Dunia, Repertoar, Berita analisis, Nasional

Pemberian ASI eksklusif tidak mudah dilakukan di Indonesia di masa pandemi

Ahli demografi mengkhawatirkan Indonesia terputus satu generasi akibat tutupnya layanan kesehatan dasar, seperti konseling, pemberian ASI dan vaksin bagi bayi yang lahir di masa pandemi

Adelline Tri Putri Marcelline, Umar Idris   | 03.08.2021
Pemberian ASI eksklusif tidak mudah dilakukan di Indonesia di masa pandemi Bayi lahir di masa pandemi (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA, Indonesia 

Pemberian air susu ibu atau ASI sangat penting bagi kesehatan seorang bayi memasuki tahap kehidupan selanjutnya.

Elizabeth Kimani, kepala Unit Kesejahteraan Ibu dan Anak di Pusat Penelitian Kesehatan Penduduk Afrika (APHRC), mengatakan seorang berpeluang memiliki penyakit berat atau morbiditas di usia selanjutnya jika seorang bayi tidak diberi ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.

“Ada juga risiko obesitas, karena pada penggantinya ditemukan bahan yang meningkatkan lemak. Ada juga masalah asma dan penyakit, jadi ASI adalah pelindung dari hal-hal seperti itu,” kata dia.

Namun memberian air susu ibu atau ASI di masa pandemi bukan perkara mudah.

Sang ibu harus membagi pekerjaan rumah tangganya dengan mendampingi anak sekolah secara daring dari rumah, sekaligus menyusui.

"Juga sulit bagi ibu dan bayinya untuk mendapatkan konseling dan bantuan menyusui karena ada pembatasan sosial dan keharusan menjaga jarak," kata Nia Umar, ketua umum asosiasi ibu menyusui Indonesia, kepada Anadolu Agency, pada Selasa.

Berbicara dalam rangka pekan ASI sedunia, Nia mengatakan, tantangan besar juga dihadapi oleh ibu hamil yang mau melahirkan karena menghadapi faktor risiko dari Covid-19.

"Sehingga banyak kelahiran bayi prematur akibat infeksi Covid-19, dan kondisi ini menyulitkan proses menyusui juga," tambah Nia.

Selain itu, catatan Anadolu, ibu hamil yang akan melahirkan namun positif Covid-19 setelah menjalani tes, rumah sakit tidak mau menangani persalinan dan merekomendasikan ke rumah sakit lain.

Menurut ahli gizi Tan Shot Yen "pengganggu" pemberian ASI di Indonesia cukup banyak, apalagi di masa pandemi.

Sebelum pandemi, masih ada nakes tidak mendukung pemberian ASI sehingga para ibu jatuh ke susu formula dengan berbagai alasan.

"Pemahaman ibu bayi tentang ASI masih minim," kata Tan. "Menyusui adalah HAK bayi dan dilindungi undang-undang," tambah Tan.

Di masa pandemi, kata Tan, masih ada rumah sakit tidak mengizinkan IMD (inisiasi menyusu dini) karena alasan protokol kesehatan. Bayi yang baru lahir dipisah dari ibunya saat di rumah sakit sehingga berisiko diberi susu formula.

"Sayang sekali, seharusnya kompetensi tenaga kesehatan termasuk sebagai konselor laktasi," kata Tan tanpa menyebutkan identitas rumah sakitnya, kepada Anadolu Agency.

Meskipun demikian, secara umum tren menyusui di Indonesia mengalami peningkatan. Mengutip Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017, cakupan ASI eksklusif mencapai 52% dari populasi bayi berusia 6 bulan.

Data ini menunjukkan hampir setengah bayi berusia 0-6 bulan di Indonesia tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif karena berbagai hambatan dan masalah.

Tantangan ini tidak hanya milik Indonesia. Di pedesaan Nyeri County di Kenya, sebagian besar keluarga tidak memberikan ASI eksklusif karena ketidaktahuan maupun tantangan dalam hidup para ibu, seperti harus pergi bekerja, kurangnya dukungan terutama untuk ibu muda, dan masalah keuangan dan ekonomi keluarga.

Perlu dukungan

Menurut Nia, keberhasilan ibu bisa menyusui memerlukan dukungan semua pihak sedari ibu masih hamil sampai menyusui.

Dukungan diperlukan mulai dari penyedia fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, hingga pemerintah dan keluarga inti.

"Kompetensi dan pengetahuan tenaga kesehatan terkait menyusui juga sangat penting agar ibu bisa terus dan mau menyusui anaknya," kata Nia.

Indonesia bisa mencontoh pemerintah Kenya dalam memberikan dukungan. Pada 2016, pemerintah Kenya meluncurkan Program Perawatan Bersalin Gratis senilai USD49,7 juta.

Layanan perawatan ibu gratis berusaha meningkatkan akses dan kualitas layanan perawatan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak menuju pencapaian Visi Kenya 2030 dan agenda Pembangunan Berkelanjutan.

Pakar kependudukan Universitas Indonesia Turro Wongkaren, beberapa waktu lalu kepada Anadolu Agency, mengkhawatirkan satu generasi Indonesia terputus akibat tutupnya layanan kesehatan dasar bagi bayi yang lahir di masa pandemi.

Turro berharap pemerintah Indonesia perlu memperhatikan bayi-bayi yang lahir di masa pandemi agar mereka tetap menikmati fasilitas kesehatan dasar seperti ASI maupun vaksin serta bimbingan kesehatan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın