahami keinginan beliau untuk membantu, walaupun keadaan sekarang mungkin berbeda karena ekonominya sulit, jadi tidak semudah itu lagi.

Walaupun saya tidak melihat peran besar Turki sebenarnya sekarang ini – karena lebih banyak peran daripada Qatar, negara-negara sekitarnya, Tajikistan, Kazakhstan, Pakistan – tapi Turki berperan penting di situ.

Karena tadi itu, ada Amerika di situ, sekarang pertanyaannya setelah Amerika tidak ada, mungkin saja Turki ingin masuk membantu pemerintahan tapi tidak mudah karena ongkos yang mahal.

Amerika sendiri, saya baca artikelnya, menghabiskan dana 2 triliun dolar selama 20 tahun di Afghanistan. Negara mana yang sanggup, tanpa tujuan yang jelas, hanya karena marah Al-Qaeda yang mengebom WTC New York. Tapi biaya di Irak lebih besar, mencapai 3 triliun dolar.

AA: Jadi ending-nya bagaimana?

JK: Ending-nya kita lihat nanti tahap pertama setelah pasukan Amerika semuanya sudah pulang.

Jadi akhir Agustus ini dimulai, katakan sampai pertengahan September. Walaupun, katanya, masih disimpan kekuatan udara untuk mengebom di situ, tapi ini sudah 20 tahun.

Saya kira Amerika juga sudah sangat capek, fatigue menghadapi situasi, baik dari sisi jumlah orang yang menjadi korban, juga biaya yang besar, dan keterlibatan yang tidak ada akhir, dan tidak jelas tujuannya perang itu.

Jadi intinya cuman satu, kuatkah pemerintah Afghanistan bertahan? Kalau tidak kuat ya Afghanistan jatuh ke Taliban, apalagi dikatakan sudah 80 persen wilayah dikuasai. Sekarang yang dipertahankan mati-matian cuman tinggal Kabul dan Kandahar, kota nomor 1 dan kota nomor 2, yang lainnya sudah praktis tidak sulit.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.