Berita analisis

Kurban, ibadah sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat

Indonesia menghadapi ketimpangan potensi kurban karena kurban masih terpusat di Pulau Jawa

Pizaro Gozali Idrus,Muhammad Nazarudin Latief,Iqbal Musyaffa   | 17.07.2020
Kurban, ibadah sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat ILUSTRASI: (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Hari raya Idul Adha yang diikuti dengan pemotongan hewan kurban pada tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Pada tahun ini, Idul Adha diadakan ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan banyak bagian dunia.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, ketika pemerintah membutuhkan roda ekonomi bergulir kembali dengan protokol kesehatan ketat, hari raya kurban diperkirakan semakin membuat roda ekonomi masyarakat berputar lebih kencang.

Sebab, tradisi berkurban di tengah masyarakat muslim setiap Idul Adha, memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

Berdasarkan hasil riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), yang diumumkan Rabu pekan ini, perputaran ekonomi dari tradisi berkurban di Indonesia mencapai hingga Rp20,5 triliun, berasal dari sekitar 2,3 juta warga muslim yang akan berkurban.

Peneliti IDEAS Askar Muhammad mengatakan, di Indonesia ada sekitar 62 juta keluarga muslim dengan 9 persen di antaranya atau 5,6 juta keluarga masuk kategori kelas menengah-atas dengan pengeluaran per kapita di atas Rp2,5 juta per bulan.

Dari keluarga muslim sejahtera itu diperkirakan 40 persen di antaranya akan melakukan ibadah kurban sebanyak satu kurban untuk tiap keluarga.

“Jadi ada sekitar 2,3 juta muslim berdaya beli tinggi yang akan menjadi pekurban,” ujar dia dalam sebuah diskusi, Rabu.

Menurut Askar, mereka membutuhkan hewan kurban berupa kambing dan domba sebanyak 1,9 juta ekor, sedangkan sapi atau kerbau sekitar 452.000 ekor.

Dengan harga rata-rata sekitar Rp1,9 juta per ekor domba dan Rp15 juta per ekor sapi maka diperkirakan nilai ekonomi kurban 2020 mencapai Rp20,5 triliun.

“Fakta ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi dari ritual tahunan kurban tidak dapat dipandang kecil,” jelas Askar.

Berdayakan ekonomi masyarakat

Arifin Purwakananta, Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengamini, kurban memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

Arifin mengatakan kurban adalah salah satu ibadah yang mempunyai manfaat ekonomi besar, selain haji, puasa dan Lebaran.

Menurut Arifin hewan kurban memiliki beberapa rantai rantai pasok yang bisa dikembangkan untuk membangun perekonomian masyarakat.

Pertama dari rantai suplai. Biasanya keuntungan perdagangan hewan kurban hanya dinikmati oleh penjual ternak, namun kini dengan bisa menghidupkan kanal-kanal layanan teknologi finansial, saluran donasi digital, bahkan perbankan yang menawarkan tabungan kurban atau program lain.

“Jadi dari sisi pekurban melahirkan rantai ekonomi pasok, yaitu pelayanan kurban,” ujar Arifin pada Anadolu Agency.

Dari sisi produksi ternak, menurut Arifin kurban bisa menjadi siklus pemberdayaan masyarakat bukan saja saat menjelang Idul Adha, namun sepanjang tahun.

“Sebelum kurban, kita mulai siapkan peternakan, penyebaran bibit, kelompok ternak hingga penyiapan hewan saat kurban. Demand kurban bisa menggerakan ekonomi ternak,” ujar dia.

“Kurban bagi Baznas bukan saja melayani orang berkurban dan menyalurkannya. Tapi juga menggerakkan orang yang memasok hewan-hewan ternak.”

Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Indonesia (UI) Rahmatina Awaliah Kasri menambahkan, kurban bisa menjadi pendorong pemberdayaan ekonomi, ketahanan pangan, peningkatan gizi dan pada akhirnya mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Karena kurban melibatkan rangkaian rantai pasokan dan aktivitas ekonomi seperti produksi, konsumsi dan distribusi daging ternak.

“Aktivitas ekonomi berpotensi meningkatkan pendapatan, kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,” ujar dia.

Menurut dia, peningkatan permintaan pada ternak akan memicu penambahan jumlah peternak dengan skala mikro yang berarti bisa mengurangi pengangguran.

