Berita analisis, Nasional

Menteri milenial kabinet Jokowi Jilid-2 dibutuhkan atau hanya simbol?

Sosok milenial sudah diincar Jokowi sejak sebelum Pemilihan Presiden 2019

Erric Permana   | 15.07.2019
Menteri milenial kabinet Jokowi Jilid-2 dibutuhkan atau hanya simbol? Presiden Joko Widodo (ketiga dari kanan) berbincang bersama para modifikator motor chopper di Istana Bogor, Sabtu, 20 Januari 2018. (Bıro Pers - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Erric Permana

JAKARTA 

Presiden Joko Widodo meminta partai politik pendukung menyodorkan sosok muda dan profesional untuk menjadi menteri pada kabinet mendatang.

"Saya minta dari partai juga ada yang muda, ada dari profesional juga," ujar Joko Widodo di Senayan, Jakarta pada Jumat 12 Juni 2019.

Jokowi -- sapaan akrab Joko Widodo – menegaskan jika partai tersebut tidak memberikan sosok muda dan profesional, dirinya sendiri yang akan melakukan pencarian.

"Profesional muda kan banyak banget," tambah dia.

Pernyataan sosok menteri muda atau yang berasal dari generasi milenial bukan kali ini saja disampaikan Mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Sosok milenial memang sudah diincar Jokowi sejak sebelum Pemilihan Presiden 2019.

Saat itu Erick Thohir yang merupakan pengusaha muda yang sukses dan pernah memiliki klub sepakbola Italia ternama dijadikan sebagai Ketua Tim Kampanye Joko Widodo - Ma'ruf Amin.

Jokowi menganggap Erick Thohir mewakili generasi milenial karena sukses menyelenggarakan perhelatan Asian Games.

Usai memenangkan Pilpres 2019, menteri milenial pun disebut-sebut akan masuk dalam kabinet.

Sejumlah nama sempat muncul di antaranya Pendiri Go-Jek Nadiem Makarim yang berusia 34 tahun.

Nadiem yang merupakan lulusan Harvard Business School dinilai memiliki potensi.

Selain itu juga Polisiti PSI Tsamara Amany dan Grace Natalie sempat diisukan akan menjadi salah satu calon menteri karena dinilai memiliki pengaruh di kalangan milenial.

Tsamara pun menyerahkan sepenuhnya keputusan itu kepada Jokowi.

"PSI kita tahu diri kita sebagai parpol yang tidak tembus 4 persen. Saya dukung apapun keputusan pak Jokowi, artinya tugas saya hanya mengantarkan pak Jokowi sampai istana lagi, saya serahkan semua ke pak Jokowi, siapa menterinya, siapa yang mau diangkat," kata Tsamara pada Mei lalu.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia juga sempat digadang-gadang menjadi menteri termuda di kabinet Jokowi-Ma'ruf.

Bahkan Jokowi pernah menyebut Bahlil Lahadahlia memiliki kualitas sebagai seorang menteri.

"Sangat berpotensi," kata Jokowi pada Mei lalu.

Menanggapi hal itu Bahlil pun menyerahkan sepenuhnya kepada Joko Widodo jika nanti dirinya direktur menjadi menteri pada periode 2019-2024.

"Itu hak prerogatif presiden," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Sosok menteri milenial apakah dibutuhkan?

Tim Kampanye Nasional Joko Widodo - Ma'ruf Amin mengakui pemerintahan baru mendatang membutuhkan sosok yang berasal dari generasi milenial.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo - Ma'ruf Amin Arya Sinulingga mengatakan dibutuhkannya sosok milenial tersebut lantaran visi dan program Pemerintahan Jokowi - Ma'ruf berhubungan dengan kalangan muda.

"[Program] seperti Dilan [Digital Melayani] kartu kerja, lalu pra kerja itu berhubungan dengan kerja yang memang mengcover milenial," jelas dia.

Namun, dia mengingatkan bahwa sosok yang muda dicari nanti memiliki kemampuan manajerial teknis yang baik.

Sehingga, kata dia, menteri muda dalam kabinet 2019-2024 nanti tidak hanya menjadi simbol.

