Berita analisis, Nasional

Di balik meningkatnya angka Covid-19 di Indonesia

Pakar kesehatan masyarakat mewanti-wanti pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan seiring terus menanjaknya jumlah infeksi

Pizaro Gozali Idrus,Nicky Aulia Widadio   | 08.07.2020
Di balik meningkatnya angka Covid-19 di Indonesia Ilustrasi: Tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri. (Yassine Gaidi - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Indonesia hingga kini terus memuncaki daftar negara dengan tingkat infeksi Covid-19 paling tinggi di ASEAN.

Hingga Selasa, pandemi Covid-19 di Indonesia telah menginfeksi lebih dari 66.226 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 3.309 jiwa.

Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19, tingkat infeksi di Indonesia mencapai lebih dari 1.000 dalam satu hari.

Namun, anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengklaim bertambahnya jumlah kasus tidak dapat diartikan bahwa situasi memburuk secara nasional.

Gugus Tugas, kata dia, telah memetakan seluruh wilayah di Indonesia berdasarkan tingkat risiko yang terbagi atas zona hijau (risiko paling rendah), zona kuning, zona oranye, hingga zona merah (risiko paling tinggi).

“Situasi penularan Covid-19 di 514 kabupaten dan kota di Indonesia itu tidak sama, jadi tidak bisa digeneralisasi bahwa semua wilayah kasusnya tinggi,” kata Dewi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Hasil pemetaan itu justru menunjukkan hanya 12 kabupaten dan kota yang memiliki kasus positif lebih dari 1.000 orang, di antaranya DKI Jakarta dan Surabaya.

Sebanyak 38 kabupaten dan kota memiliki 200 hingga 1.000 kasus Covid-19. Selain itu, ada 61 wilayah yang tidak menemukan kasus infeksi dan masuk kategori zona hijau.

“Tapi zona hijau bukan berarti sepenuhnya aman, tetap ada risiko,” tutur Dewi.

Secara nasional, Gugus Tugas juga mengklaim positivity rate kasus Covid-19 di Indonesia menurun meski ada penambahan lebih dari 1.000 kasus baru setiap hari.

Penambahan kasus yang tinggi disebabkan oleh meningkatnya kapasitas tes dari rata-rata 10 ribu tes per hari pada Mei menjadi rata-rata 20 ribu tes per hari pada Juni.

Pada pertengahan Mei, ada 3.448 orang yang positif Covid-19 dalam satu pekan dengan jumlah orang yang diperiksa hanya 26 ribu. Dengan demikian, positivity rate-nya mencapai 13 persen.

Sedangkan pada Juni, ada rata-rata 8 ribu kasus baru dalam satu pekan sementara jumlah orang yang diperiksa mencapai 55 ribu per minggu. Dengan demikian, positivity rate-nya 12 persen.

“Jadi ini tidak bisa dilihat hanya dari penambahan kasus per hari saja, tapi harus dilihat juga jumlah orang yang dites,” ujar dia.

Berpotensi kian parah

Sementara itu, pakar kesehatan masyarakat Universitas Airlangga Laura Navika Yamani mengakui meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia terjadi seiring dengan kapasitas tes yang ikut naik.

Menurut data Gugus Tugas Covid-19, total jumlah tes spesimen yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia mencapai 946.054.

“Selama ini pemeriksaan jumlahnya sedikit, sekarang sudah lebih konsisten,” kata dia.

Namun, Laura menyoroti sejumlah daerah yang mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah meningkatnya pandemi.

Menurut dia, kondisi ini berpotensi memperparah peredaran Covid-19 di Indonesia.

“Pergerakan manusia sudah tidak dibatasi, sumber penularan jadi lebih banyak,” kata dia kepada Anadolu Agency.

Mengacu pada situasi ini, Laura mengatakan Indonesia masih belum aman menerapkan new normal.

Laura juga mewanti-wanti pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan seiring terus menanjaknya jumlah infeksi.

“Apakah fasilitas kesehatan kita sudah siap? Seperti rumah sakit di Surabaya banyak yang overload,” tukas dia.

Menurut Laura, salah satu fasilitas kesehatan yang harus ditambah adalah rumah sakit darurat untuk menampung para pasien baru.

“Percuma menjaring [pasien Covid-19], kalau tidak ada tempat penanganan,” tukas dia.

Dilema pemerintah

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Khairun Yanuardi Syukur menyoroti masyarakat Indonesia yang masih senang bepergian dan berkumpul di masa pandemi.

Situasi ini, kata dia, membuat tingkat pandemi Covid-19 di Indonesia masih terus tinggi di ASEAN.

Yanuardi mengakui pemerintah menghadapi dilema untuk menerapkan lockdown mengingat kondisi ekonomi kita yang begitu lemah.

Maka, opsi PSBB diambil sebagai ‘jalan tengah’ di mana terjadi pembatasan sosial tapi sifatnya fleksibel.

“Dibutuhkan kesadaran semua pihak untuk tertib-sosial dengan mengikuti protokol kesehatan,” ucap dia kepada Anadolu Agency.

Menurut Yanuardi, pemerintah memang belum maksimal bekerja untuk menghentikan pandemi Covid-19.

Video Presiden Joko Widodo yang terlihat marah dengan para menteri dalam sidang kabinet pada 19 Juni lalu menunjukkan banyak para menteri yang tidak serius bekerja.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın