Politik, Dunia, Berita analisis

Diaspora India dan Yahudi hati-hati tunjukan dukungan di Pemilu AS 2020

Kedua komunitas diaspora itu telah meminta pemerintah di New Delhi dan Tel Aviv untuk berhati-hati dan tidak menunjukkan dukungan kepada kandidat tertentu secara terang-terangan

Maria Elisa Hospita   | 13.10.2020
Diaspora India dan Yahudi hati-hati tunjukan dukungan di Pemilu AS 2020 Ilustrasi. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Iftikhar Gilani

ANKARA

Meski secara sementara calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden unggul atas Presiden Donald Trump dalam berbagai jajak pendapat, diaspora India dan Yahudi di AS telah meminta pemerintah di New Delhi dan Tel Aviv untuk berhati-hati dan tidak menunjukkan dukungan kepada kandidat tertentu secara terang-terangan.

Meskipun kedua komunitas sangat terpolarisasi, dengan mayoritas mendukung Demokrat, pemerintah yang sedang menjabat di India dan Israel mendukung Trump agar terpilih untuk satu masa jabatan lagi.

Sebagai gantinya, Trump pun memamerkan foto-fotonya bersama Perdana Menteri India Narenda Modi dan PM Israel Benjamin Netanyahu, untuk menarik perhatian sebagian besar komunitas India dan Yahudi.

Kepala Dewan Keamanan AS-India Ramesh Kapur telah mengingatkan Modi untuk memantau tren yang terjadi pada Pemilu AS.

“Selama pemilu yang lalu, mereka [pemerintah India] telah mempertaruhkan segalanya untuk mendukung Hillary Clinton. Kemudian, pada akhirnya, mereka harus bersusah-payah mengejar pemerintahan Trump. Kini mereka melakukannya lagi,” ujar Kapur.

Sambil menjelaskan ketidakpastian pemilu 2020, Chemi Shaler, kolumnis senior surat kabar Israel Haaretz yang berbasis di Washington, mengatakan bahwa tak seperti 2016, Biden memiliki rata-rata keunggulan dua kali lebih besar daripada Hillary Clinton pada 2016.

“Jika pemilu digelar hari ini, saya yakin Biden pasti menang. Namun kita berurusan dengan Donald Trump, jadi situasinya tidak bisa diprediksi," kata dia.

Kuantitas kecil, pengaruh besar

Dari segi jumlah, kedua komunitas diaspora tersebut sangat kecil. Namun kekayaan, pengaruh, dan kekuasaan mereka di universitas yang tergabung dalam Ivy League (delapan kampus terkemuka di AS), di lembaga think-tank terkemuka, dalam sistem peradilan AS, dan politik, telah menjadikannya sebagai komunitas penting, khususnya bagi calon presiden.

Menurut American Jewish Year Book 2019, jumlah orang Yahudi diperkirakan 6,97 juta atau hanya 2 persen dari populasi AS.

Sedangkan menurut menurut US Census American Survey, diaspora India jauh lebih sedikit jumlahnya, yakni hanya 4,4 juta dari keseluruhan 331 juta penduduk negara itu.

Jika dibandingkan dengan komunitas diaspora Asia lainnya: Tionghoa (5 juta), Filipina (4 juta), Pakistan (544.000), dan Bangladesh (185.000), mereka tampak kurang signifikan. Namun, di antara para imigran, orang India menunjukkan pertumbuhan tertinggi, yaitu 38 persen, pada 2011-2017.

Dengan waktu kurang dari satu bulan menuju pemilu, kedua partai itu berusaha untuk merayu pemilih dari setiap komunitas untuk melenggang ke Gedung Putih.

CEO Forum Kemitraan Strategis AS-India Mukesh Aghi, komunitas India mungkin kecil jumlahnya, tetapi partisipasi mereka yang hampir total dalam proses pemilihan umum membuat mereka penting bagi para kandidat.

Menurut dia, tingkat partisipasi komunitas India juga naik 147 persen sejak 2000.

Kurangnya minat pada hubungan India-AS

Aghi juga menuturkan bahwa meskipun semakin banyak orang India yang mendukung Trump, tetapi generasi kedua komunitas ini kurang antusias tentang kebijakan AS terhadap India.

“Mereka cenderung fokus pada masalah domestik seperti orang Amerika lainnya,” kata dia.

Selain itu, krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 juga sangat mempengaruhi para pemilih.

Aghi mengatakan India-Amerika telah menjadi kontributor terbesar dalam pendanaan pemilu per kapita, di mana mereka menyumbang lebih dari USD3 juta untuk kampanye presiden 2020 sejauh ini.

Industrialis India-Amerika Shalabh “Shalli” Kumar bahkan telah menyumbangkan USD898.800 untuk kampanye Trump pada 2016.

Jika membandingkan kebijakan dua kandidat terkait India, Kapur mengatakan kebijakan Biden akan lebih multilateral, sedangkan Trump selama ini bersifat transaksional.

Kedua pemimpin diaspora India itu mengatakan New Delhi seharusnya tak mengharapkan adanya konsesi tentang masalah visa H1B, yang memungkinkan seorang majikan AS mempekerjakan tenaga kerja asing dalam pekerjaan spesialis.

Dukungan Biden untuk India

Baru-baru ini, pihak India prihatin dengan pernyataan Biden soal Undang-Undang Kewarganegaraan India yang dianggap bentuk diskriminasi terhadap komunitas Muslim, sekaligus penolakannya untuk mencabut status khusus Jammu dan Kashmir.

Meskipun begitu, Kapur memperingatkan bahwa India lolos dari sanksi setelah menggelar uji coba nuklir pada 1975 berkat dukungan Biden di Senat.

Resolusi tersebut gagal disepakati di DPR AS karena kurang satu suara dukungan.

Selain itu, karena dukungan aktif Biden pada 2018, mantan presiden George Bush akhirnya menandatangani perjanjian nuklir India-AS.

Para pemimpin diaspora India juga mengharapkan pemerintahan baru AS nanti menghapus Undang-Undang Pengendalian Ekspor, yang akan memungkinkan India dimasukkan dalam aliansi NATO+ 5, bersama dengan Jepang, Korea Selatan, Israel, Australia, dan Selandia Baru.

Normalisasi Israel dengan negara-negara Arab

Di sisi lain, diaspora Israel ingin Biden membantu proses normalisasi negaranya dengan negara-negara tetangga Arabnya.

"Negara-negara [Arab] ini juga akan mengamati dengan cermat apa yang Biden lakukan di Iran, yang akan mempengaruhi dukungan mereka," kata seorang jurnalis asal Israel, Shaler.

Allison Keplan Sommer, jurnalis senior Israel lainnya, mengatakan penolakan Trump untuk mengutuk supremasi kulit putih telah memukul popularitasnya di kalangan orang Yahudi.

"Hal-hal seperti inilah yang membuat mereka tidak mungkin mendukung Trump," tambah Sommer.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.