Menurut dia angka multiplier kerja pada seekor ternak adalah 0,227, artinya setiap penambahan modal Rp100 juta pada sektor ini akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja 2,7 orang.

Potensi kurban tak merata

Namun kurban di Indonesia menghadapi masalah potensi yang tidak terdistribusi merata.

Menurut Askar dari sekitar 5,6 juta keluarga muslim kelas menengah atas Indonesia, 71 persen di antaranya atau sekitar 4 juta keluarga berada di Pulau Jawa.

Kemudian, kaum muslim sejahtera ini terkonsentrasi lagi di Jabodetabek sebanyak 2 juta orang, lainnya tersebar di Bandung Raya, Surabaya Raya, Yogyakarta Raya, Semarang Raya dan Malang Raya.

“Dengan kelas menengah-atas muslim terkonsentrasi di perkotaan utama Jawa, maka potensi kurban terbesar kami perkirakan datang dari wilayah-wilayah ini,” ujar Askar.

IDEAS memproyeksikan pasar hewan kurban terbesar adalah Jabodetabek, sekitar 184 ribu sapi dan 673 ribu kambing-domba atau setara 41 persen dan 36 persen pasar nasional.

Kesenjangan persebaran tidak hanya terjadi pada potensi kurban saja, potensi mustahik atau penerima kurban juga terdistribusi secara tidak merata.

Mustahik yang paling berhak menerima daging kurban adalah keluarga dengan pendapatan per kapita di bawah Rp500 ribu bulan, jumlahnya sekitar 9,3 juta keluarga, ujar Askar.

Sebagian besar dari mereka juga tinggal di Pulau Jawa, sekitar 6,4 juta keluarga.

“Bila potensi pekurban terbesar datang dari wilayah perkotaan utama Jawa, maka potensi mustahik terbesar datang dari daerah pedesaan Jawa,” kata dia.

Ketimpangan distribusi potensi dan mustahik ini juga disadari oleh Baznas.

Menurut Arifin, selama ini kurban memang berpusat di kota-kota besar, mengikuti model ekonomi nasional.

Hewan kurban didatangkan ke kota oleh para tengkulak atau pengepul, tanpa memberikan nilai tambah yang cukup bagi para peternak di desa.

Arus perdagangan hewan kurban biasanya terjadi dari sentra sapi potong di Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sentra kambing-domba di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah, menuju pasar utama yaitu Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Malang dan Semarang. 

Menurut Arifin kelas menengah muslim perkotaan ini kemudian menyembelih dan mendistribusikan daging kurban ke lingkungannya di perkotaan.

“Jadi desa malah tidak mendapatkan asupan protein yang cukup dari hari raya kurban ini,” ujar dia.

Baznas, kata Arifin, sudah dua tahun ini berupaya mengubah skema konvensional dan membuat kurban menjadi sarana menyebarkan gizi dan menggerakkan ekonomi bagi masyarakat di pedesaan.

“Kalau kami di Baznas, pekurbannya bisa jadi masih kelompok menengah ke atas, tapi dibelikan hewan langsung dari peternak di desa. Kemudian disembelih dan dagingnya juga dibagikan di desa,” ujar dia.

“Dulu desa-desa tidak mendapatkan protein yang cukup baik. Kita balik, kurban juga menyelesaikan problem gizi masyarakat desa.”

Masalah gizi ini, penting karena konsumsi daging per kapita masyarakat Indonesia baru tergolong rendah.

Data dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2018 konsumsi daging per kapita Indonesia baru 1,9 kilogram (kg) untuk sapi dan 0,4 kg untuk kambing.

Malaysia yang sudah mencapai 5,5 kg untuk sapi dan 1,2 kg untuk kambing.

Peternakan hewan ini juga memungkinkan adanya investasi untuk mengembangkan ekonomi di desa.

Dengan menggunakan dana zakat, Baznas memberikan modal untuk para mustahik untuk mengembangkan peternakan hewan kurban.

“Jadi meski kampanye kurban hanya mendekati hari raya kurban, tapi beternaknya sepanjang tahun. Dari balai-balai ternak ini hewan kurban berasal dan disebarkan ke desa-desa miskin,” ujar dia.

“Jadi ternaknya dapat, tenaga kerjanya dapat dan dagingnya juga dapat.”

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın