Dunia, Berita analisis

Di bawah rencana Trump, Ibu kota Palestina tak bisa diwujudkan

Rencana AS adalah 'mimpi terburuk' bagi rakyat Palestina, kata kepala Pusat Hak Sosial dan Ekonomi Yerusalem

Rhany Chaırunıssa Rufınaldo   | 10.02.2020
Di bawah rencana Trump, Ibu kota Palestina tak bisa diwujudkan  Ilustrasi: Umat muslim mendatangi Masjid Al-Aqsa Mosque di Yerusalem (Mostafa Alkharouf - Anadolu Agency)

Ankara

Abdelraouf Arnaout

YERUSALEM

Dari sudut pandang Palestina, Yerusalem Timur terdiri dari kota tua dan 16 lingkungan, tetapi rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sebaliknya.

Menurut "Kesepakatan Abad Ini", yang diumumkan Trump pada 28 Januari saat konferensi pers di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kota tua dan 14 lingkungan Palestina dianeksasi menjadi "ibu kota Israel yang tidak terbagi" bersama dengan Yerusalem Barat.

Dalam rencana Trump, dikatakan bahwa sementara pembagian fisik kota harus dihindari, penghalang keamanan yang ada saat ini tidak mengikuti batas kota dan sudah memisahkan lingkungan Arab di Yerusalem dari sisa lingkungan di kota itu.

Penghalang fisik ini harus tetap di tempatnya dan harus berfungsi sebagai perbatasan antara ibu kota kedua pihak.

"Yerusalem akan tetap menjadi ibukota berdaulat Negara Israel, dan kota itu harus tetap menjadi kota yang tidak terbagi. Ibu kota berdaulat Negara Palestina harus berada di bagian Yerusalem Timur yang terletak di semua wilayah timur dan utara dari penghalang keamanan yang ada, termasuk Kafr Aqab, bagian timur Shuafat dan Abu Dis, dan dapat dinamai Al Quds atau nama lain yang ditentukan oleh Negara Palestina," bunyi rencana itu.

Warga Palestina dikejutkan oleh rencana AS tersebut, terutama tentang status Yerusalem, yang mendorong semua faksi Palestina untuk menolaknya.

'Yerusalem yang kita tahu'

Menteri Urusan Yerusalem Otoritas Palestina (PA) Fadi al-Hadami mengatakan Yerusalem, tanah yang tidak akan ditukar oleh Palestina, adalah tanah yang diduduki oleh Israel pada 1967 dan terdiri dari kota tua Yerusalem dan lingkungan Palestina

"Isi rencana AS membuat seluruh Yerusalem Timur menjadi ibu kota Israel bersama dengan persyaratan lain yang menguntungkan bagi Israel," kata al-Hadami.

Dia menambahkan bahwa rencana AS memberi Israel semua Yerusalem Timur termasuk semua situs Islam dan Kristen, sementara Palestina atau Arab tidak dapat menerima rencana seperti itu.

Untuk lingkungan Kafr Aqab yang terletak di utara Yerusalem Timur, tembok pemisah Israel dan pos pemeriksaan Qalandia memisahkannya dari Yerusalem dan membuatnya lebih terhubung ke Ramallah.

Karena tingginya harga apartemen dan unit perumahan di lingkungan Palestina, banyak warga Yerusalem selama beberapa tahun terakhir pindah ke lingkungan Kafr Aqab, di mana unit perumahan lebih murah dibandingkan dengan lingkungan lain di wilayah pendudukan itu.

Tetapi lingkungan tersebut tidak memiliki layanan dan infrastruktur kota yang memadai, yang mengakibatkannya menjadi daerah kumuh.

Di kamp Shufat, satu-satunya kamp pengungsi Palestina di Yerusalem Timur yang didirikan pada 1965, hingga beberapa tahun lalu hanya pengungsi Palestina yang memegang kartu identitas Yerusalem Israel tinggal di sana.

Namun, dinding segregasi Israel yang dibangun pada 2002 mengisolasi kamp dari daerah Yerusalem Timur.

Kamp ini juga tidak memiliki layanan kota yang layak dan dianggap sebagai salah satu kamp pengungsi yang paling ramai.

Kota Abu Dis, yang terletak di sebelah timur Yerusalem, diklasifikasikan oleh Israel sebagai bagian dari Tepi Barat, meskipun menurut Palestina, wilayah itu adalah bagian dari Provinsi Yerusalem.

