Ekonomi, Berita analisis

Soal sawit, Indonesia-Malaysia bisa lakukan aksi balasan ke India

Konsumsi sawit dalam negeri dan negara Asia Selatan lain bisa jadi pasar alternatif

Muhammad Nazarudın Latıef   | 15.01.2020
Soal sawit, Indonesia-Malaysia bisa lakukan aksi balasan ke India Seorang petani memanen buah kelapa sawit di Banyuasin, Sumatra Selatan, Indonesia pada 27 Maret 2019 (Muhammad A.F - Anadolu Agency).

Jakarta Raya

JAKARTA 

Indonesia dan Malaysia selaku produsen terbesar kelapa sawit global bisa melakukan aksi retaliasi atau tindakan balasan terhadap India karena beberapa kali menekan komoditas ini dan produk olahannya.

“Seharusnya Indonesia-Malaysia kompak tidak menjual sawit ke India. Nanti mereka akan kelimpungan sendiri,” ujar peneliti Institute for Development Economic and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, saat dihubungi Anadolu Agency, pada Rabu.

Dalam pengumuman tertanggal 8 Januari 2020, Direktorat Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan dan Industri India, mengamandemen beberapa kebijakan ekspor-impor sawit.

Produk dengan kode 1511 90 10 bernama “refined bleached deodorized palm oil” diubah statusnya, dari yang sebelumnya “free” menjadi “restricted”.

Kemudian produk di bawah kode 1511 juga diubah dari “free” menjadi “restricted”.

Sebelumnya India juga memberlakukan tarif bea masuk Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) asal Indonesia sebesar 50 persen dan Malaysia 45 persen.

Akhir tahun lalu, India sebenarnya sudah merevisi bea masuk untuk produk Indonesia menjadi sama dengan tarif untuk Malaysia, namun pada awal tahun ini malah muncul tekanan baru.

“Jika Indonesia Malaysia kompak stop ekspor ke India, mereka akan kerepotan mencari kelapa sawit. Industri mereka akan tertekan,” ujar Firdaus.

India adalah importir minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Pada 2018 impor India dari Indonesia mencapai USD3,8 miliar, dan dari Malaysia sebesar USD1,3 miliar. Industri makanan di India mempunyai kebutuhan yang besar terhadap kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak sayur.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono menjelaskan, larangan impor produk sawit olahan berlaku bagi semua eksportir  ke India. Meski ada nuansa menghukum Malaysia karena kritiknya yang keras terhadap kebijakan soal Kashmir dan UU Kewarganegaraan, namun hal tersebut dirasakan oleh semua pemasok produk sawit ke India.  

“Saya tidak tahu apa latar belakang kebijakan itu,” ujar Mukti saat dihubungi Anadolu Agency.

“Kemungkinan India ingin agar industri rafinasi atau pengolahan minyak sawit berkembang, sehingga membatasi impor produk olahan, sedangkan impor minyak kelapa sawit curah atau Crude Palm Oil (CPO) tidak ada larangan.”

Menurut Mukti, kalangan industri tanah air masih menunggu model implementasi kebijakan baru tersebut.

Namun yang jelas, kata Mukti, kebijakan pelarangan impor produk olahan minyak sawit dapat merugikan ekspor produk olahan minyak sawit Indonesia.

India merupakan pasar ekspor terbesar kelapa sawit Indonesia, disusul China, Uni Eropa dan Pakistan. 

Indonesia pernah mengekspor produk kelapa sawit sebanyak 7 juta ton per tahun ke India, namun kini turun menjadi hanya sekitar 5 juta ton.

Sedangkan realisasi ekspor Malaysia ke India sebanyak 4,4 juta ton per tahun.

Larangan impor produk olahan kelapa sawit oleh India ini diperkirakan akan menurunkan volume ekspor kedua negara produsen terbesar itu.

Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperkirakan ekspor minyak kelapa sawit Malaysia ke India pada 2020 hanya akan mencapai 1 juta ton, jika kebijakan tersebut diberlakukan.

Perang harga Indonesia-Malaysia

Menurut Firdaus, Indonesia dan Malaysia harus berani mencari pasar baru untuk menjadi alternatif India.

Beberapa pasar alternatif bagi produk ini ialah China, Thailand dan Pakistan. Ketiga negara tersebut bisa diseriusi, kata Firdaus.

Indonesia juga bisa memanfaatkan perjanjian ekonomi komprehensif dengan Australia untuk mendorong produk sawit masuk ke negara Kanguru itu.

Kedua negara ini, kata Firdaus, tidak bisa dipaksa mengekspor sawit mentah ke India.

Menurut Firdaus, ekspor produk mentah ke India akan memicu terjadi perang harga antar-pemasok yang berakibat negatif di tingkat eksportir maupun kalangan petani di kedua negara.

“Perang harga justru akan merugikan petani, pekebun, bisa menjatuhkan harga dunia juga. Ini yang justru harus dihindari, agar harga CPO tidak terlalu jatuh,” ujar Firdaus.

Selain itu infrastruktur hilirisasi produk kelapa sawit di Indonesia sudah cukup maju.

“Kompakkan Indonesia dan Malaysia itu bisa jadi cara retaliasi, aksi balasan. Tentu sebelum itu semua sudah berunding dulu dengan India agar produk hilir sawit bisa diterima.”

The Palm Oil Refiners Association of Malaysia (PORAM) sebelumnya mengatakan secara tradisional CPO dari Indonesia lebih kompetitif dari segi biaya.

"Ini menempatkan Indonesia dan Malaysia berselisih. Akan ada perang harga antara Indonesia dan Malaysia, dan kami akan kalah," kata Ketua PORAM Jamil Haron, seperti dilansir The Star.

"Kita masih bisa menjual minyak sawit mentah, tetapi sekarang kita harus bersaing dengan Indonesia."

Pakistan dan Bangladesh potensial

Menurut Mukti, Indonesia memang harus mencari pasar alternatif lain. Di Asia Selatan ada Pakistan yang memiliki potensi pasar besar.

Pada 2018, volume ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai 2,5 juta.

Menurut Mukti, Bangladesh juga perlu ditingkatkan, tahun lalu ekspor Indonesia mencapai 1,8 juta ton. 

"Pakistan dan Bangladesh memang potensial,” ujar Mukti. 

Malaysia juga mengincar Pakistan. Menteri Industri Primer Teresa Kok bahkan sudah bertemu dengan Penasihat Pakistan untuk Perdagangan, Tekstil, Industri dan Produksi dan Investasi Abdul Razak Dawood.

Pada 2018, Pakistan mengimpor 1,16 juta ton minyak kelapa sawit dari Malaysia.

Peluang sawit di Indonesia juga pada program di dalam negeri. Yakni sejak Presiden Joko Widodo mendorong penggunaan bahan bakar campuran B-30 di dalam negeri. Kebijakan ini diperkirakan bisa meningkatkan permintaan CPO sekitar 5 juta ton - 6 juta ton per tahun.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın