Berita analisis, Nasional

Jangan lengah, tetap jaga protokol kesehatan meski vaksinasi telah bergulir

Dengan efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3 persen, masih ada peluang sebagian kecil penerima vaksin tetap bisa terinfeksi Covid-19

Nicky Aulia Widadio   | 14.01.2021
Jangan lengah, tetap jaga protokol kesehatan meski vaksinasi telah bergulir   Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kiri) mendapatkan suntikan vaksin Covid-19, Kamis 14 Januari 2021. (Kiki Cahyadi - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Program vaksinasi di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia telah berjalan pada Kamis, termasuk di sejumlah rumah sakit di Jakarta.

Program vaksinasi berjalan di tengah memburuknya kasus penularan Covid-19 di Indonesia.

Sudah dua hari berturut-turut Indonesia melaporkan kasus harian di atas 11 ribu orang, dengan persentase kasus positif mencapai 25 persen, dan kasus aktif melebihi 133 ribu orang.

Bagi Cannes Nobel Wingardi, seorang dokter di unit darurat di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta Barat, program vaksinasi menjadi suatu harapan agar pandemi lebih terkendali setelah perjalanan panjang selama 10 bulan pandemi.

Program vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi risiko yang dihadapi tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien.

Cannes menjadi salah satu dokter yang mendapatkan prioritas untuk divaksinasi pada Kamis.

“Yang penting percaya vaksin ini bermanfaat untuk tubuh kita, juga untuk menanggulangi pandemi,” kata Cannes kepada Anadolu Agency, Kamis.

“Waktu divaksinasi saya hampir tidak merasakan apa pun, tidak ada rasa sakit apa pun, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” lanjut dia.

Meski telah divaksinasi, Cannes juga menyadari bahwa protokol kesehatan tetap penting untuk diterapkan.

“Tentunya tetap kita harus menjaga jarak, memakai masker dan menghindari kerumunan,” kata dia.

Pemerintah menargetkan 1,4 juta tenaga kesehatan sebagai prioritas dalam program vaksinasi yang telah bergulir sejak Rabu, dimana Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan tenaga kesehatan menjadi prioritas karena berhadapan langsung dengan penanganan Covid-19.

Dante sendiri juga telah disuntik vaksin pada Kamis pagi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Sejalan dengan ini, sejumlah daerah juga telah mulai menjalankan program vaksinasi. Salah satunya Jawa Barat, dimana Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum menjadi penerima pertama.

Gubernur Ridwan Kamil tidak disuntik vaksin karena telah menjadi relawan dalam uji klinis tahap ketiga vaksin Sinovac pada Oktober 2020.

Selain menyuntik pejabat daerah dan sejumlah tenaga kesehatan, pemerintah juga melibatkan selebriti atau influencer seperti Raffi Ahmad dan Nazril Irham alias Ariel “Noah”.

Protokol kesehatan tetap wajib usai divaksinasi

Namun selebriti Raffi Ahmad pada Kamis menuai kritik usai unggahan di media sosial menunjukkan dirinya berfoto bersama sejumlah selebriti lainnya di sebuah pesta tanpa menerapkan protokol kesehatan.

Padahal Raffi termasuk salah satu dari kelompok pertama yang menerima vaksinasi di Istana Negara bersama Presiden Jokowi.

Usai unggahan tersebut, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan telah menegur Raffi terkait hal tersebut.

“Sudah dinasehati, diingatkan kembali oleh tim komunikasi Covid-19 agar menaati protokol kesehatan,” kata Heru kepada wartawan.

Epidemiolog asal Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan protokol kesehatan tetap harus dipatuhi meski seseorang telah disuntik vaksin Covid-19.

Menurut Dicky, dengan tingkat efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3 persen artinya masih ada peluang sebagian kecil penerima vaksin tetap bisa terinfeksi Covid-19.

Namun dalam hal ini, bukan berarti vaksin tidak memberikan proteksi terhadap penerimanya sama sekali.

“Vaksin akan memberikan proteksi dalam arti gejala yang dialami itu tidak parah, tidak membebani rumah sakit, juga akan menurunkan risiko kematian. Itu adalah manfaat tahap pertama dari vaksin,” jelas Dicky kepada Anadolu Agency.

Selain itu, belum ada satu pun vaksin di dunia yang mampu menjawab berapa lama vaksin mampu mencegah penularan. Butuh waktu lebih lama untuk mengetahui hal ini.

“Orang yang sudah menerima vaksin yang lengkap sekali pun, bahkan setelah dua minggu atau satu bulan dia tetap berpotensi menularkan. Makanya protokol kesehatan itu wajib dilakukan,” jelas Dicky.

Apalagi, di tengah proses vaksinasi yang masih terbatas dan bertahap ini, Dicky mengatakan masih banyak kelompok masyarakat yang rentan tertular.

Dicky menekankan program vaksinasi tetap penting untuk pengendalian pandemi, namun pemerintah juga masih harus melakukan program tes, penelusuran kontak, serta isolasi mandiri untuk memutus penularan.

“Tidak boleh euforia dengan program vaksinasi, karena kalau dia hanya berdiri sendiri tidak bisa berhasil juga,” tutur Dicky.

“Kalau bicara herd immunity itu perjalanan panjang. Kalau pandeminya tidak terkendali, akan jauh sekali mencapai herd immunity,” ujar dia.

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Satria juga menekankan pentingnya protokol kesehatan meski telah disuntik vaksin.

Menurut dia seusai mendapatkan suntik vaksin, seseorang tidak bisa langsung kebal terhadap virus, karena masih memerlukan waktu hingga terbentuk imun.

Apalagi suntik vaksin dilakukan dua kali.

“Protokol kesehatan tetap perlu, karena perlindungan oleh vaksin tidak 100 persen,” kata dia.

“Vaksin baru memberikan perlindungan paling bagus sekitar 1-2 minggu pascasuntikan kedua. Ketika kita tidak jaga diri setelah suntik, masih tetap bisa terkena jika imun belum terbentuk,” ujar dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.