Pada 2002, tembok segregasi Israel mengisolasi kota itu dari Yerusalem, yang sejatinya hanya berjarak dua kilometer dari Masjid Al-Aqsa, tetapi sekarang membutuhkan puluhan kilometer untuk mencapai masjid.

Apa yang menggabungkan ketiga area ini adalah tembok segregasi Israel yang mengisolasi mereka dari Yerusalem Timur dan ukuran mereka yang kecil.

Menurut rencana perdamaian AS, ketiga wilayah itu juga tidak saling terhubung dan dipisahkan satu sama lain oleh tanah Israel.

Selain kota tua, lingkungan yang akan ditempatkan di bawah kedaulatan Israel dan dianeksasi ke Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah Beit Hanina, Shufat, El-Esaweya, At-Tur, Assuwana, Wadi al-Joz, Sheikh Jarrah, Silwan, Al-Thawri, Ras al-Amud, Jabel Mukaber, Sur Baher, Um Toba dan Beit Safafa.

Tidak cocok menjadi ibu kota

Khalil al-Tafakji, kepala Departemen Peta dari Masyarakat Studi Arab di Yerusalem, mengatakan area yang disebutkan dalam 'Kesepakatan Abad Ini' tidak cocok menjadi ibu kota.

"Selain penolakan politik, Kafr Aqab, Shufat dan Abu Dis adalah daerah yang tidak bisa membentuk sebuah ibu kota," ujar al-Tafakji.

Menurut dia, Abu Dis dikelilingi oleh pemukiman Ma'ale Adumim di timur dan tembok pemisah Israel di wilayah barat dan utara, sementara ada lembah-lembah yang dalam di sebelah selatannya.

"Untuk Kafr Aqab, dinding segregasi mengisolasinya dari Yerusalem dan membuatnya terhubung dengan Ramallah. Untuk kamp Shufat, itu juga terisolasi dari Yerusalem oleh dinding dan lebih terhubung ke daerah Tepi Barat," tambah al-Tafakji.

Dia juga mengatakan bahwa biasanya ibu kota seharusnya secara historis terhubung dengan rakyatnya dan hanya Yerusalem Timur yang memiliki aspek ini untuk Palestina.

Dari perspektif geografis, al-Tafakji menambahkan bahwa setiap ibu kota harus memiliki unsur-unsur tertentu seperti ruang untuk bangunan pemerintah dan ini tidak ada dalam tawaran yang diusulkan AS untuk Palestina.

Nasib suram dan tak pasti

Berdasarkan statistik, jumlah warga Palestina yang tinggal di Yerusalem dan memegang kartu identitas Israel berkisar antara 320.000-330.000 orang, termasuk 120.000-140.000 yang tinggal di daerah terpencil di dekat tembok.

Ziad al-Hammouri, direktur Pusat Hak Sosial dan Ekonomi Yerusalem, mengatakan bahwa nasib 120.000 hingga 140.000 warga Palestina di Yerusalem tidak akan diketahui dengan pasti jika Kafr Aqab, Shuafat dan Abu Dis ditetapkan sebagai ibu kota.

Al-Hammouri mempertanyakan apakah Israel akan mengizinkan mereka memasuki wilayah yang akan dianeksasi ke Israel sesuai dengan apa yang disebut dalam rencana perdamaian itu.

"Apakah mereka perlu izin untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsa?" kata dia.

Rencana perdamaian yang diusulkan AS itu akan memungkinkan warga Arab di ibu kota Israel, Yerusalem, untuk memilih satu dari tiga opsi: Menjadi warga Negara Israel, menjadi warga Negara Palestina atau mempertahankan status mereka sebagai penduduk permanen di Israel.

"Jelas bahwa rencana itu berujung pada kebijakan Israel yang diterapkan selama bertahun-tahun, yaitu untuk mengurangi jumlah warga Palestina di Yerusalem Timur dan untuk meningkatkan jumlah pemukim Israel dengan memperluas kegiatan permukiman di Yerusalem Timur dan mencaplok pemukiman Israel lainnya," tambah al-Hammouri.

Dia mengatakan satu-satunya pilihan yang tersisa bagi rakyat Palestina adalah menetapkan ibu kota mereka di Ramallah dengan menghubungkannya dengan Kafr Aqab, tetapi wacana itu ditentang keras oleh Palestina.

Al-Hammouri menyimpulkan bahwa apa yang umumnya terkandung dalam rencana AS untuk Yerusalem adalah "mimpi terburuk" bagi rakyat Palestina.

*Ahmed Asmar berkontribusi pada berita ini dari Ankara

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.