Arya menyebut bahwa TKN berharap agar di pemerintahan mendatang banyak menteri yang berasal dari kalangan muda dan tidak menutup kemungkinan anak muda tersebut tidak hanya berasal dari partai politik pendukung.

"Tidak terbatas pada partai yang ada malah ada non partai malah seperti Bahlil kan anak muda untuk kembangkan UMKM Bahlil ini punya visi kebangsaan baik manajerial baik kembangkan ekonomi," tambah dia.

Sementara itu Ketua Umum PDI Perjuangan – partai utama pengusung Jokowi – Megawati Soekarnoputri menyatakan tidak mempermasalahkan adanya menteri muda yang masuk dalam kabinet.

Dia mengingatkan bahwa calon menteri muda tersebut harus bisa bekerja. Begitu pun yang berusia tua namun berpengalaman dan bisa bekerja, tak seharusnya ditolak.

Megawati mengatakan, di jaman Bung Karno, ada anggota kabinet yang muda tetapi menguasai masalah dan pintar.

"Ini yang saya lihat kelemahan kita dewasa ini. Orang disodor-sodorkan, tapi tidak mengerti secara praktis tata pemerintahan," kata Megawati melalui keterangan resmi PDI Perjuangan.

Megawati memberikan syarat menteri muda tersebut disarankan minimal mengetahui soal DPR RI.

Sebab di situlah kata dia tempat membuat undang-undang (UU), bertemu dan mengawasi mitra kerja, hingga memutuskan RUU bersama Pemerintah.

"Kalau tidak tahu proses bikin perundangan, bagaimana? Dan saya suka bilang, [jadi menteri] memang mau mejeng saja? He he. Saya tidak akan menyebut nama. Kita lihat, mereka-mereka yang tidak punya latar belakang di dalam proses menjalankan tata pemerintahan di republik ini, dia fail," ujar Megawati.

Pengamat Politik Ray Rangkuti mengakui bahwa sosok muda di dalam kabinet tersebut sangat dibutuhkan karena fase pemerintahan Jokowi - Ma'ruf merupakan fase transisi dari generasi pertama reformasi ke generasi kedua.

Dengan dipilihnya sosok milenial tersebut maka akan membantu adanya regenerasi politik di semua aspek.

"Saya kira ini akan menjalar ke mana-mana baik secara struktural ke dalam institusi partai maupun secara psikologis kepada seluruh bangsa ini," ujar Ray Rangkuti melalui sambungan telepon kepada Anadolu Agency.

Dengan adanya keputusan itu kata Ray, ada potensi generasi muda bakal dipercaya untuk terlibat dalam proses pengelolaan kebijakan publik.

Keuntungan lain yang bisa Jokowi dapatkan jika memilih menteri muda kata dia bisa mempercepat kinerja pemerintahan.

"Menjadikan anak muda sebagai partner yah besar kemungkinan gerak dari pak Jokowi juga akan membaik," jelas dia.

Namun, kata dia, mempunyai menteri muda agak sulit direalisasikan. Apalagi kata dia yang berasal dari kalangan partai politik.

Dia menduga generasi muda yang berasal dari partai politik yang akan diajukan menjadi menteri merupakan orang yang berusia 40 tahun ke atas.

"Paling muda 40 tahun dan saya yakin tidak begitu banyak orang yah, rata-rata pasti di atas 40 tahun karena 40 tahun di partai tidak jadi apa-apa," kata dia.

Semakin sulitnya realisasi menteri muda juga karena komposisi kabinet yang menurut dia akan lebih banyak yang berasal dari partai politik.

Tebakan Ray Rangkuti, kabinet Jokowi akan memiliki komposisi 60 persen menteri berasal dari partai pendukung dan 40 persen berasal dari orang-orang non partai.

Untuk memilih generasi muda yang berasal dari non partai juga bukan hal yang mudah, imbuh Ray.

Sebab sejumlah menteri yang menjabat saat ini dan terbukti berhasil dalam kinerjanya bukan berasal dari generasi milenial.

Dia mencontohkan salah satunya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

"Saya katakan maksimal menteri muda berusia 55 tahun kalau melihat itu, karena kalau berusia di bawah 40 tahun itu saya tidak terlalu yakin akan didapatkan oleh pak Jokowi," pungkas dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.